Sumenep Raih Penghargaan Sebagai Kota Keris

foto
Sekjen Senapati Nusantara Hasto Kristiyanto memukul besi tempa untuk membuat keris di Sumenep. Foto: Beritasatu.com.

Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara) Hasto Kristiyanto menyerahkan tiga kategori penghargaan terkait pelestarian sejarah Nusantara. Tiga penghargaan itu adalah Sumenep sebagai Kota Keris, Tokoh Keris, dan Maestro Keris.

Penghargaan diberikan di Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jumat (11/8). Tampak hadir dalam acara tersebut Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, anggota DPR daerah pemilihan Madura Said Abdullah, serta para kolektor dan pelestari keris dari berbagai daerah.

Hasto menyerahkan penghargaan Kota Kers itu kepada Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, lalu penghargaan Tokoh Keris kepada Achmad Fauzi, serta Mukaddam selaku Maestro Keris. Senapati Nusantara menjadi induk paguyuban bagi seluruh pelestari tosan aji se-Indonesia. Melalui Musyawarah Senapati Nusantara pada 26 Februari 2017, Hasto terpilih secara aklamasi menjadi Sekjen.

Hasto menyebutkan, keris merupakan daya cipta yang adiluhung dan keris tidak bisa dihasilkan tanpa roso (rasa). “Sumenep adalah penghasil keris dan memiliki ratusan empu yang luar biasa. Bahkan, keris dari Sumenep diekspor ke Malasyia, Brunei Darussalam, dan Belanda,” ujar Hasto saat memaparkan alasan Senapati Nusantara memberikan penghargaan kepada Sumenep.

Ditambahkan, Sumenep menyimpan tradisi sejarah yang luar biasa. Bahkan, dia mendapat laporan, ada sekitar 6.000 keris diproduksi setiap bulan sebagai mahakarya kebudayaan yang luar biasa. “Ini seharusnya menjadi perhatian dan menjadi energi kita untuk menguatkan tradisi budaya, supaya kita berkepribadian dalam kebudayaan,” ujarnya seperti dilansir Beritasatu.com.

Mengingat kepedulian itulah, Senapati Nusantara memberi apresiasi kepada Pemkab Sumenep yang memberikan kepedulian terhadap produk budaya Indonesia. Atas penghargaan yang diterima, Bupati Sumenep mengatakan, hal itu akan mendorong pihaknya untuk terus ikut membina pengrajin dan melestarikan keris sebagai karya budaya bangsa.

“Penghargaan ini membangkitkan Sumenep agar pengrajin keris lebih menghargai apa yang telah dimiliki. Sebab, keris adalah salah satu potensi Sumenep,” ujar Karim.

Hasto menambahkan, organisasi Senapati Nusantara membuka komunikasi dengan berbagai kementerian, seperti Kemdagri, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM agar potensi produksi keris di Sumenep bahkan di Indonesia bisa ditumbuhkembangkan.

Seusai menyerahkan Penghargaan, Hasto yang juga merupakan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan melihat secara langsung proses pembakaran logam yang menjadi materi dasar keris. Tak hanya menonton, Hasto juga didapuk untuk menempa logam yang sedang membara itu.

Selanjutnya, Hasto juga melakukan tur mengelilingi pameran keris serta berdialog dengan para pengrajin keris. Salah satu panitia, Carto menjelaskan, lebih dari 137 paguyuban keris dihadirkan pada pameran tersebut.

Dia mengutip data Unesco pada 2012 yang menyebutkan jumlah pengrajin keris di Kabupaten Sumenep sebanyak 524 orang. Kemudian, Pemkab Sumenep bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014 melakukan pendataan ulang dan tercatat sebanyak 684 pengrajin keris yang tersebar di tiga kecamatan di Sumenep. “Paguyuban keris se-Kabupaten Sumenep mengharapkan agar ke depan ada galeri atau ruang pamer keris di Sumenep,” ujar Carto. (ist)

Baju Adat Basofian, Warisan Budaya Sang Gubernur

foto
Baju adat Jawatimuran kerap disebut Baju Basofian. Foto: Istimewa.

KABAR duka tersebar luas di jagad maya, berita lelayu atas kepergian salah satu putra terbaik bangsa itu menghentak publik Jawa Timur. Sang Gubernur telah tiada. Meninggalkan beragam kenangan suka duka yang cukup mendalam. Putra pejuang kemerdekaan itu telah meninggalkan kita semua, asal sepi bali marang sepi, kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta.

Basofi Sudirman adalah simbol penyatuan antara ketegasan dan kelembutan sekaligus. Seorang jenderal yang ditempa oleh kerasnya aturan kedisiplinan khas keluarga militer. Di sisi lain jiwa seni Sang Gubernur mengalir deras bak aliran kali Brantas yang membelah propinsi di ujung timur pulau Jawa tersebut.

Lantunan tembang ‘Tidak Semua Laki-Laki’ selalu mengiringi sambutan dan pidato resmi Sang Gubernur dibanyak momentum. Sangat berfungsi guna mencairkan suasana protokoler birokrat yang kerap terjadi pada era kuasa Orde Baru.

Basofi berhasil mengangkat derajat musik dangdut yang sangat digemari masyarakat pinggiran menjadi konsumsi umum segala lapisan. Mantan Gubernur Jawa Timur ini telah berhasil mengharmonisasikan banyak elemen politik dengan cara menyanyi dangdut bersama para stakeholders.

Warisan Sang Gubernur yang tak kalah penting adalah baju adat khas Basofian. Disebut demikian karena hampir di setiap acara resmi Basofi Sudirman selalu menggunakan pakaian adat yang telah didesain ulang sesuai dengan perkembangan jaman tersebut. Pakaian adat ala Basofian merupakan pakaian hasil kreasi baru yang menggabungkan beberapa unsur pakaian adat asli Jawa Timuran.

Baju hitam mewakili unsur Islam Kejawen, yang banyak dianut oleh masyarakat Jatim di pedalaman, pegunungan dan pesisir selatan. Kain jarit bermotif khas pesisiran mewakili unsur tradisi pakaian adat pesisir utara Jawa Timur. Blangkon khas Suroboyoan mewakili unsur budaya subkultur Madura, Jenggala dan Pendalungan.

Rantai jam di saku merupakan simbol persatuan segenap subkultur yang mendiami wilayah Jawa Timur. Jam adalah simbolisasi dari prinsip kerja keras, kerja cerdas dan kerja cepat ala Brang Wetanan.

Sebuah penanda bagi pemakainya yang selalu menghargai waktu, seperti yang tergambar dalam motif ikonik relief Kala di candi-candi Jawa Timuran. Bentuk jam yang bundar mengingatkan akan prinsip Cakramanggilingan khas tradisi Jawa.

Lengan panjang dan kerah pendek mewakili unsur pesantren yang biasa menggunakan pakaian koko, menunjukkan spirit religiusitas yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat di propinsi ini. Kancing baju besar-besar di tengah dada menunjukkan sikap terbuka dan lambang keperwiraan. Mengingatkan kita kepada jargon politik Bung Karno dalam menghadapi bangsa penjajah “ini dadaku, mana dadamu !”

Pakaian yang praktis dan tidak ribet menggambarkan karakter JawaTimuran yang tidak mbulet, selalu berbicara pada inti pokok permasalahan yang ada. Selop adalah model sandal semi sepatu yang mencirikan ketrengginasan orang lapangan, pantas dipakai di acara seremonial ataupun acara santai. Termasuk memudahkan pemakainya jika akan sembahyang di Masjid.

Baju adat Basofian sangat populer di kalangan seniman tradisi. Dipakai oleh dalang, pengrawit, wiraswara, pemain ludruk, pembawa acara (MC), ponang pinanganten kakung (pengantin pria), spiritualis, hingga para pemain hadrah. Sangat pantas dipakai dalam segala situasi seremonial mulai tingkat kampung hingga acara protokoler kenegaraan. Serta sangat layak digunakan oleh para lelaki di semua jenjang umur dan strata sosial.

Baju adat Basofian meleburkan basis massa abangan dan santri dalam satu kesatuan budaya. Baju adat Basofian adalah perlawanan kultural terhadap tesis Clifford Gertz yang membelah pulau Jawa dalam kategorisasi Abangan, Priyayi dan Santri. Baju adat Basofian adalah wujud kecerdasan wong Jawa Timur yang cinta akan persatuan serta tidak mau dibenturkan dengan saudara sendiri se petarangan.

Baju adat Basofian merupakan bukti lapangan bahwa rakyat Jawa Timur bisa menjadi model percontohan persatuan nasional. Baju adat tersebut dipopulerkan oleh Basofi Sudirman mantan Gubernur Jawa Timur. Baju ini merupakan gabungan bentuk dari beskap, surjan, baju koko dan blazer sekaligus. Cara cerdas dalam menangkap kemajuan jaman. (Ditulis Cokro Wibowo Sumarsono di politik.rmol.co)

Tari Gandrung Bakal Tampil di Istana Negara

foto
Ratusan penari Gandrung Banyuwangi bakal tampil di Istana Negara. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Gandrung, tari kebanggaan warga Banyuwangi mendapatkan kehormatan untuk tampil di Istana Negara Jakarta pada acara peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus mendatang.

Hal tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada Kompas.com, Selasa (1/8). Menurutnya, penampilan Tari Gandrung dalam acara resmi nasional merupakan kehormatan bagi warga Banyuwangi.

Tarian yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Bukan Benda oleh Kemendikbud pada 2013 lalu itu sebelumnya juga tampil pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016 di hadapan Presiden Joko Widodo.

“Tampilnya Tari Gandrung di Istana Negara adalah apresiasi tinggi dari pemerintah pusat, dari Presiden, dari kementerian terkait dan Badan Ekonomi Kretif (Bekraf) yang menjadi panitia, terhadap kekayaan seni budaya Nusantara. Artinya kita semua sepakat bahwa keragaman seni budaya nusantara ini bukan menjadi pemecah belah, tapi perekat bangsa,” ujar Anas.

Anas juga menambahkan bahwa dengan diundangnya kesenian daerah ke istana, para seniman yang membawakannya akan mendapatkan pengalaman berharga. Apalagi mayoritas peserta yang tampil adalah anak-anak muda usia SMA.

“Tampil di Istana Negara bisa bisa menjadi spirit bagi anak-anak muda untuk berkarya lebih baik dan lebih keras dalam mengejar mimpi-mimpinya,” papar Anas.

Tari Gandrung adalah tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai “Warisan Budaya Bukan Benda” oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Untuk mengangkat dan melestarikan kesenian daerah, Pemkab Banyuwangi setiap tahunnya menggelar atraksi kolosal Festival Gandrung Sewu.

Lebih dari seribu penari muda Gandrung tampil dalam acara yang selalu digelar di bibir Pantai Boom. Untuk tahun 2017, Festival Gandrung Sewu akan digelar pada 8 Oktober 2017. (ist)

Aksi Bersih-Bersih di Kolam Segaran

foto
Para jupel BPCB Jatim saat membersihkan ganggan di Kolam Segaran, Trowulan, Mojokerto. Foto: Farisma/Radar Mojokerto.

Kelestarian cagar budaya selalu menjadi perhatian khusus Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan. Termasuk situs Kolam Segaran yang sejak setahun terakhir ini banyak ditumbuhi ganggang hijau. Lantas seperti apa kegiatannya?

Hampir sebagian besar pengunjung wisata sejarah dan budaya di Trowulan pasti mengenal Kolam Segaran. Kolam yang terletak tepat di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupten Mojokerto, ini memang menjadi salah satu destinasi primadona yang wajib dikunjungi.

Selain nilai sejarah sebagai bekas peninggalan Kerajaan Majapahit, eksotisme kolam yang tersusun atas tatanan batu bata merah dan luasnya kolam menjadi daya tarik yang cukup diperhitungkan.

Akan tetapi, eksotisme pemandangan itu tampaknya mulai memudar sejak beberapa bulan terakhir. Betapa tidak, isi kolam yang semula tampak bersih dengan puluhan habitat ikan, kini tiba-tiba berubah menjadi kotor dan rusuh. Perubahan itu tak lepas dari munculnya ganggang hijau yang tumbuh subur hingga menutupi seluruh bagian kolam.

Ya, tumbuhnya ganggang hijau atau lumut memang sangat mengganggu kolam yang ditemukan pada tahun 1926 itu. Selain karena bisa merusak situs, tumbuhnya ganggang juga cukup mengganggu ekosistem dan habitat ikan wader yang hidup di kolam berukuran panjang 375 meter dan lebar 175 meter itu.

Situasi ini yang kemudian menggerakkan BPCB sebagai lembaga pelestari cagar budaya pemerintah untuk terjun langsung menyelamatkan situs dari serbuan ganggang hijau, kemarin. Tak kurang dari 350 pegawai BPCB se-Jatim diterjunkan menguras ganggang hijau dari dalam kolam.

Aksi bersih-bersih ini dilakukan oleh semua juru pelihara (jupel) situs yang tersebar se-Jawa Timur (Jatim). “Memang sengaja kita terjunkan semua bertepatan dengan evaluasi jupel se-Jatim. Momentumnya sekalian mumpung berkumpul,” terang Andi Muhammad Said, Kepala BPCB Jatim saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto.

Andi menilai, kondisi Kolam Segaran yang penuh ganggang hijau memang cukup krusial jika tidak secepatnya dibersihkan. Pasalnya, pertumbuhan ganggang yang begitu cepat dinilai akan merusak struktur bagunan situs. Tak hanya itu, tumbuh suburnya lumut juga dinilai mengancam habitat ikan wader yang cukup terkenal sebagai ikan asli penghuni Segaran.

Kondisi ini yang tidak diinginkan BPCB demi menghindari Segaran dari ancaman kerusakan. “Ya kolam itu kan banyak dikunjungi warga. Kalau kondisinya tidak sedap dipandang seperti itu kan jadi banyak pengunjung yang tidak tertarik. Apalagi Segaran itu kan situs paling terkenal, jadi harus dibersihkan setiap saat,” tambahnya.

Said sendiri tak tahu bagaimana ganggang hijau tersebut tumbuh dan muncul memenuhi kolam. Padahal, sejak awal dipugar tahun 1966, kondisi Kolam Segaran selalu bersih dari sampah dan tumbuhan liar lainnya. Akan tetapi, dari anggapan banyak warga di sekitar, kemunculan ganggang tak lepas dari kegiatan para pemancing yang setiap hari mencari ikan di Segaran.

Tertinggalnya lumut sebagai pakan ikan di dalam kolam membuatnya tumbuh subur hingga menyelimuti hampir seluruh volume kolam. “Ini masih anggapan saja, tapi apakah benar ya saya belum menelitinya. Apakah lumut itu juga akan merusak situs juga belum ada uji materinya. Tapi, paling tidak kita ansitipasi dulu,” pungkasnya. (jpr)

Upaya Melestarikan Budaya Tedak Siten

foto

Tak ingin tradisi Jawa punah di tanah asalnya sendiri Nanik Purwanti pemilik katering KitaKita menggelar upacara Tedak Siten bagi cucu pertamanya Nalendra Darren Ananka di rumahnya Graha Famili Surabaya.

Tradisi Jawa sengaja diusung ibu tiga anak, yang tidak ingin budaya Jawa luluh ditengah gencarnya globalisasi di Indonesia. “Supaya masyarakat tahu, jika tradisi budaya Jawa itu sangat agung dan sarat makna,” terang pemilik Hadiningrat Resto itu.

Saat putra dari sulungnya dr Caryr Nurina Sari dan dr Anugerah Wahyu Wicaksono berusia 7 bulan, menggelar upacara tradisional mengundang kenalan dan tetangga sekitar.

Tedak siten memaknai rasa syukur jika cucunya sudah mulai belajar berjalan. Tedak siten yang dimaknai memperkenalkan lingkungan sekitar pada sang cucu terbagi dalam beberapa tahapan.

Awalnya, Alend dituntun ibunya berjalan di atas 7 jadah makanan terbuat dari beras ketan dicampur kelapa, garam dikukus dan dihaluskan. Jadah yang dicetak diberi warna-warni sebagai lambang warna kehidupan.

Injakan pertama dilakukan pada jadah berwarna gelap menuju terang (putih). Maknanya setiap permasalahan yang dihadapi akan ada jalan keluarnya. Angka 7 melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Menyusul Alend dituntun menaiki tangga terbat dari tebu. Pilihan tebu dalam Jawa dimaknai antebing kalbu (mantapnya hati).

Menyusul dituntun diatas pasir dan anak akan mengais dengan kedua kakinya. Harapannya, kelak jika besar sang anak mampu mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Setelah itu barulah Alend dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang isinya berbagai macam benda, mulai dari buku,mainan, makanan, alat musik dan lain sebagainya. Alend ternyata memilih Al Qur’an kecil. Sesuai benda yang diambil, pranata acara menyebutkan semoga kelak Alend bisa mewujudkan apa yang ada dalam isi kitab suci Al Qur’an.

Tahapan terakhir, pemberian uang logam dicampur dengan bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan sang kakek Heru. Ini merupakan simbol agar kelak rejeki Alend berlimpah namun bersifat dermawan.

Barulah sang bayi dimandikan dengan air bunga setaman sebagai simbol sang anak membawa nama harum keluarga. Setelah itu Alend diberi baju bagus dengan harapan akan menjalani hidup yang baik pula

Tahapan demi tahapan Tedak Siten menarik untuk disimak. Pastinya tradisi yang mulai jarang dilakukan itu melambangkan kayanya budaya Jawa. (sak)

Konser 120 Musisi Cilik Banyuwangi yang Memukau

foto
Musisi-musisi cilik Banyuwangi tampil memukau di Lalare Orkestra. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Ribuan penonton memadati Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Sabtu (22/7) malam. Tidak hanya lokal, penonton mancanegara juga tampak antusias. Mereka menyaksikan sebuah konser etnik yang dimainkan 120 anak-anak, Lalare Orkestra.

Saat dibuka, para musikus cilik tersebut langsung menggebrak dengan lagu Banyuwangi, Nandur Gendhing. Tabuhan gendang, pukulan rebana, ketukan angklung dan gesekan biola berpadu dalam sebuah orkestra. 14 komposisi musik etnik yang diaransemen moderen berhasil dimainkan dengan menarik.

Konser ini memang bukan konser musik biasa. Lalare Orkestra ini pemusiknya adalah anak-anak yang masih berusia 3,5 sampai 12 tahun itu, dari yang masih duduk di bangku play group sampai SMP.

Meski belia, mereka berhasil menunjukkan talenta bermusiknya. Bukan hanya lagu Banyuwangi seperti Seblang Lukinto dan Nyerambah Jagat, namun lagu Spanyol Besame Mucho, Ondel-ondel, hingga Yamko Rambe Yamko berhasil dibawakan mereka.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa konser ini adalah partisipasi anak-anak yang murni tumbuh dari bawah dan mandiri.

“Banyuwangi boleh maju, namun tradisi kami tidak boleh dihilangkan. Konser ini salah satu upaya untuk melestarikan tradisi daerah. Saya bangga dengan anak-anak ini,” kata Bupati Anas saat membuka acara tersebut.

Tahun 2016 lalu, Lalare Orkestra berhasil meraih perhargaan internasional Pasific Asia Travel Association (PATA) kategori heritage and culture.

Ditambahkan Anas, di tengah beragam festival yang bercita rasa moderen, seperti jazz, Indonesia Batik Fashion Week dan international tour de Banyuwangi Ijen, Banyuwangi tetap memberikan ruang musik ethik daerah khusus anak-anak untuk eksis.

“Ada konser lalare yang tetap disuguhkan dalam Banyuwangi Festival. Setiap tahun kita hadirkan dengan tema-tema yang berbeda namun tetap bersumber dan berakar dari budaya Banyuwangi,” imbuh Anas.

Tidak hanya bermain musik, mereka juga menampilkan aksi teatrikal komedi. Sehingga penonton tidak hanya terhibur aksi seni mereka, namun juga ikut tergelak dengan canda celoteh dari drama teatrikal yang dimainkan.

Salah satu pemainnya, Hatan Zukfikar mengaku bangga ikut konser ini. Siswa kelas 3 SMPN I Srono. “Senang banget ditonton banyak orang, jadi nambah semangat ikut lagi tahun depan,” katanya dengan semangat.

Kebanggan tersebut juga dirasakan Ilzam Zulandita (12) SMPN 3 Banyuwangi. “Senang sekali ikut konser lalare. Saya memang tertarik dengan musik etnik karena ingin sesuatu yang berbeda, anak sekarang kan lebih seneng moderen, padahal musik etnik juga tak kalah keren loh,” kata Ilzam yang malam itu menjadi pembaca puisi dan membawakan lagu Besame Muco.

Konser ini juga dihadiri Bupati Sampang Fadhilah Budiono yang kebetulan sedang melakukan studi banding ke Banyuwangi masalah pariwisata dan masalah pengelolaan pemerintahan lainnya.

Meski berlangsung hingga larut malam, konser etnik tetap dipenuhi penonton. Mereka sangat menikmati pertunjukan. Konser ini pun ditutup dengan lagu Maju Tak Gentar, yang menggambarkan tekad untuk memajukan Banyuwangi. (sak)

165 Cerita Rakyat jadi Teks Pendamping Sekolah

foto
Mendikbud Muhadjir Effendy memberikan penghargaan ke sejumlah sastrawan nasional saat MUNSI II. Foto: Kemdikbud.go.id.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyadur sebanyak 165 buku cerita rakyat. Buku saduran itu akan digunakan sebagai buku pendamping dari buku teks yang dipergunakan di sekolah, dan masyarakat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan buku cerita rakyat dapat menjadi sarana Penguatan Pendidikan Karakter. Dengan membaca buku cerita rakyat, para siswa dapat mengambil pesan yang baik dari buku tersebut.

“Saya sangat yakin melalui buku cerita dan karya-karya sastra, pendidikan karakter yang diidamkan oleh seluruh masyarakat bisa tercapai. Salah satu pendekatan itu adalah dengan membaca karya sastra yang mengandung pesan yang baik,” ujar Mendikbud Muhadjir saat Pembukaan Musyawarah Sastrawan Nasional Indonesia (MUNSI) II, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menteri Muhadjir mengungkapkan, buku itu telah melalui pemeriksaan kualitas dari Tim Penilaian Pusat Perbukuan sehingga layak diberikan kepada masyarakat dan peserta didik.

Saat pendistribusian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bekerjasama dengan Kementerian Sekretariat Negara. “Sekretariat Negara akan menerbitkan 28 judul buku dari 165 buku, dan akan digandakan sebanyak 30.000 eksemplar, untuk dibagikan pada acara kunjungan kerja presiden ke seluruh tanah air dan safari rohani,” ujar Menteri Muhadjir melalui rilis Humas Kemdikbud

Msyawarah Sastrawan Indonesia (MUNSI) II adalah perhelatan yang menghimpun 180 orang sastrawan berprestasi dari seluruh Indonesia, dari 18-20 Juli 2017 lalu. Mereka berasal dari sastrawan hasil seleksi karya, sastrawan penyumbang puisi dalam Antologi Puisi Munsi 2016, dan undangan, pelaksana program Sastrawan Berkarya di Daerah 3T; pemenang penghargaan Badan Bahasa; dan pegiat sastra.

Perhelatan ini membahas tema Sastra sebagai Penjaga Kebhinekaan Indonesia melalui ceramah kesastraan yang terdiri atas tiga panel, diskusi kelompok, dan pentas sastra.

Adapun hasil diskusi berupa langkah-langkah memajukan karya sastra Indonesia yang berkualitas; karya sastra Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat di negeri sendiri; terjemahan karya sastra Indonesia ke berbagai bahasa asing; karya sastra Indonesia tersebar ke kancah internasional; dan karya sastra Indonesia sebagai pengingat dan pengikat keberagaman etnik di Indonesia. (sak)

Jember Fashion Carnival Diboyong ke Jakarta

foto
Event Jember Fashion Carnival semakin menasional. Foto: Jemberfashioncarnival.com.

Karnaval busana tiap tahun digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yaitu Jember Fashion Carnival akan diadakan di Jakarta pada 15 dan 17 Agustus 2017 sebagai bagian acara belanja diskon nasional, Hari Belanja Diskon Indonesia.

Hari Belanja Diskon atau HBD Indonesia yang diselenggarakan pelaku industri ritel tergabung dalam Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan lndonesia (HIPPINDO) merupakan pesta belanja diskon di pusat-pusat perbelanjaan berbagai kota di Indonesia, untuk memeriahkan HUT Ke-72 Republik Indonesia.

“Selain menawarkan promosi belanja, HBD Indonesia juga menggelar acara spesial seperti upacara bendera 17 Agustus oleh para anggota Hippindo, perlombaan khas 17 Agustus, bahkan Jember Fashion Carnival akan kami undang ke Jakarta pada 15 dan 17 Agustus 2017 di Gambir Expo Jakarta,” kata Ketua Panitia HBD Indonesia Fetty Kwartati saat konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Senin (17/7).

Fetty seperti dikutip Antarajatim.com, menjelaskan HBD Indonesia akan diadakan di pusat-pusat perbelanjaan berbagai kota di Indonesia mulai dari mal modern, rumah toko hingga bandara pada 17 sampai 20 Agustus 2017 dengan program dan potongan harga yang sama.

Selain itu, acara juga dimeriahkan festival belanja akbar bertajuk “Happy Birthday Indonesia Festival” dengan beragam hiburan dan acara pada 15-27 Agustus 2017 di Gambir Expo, JI-Expo Kemayoran, Jakarta.

HBD Indonesia ditargetkan menarik 20 juta orang pembeli serta menjadi festival belanja, kuliner, musik dan hiburan ritel terbesar di Indonesia diikuti lebih dari 200 perusahaan yang mengelola 500 merek lokal dan internasional.

Peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia menjadi inspirasi para peritel dalam menarik konsumen di HBD Indonesia. Para konsumen akan memperoleh berbagai promosi yang terkait dengan angka 72 yang ditawarkan oleh para peritel agar berpartisipasi, antara lain diskon hingga 72 persen, harga khusus Rp 72.000, hingga beli 2 dengan hanya membayar Rp 72.000.

Bank Mandiri sebagai salah satu sponsor mendukung penuh pelaksanaan HBD Indonesia dengan menyediakan berbagai kemudahan dan keuntungan tambahan untuk pengunjung dan nasabah Bank Mandiri.

Nasabah dapat menikmati tambahan potongan harga menggunakan debit, kartu kredit, e-Money, dan e-Cash, fiestapoin, cicilan bunga 0 persen hingga 12 bulan dengan menggunakan kartu kredit. Acara akbar itu rencananya akan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 15 Agustus 2017. (ant)

Cak Nur Resmi Daftar Cagub lewat Demokrat

Surabaya – Ketua Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur Drs Nurwiyatno MSi akhirnya resmi mendaftar sebagai calon gubernur (Cagub) sekaligus calon wakil gubernur (cawagub) Jatim periode 2018-2023 melalui Partai Demokrat. Cak Nur, sapaan akrab Nurwiyatno,  mengambil formulir di kantor DPD Partai Demokrat Jatim di Jalan Kertajaya Indah dengan diantar ratusan seniman dan pemuda yang mendukungnya, Minggu (16/7) siang.

Cak Nur diarak pendukungnya di depan kantor DPD Partai Demokrat Jatim, Jalan Kertajaya Indah, Surabaya, Minggu (16/7)

Mantan pejabat Walikota Surabaya yang mengenakan hem putih dan bawahan hitam itu diarak dengan menaiki jeep bak terbuka. Dalam arak-arakan pendukung yang mengenakan pin bergambar Cak Nur Gubernur mulai depan Lapangan KONI hingga ke markas Partai Demokrat Jatim itu dimainkan kesenian Barongan sumbangan seniman-seniman asal Tulungagung dan Kediri. Ada pula kesenian Bantengan dari Pandaan dan Mojokerto, musik patrol dari Gresik dan Surabaya, serta penampilan teater puluhan seniman gabungan.

“Kami mohon doa restu ke masyarakat dan menyatakan diri siap maju sebagai bakal calon Gubernur Jatim untuk ikut di Pilkada 2018 ,” ucap Cak Nur kepada wartawan di sela-sela pengambilan formulir pendaftaran cagub-cawagub.

Keinginan maju pilgub ini, lanjut Cak Nur,  karena ingin meneruskan program pembangunan yang sudah 10 tahun dijalankan Gubernur Soekarwo yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jatim. “Saya banyak belajar dari beliau. Saya hanya ingin meneruskan program pembangunan beliau. Kebetulan kami sama-sama kader GMNI dan berlatar belakang birokrat,” jelas pria yang saat ini menjabat Kepala Inspektorat Provinsi Jatim itu.

Dalam kesempatan itu, Cak Nur menegaskan dirinya siap mundur dari jabatannya apabila resmi dicalonkan sebagai cagub/cawagub dalam Pilgub Jatim 2018. “Saya siap mencopot jabatan saya demi Jawa Timur,” ujar pejabat yang sudah 34 tahun berkarir di birokrasi ini.

Setelah (mendaftar) ini, saya akan membentuk tim untuk mengondisikan (dukungan),” jelasnya. Salah satunya dengan melakukan komunikasi bersama seluruh elemen. Seperti generasi muda, dan beberapa elite partai yang ada di Jatim. Kendati diakui dia, hingga saat ini belum sempurna terbentuk visi dan misi yang bakal diusungnya dalam pertarungan menuju Grahadi-1.

“Soal visi dan misi perlu ada pembahasan antara saya dengan para pendukung. Visi dan misi nanti bagaimana yang baik. Jangan sampai keluar, tapi tidak bagus. Jadi tidak bisa sembarangan, karena menyangkut masyarakat Jatim,” papar birokrat kawakan pemprov itu.

Nurwiyatno adalah orang ketiga yang mendaftar mengambil formulir di Partai Demokrat Jatim. Sebelumnya, Saifullah Yusuf (Wagub Jatim) dan Nur Hayati Aasegaf (Waketum Partai Demokrat) sudah mengambil lebih dulu.

Partai Demokrat Jatim membuka pendaftaran cagub dan cawagub Jatim untuk Pilkada 2018 sejak 12 Juli lalu dan ditutup pada 31 Juli mendatang.

Meriahnya prosesi pendaftaran Cak Nur sebagai cagub ini, lanjut Sekretaris PA GMNI Jatim Ony Setiawan, merupakan wujud dukungan riil para seniman dan pemuda di Jatim. “Mereka menghargai terhadap komitmen Cak Nur terhadap para seniman di Jatim,” jelas Ony.

Penampilan kesenian yang dipimpin Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Monyong tersebut menceritakan tentang perjuangan rakyat dalam meraih kemenangan dan merebut kemerdekaan “Tanah Air”.

Ony menerangkan, ada tiga alasan kenapa Cak Nur maju pilgub.
Pertama, Nurwiyatno adalah birokrat senior di pemprov Jatim sehingga sangat paham dengan berbagai persolan pemerintahan daerah di Jatim.
Kedua, Nurwiyatno dinilai mampu melakukan komunikasi politik dengan berbagai parpol di Jatim. Hal ini dapat dibuktikan pada para anggota DPRD provinsi Jatim (sebagai reprentasi parpol yang ada di lembaga legislatif) yang mengenal baik sosok Cak Nur ini.

“Ketiga, Nurwiyatno, adalah mantan aktivis yang tergabung dalam GMNI di Universitas Jember dan sekarang menjadi Ketua PA GMNI Jatim yang diakui memiliki jaringan politik yang cukup luas di Jawa Timur,” tuturnya.

Pria kelahiran Surabaya 10 September 1958 itu telah menyerahkan dan menandatangani sejumlah persyaratan adminitrasi, seperti formulir pendaftaran, daftar riwayat hidup, salinan identitas dan sejumlah dokumen lainnya.

Saat mendaftar Cak Nur diterima Sekretaris PD Demokrat Jatim Renville Antonio, Wakil Ketua selaku Koordinator Divisi Pendaftaran, Adminitrasi dan Koordinasi Wilayah Maskur dan pengurus struktural lainnya.

Sementara itu, Renville Antonio mengapresiasi proses pendaftaran Cak Nur sebagai bacagub dan berharap kelengkapan persyaratan lainnya diserahkan sebelum 31 Juli 2017 atau bersamaan dengan penutupan pendaftaran. “Setelah ini kami akan memproses dan verifikasi kelengkapan, kemudian diserahkan ke majelis tinggi dan selanjutnya menunggu keputusan dari pusat,” kata anggota DPRD Jatim tersebut.

Karir organisasi Cak Nur adalah Ketua PD PA GMNI Jatim 2015-2020. Sebelumnya dia menjabat Wakil Bendahara Pengurus Pusat PA GMNI 2010-2015 yang dipimpin Pakde Karwo. Semasa kuliah, dia aktif sebagai kader GMNI di Universitas Jember.

Sementara di birokrasi Pemprov Jatim, Cak Nur tercatat bertugas selama 24 tahun di Inspektorat mulai menjadi staf hingga sekretaris. Kemudian, 7 tahun pernah menjabat sebagai Kepala Biro Keuangan Pemprov (era Gubernur Imam Utomo) dan Kepala BPKAD Jatim (era Pakde Karwo periode pertama). Cak Nur juga pernah mengincipi menjadi Pj Walikota Surabaya (5,5 bulan) sejak September 2015. Dan, sejak tahun 2015 hingga saat ini menjadi Inspektur Provinsi Jatim.

(Sumber : kompas, antara jatim, radar jawapos)

Kredit Sektor UMKM di Jatim Meningkat Pesat

SURABAYA – Kucuran kredit perbankan di Jawa Timur (Jatim) selama triwulan I/2017 tercatat naik 7,9% dibanding periode sama tahun lalu menjadi sebesar Rp 458 triliun. Sedangkan besaran kredit untuk sektor usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) tercatat Rp127 triliun, naik 22,26% dibanding periode sama tahun lalu.

Dari total kredit UMKM tersebut, data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Jatim menunjukkan, untuk kredit mikro sebesar Rp27 triliun, turun 3,09%, kecil Rp37 triliun, tumbuh 0,89% dan menengah sebesar Rp63 triliun, tumbuh 20,88%.

Kredit UMKM mayoritas didorong dari peningkatan kredit investasi dan kredit modal kerja serta sektor pertanian. “Industri pengolahan dan sektor konstruksi juga berkontribusi besar dalam peningkatan kredit sektor UMKM,” kata Kepala KPBI Jatim, Difi Ahmad Johansyah. Lanjutkan membaca “Kredit Sektor UMKM di Jatim Meningkat Pesat”