Perjuangkan Pesona Budaya Lokal yang Mendunia

foto
Marifatul Kamila berharap pesona budaya lokal Banyuwangi dapat meningkatkan peran serta anak-anak muda di bidang kreatif. Foto: Tribunnews.com.

Dimata seorang seniman, warna bisa dijadikan ikon dan juru bicara kebudayaan yang memiliki kekuatan simbolik. “Alam di sekitar kita menyajikan warna-warni yang sangat kaya. Dari situ kita mengidentifikasi persepsi manusia terhadap warna-warni benda yang ada di alam, kemudian kita tuangkan dalam berbagai bentuk karya, diantaranya melalui seni Batik,” ungkap Marifatul Kamila SH, belum lama ini.

Menurutnya, warna memiliki korelasi dengan karakter individu dan kebangsaan. Sebuah institusi bisnis, misalnya, biasanya mempunyai corporate color. Negara memiliki color of nation yang umumnya tercermin di bendera Nasional mereka.

“Partai-partai politik menggunakan simbol-simbol warna untuk menunjukkan identitas dan eksistensi di benak para pengikutnya,” jelas Marifatul Kamila yang juga anggota DPRD Banyuwangi ini seperti dilaporkan Tribunnews.com.

Perempuan kelahiran 31 Juli 1973 ini, adalah satu dari sekian banyak seniman Batik yang ada di kota paling ujung Timur pulau Jawa. Melalui seni Batik, Ifa, demikian sapaan akrabnya, ingin mengenalkan Banyuwangi pada dunia.

“Batik Banyuwangi harus dikenal dan bahkan harus lebih populer di banding karya Batik dari daerah lain. Saya ingin Batik Banyuwangi di kenal di seluruh dunia,” ujar pendiri dan pemilik Rumah Batik Kharisma Banyuwangi, dengan belasan pengrajin Batik ini.

Batik Kharisma kini tidak hanya di pasarkan di Banyuwangi dan kota-kota di Jawa Timur dan sekitarnya, melainkan juga terdistribusi hingga ke Bali dan Jakarta. Untuk produk-produk tertentu, terang Ifa, Batik Kharisma juga dibeli dan menjadi koleksi warga mancanegara yang berkunjung ke Bali dan Banyuwangi.

Pengukuhan Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, setidaknya kian membuka peluang pasar Batik di mancanegara. Bagi Ifa, membatik bukan hanya kegiatan bersifat ekonomis, melainkan juga kegiatan budaya, serta dapat dijadikan sarana pembentukan karakter.

Pendidikan karakter bangsa, kata Ifa, harus menjadi dasar bagi terwujudnya spirit kebangsaan. Hal ini salah satunya dapat dihasilkan melalui pemberdayaan kultural (Seni Membatik).

“Sekarang ini teknologi informasi (IT) makin canggih. Pemanfaatan IT tidak bisa ditawar. Tapi tidak boleh melupakan akar budaya. Iptek harus tumbuh berbasis kultural agar menghasilkan kesejahteraan sesuai peradaban bangsa. Salah satunya kami tanamkan melalui kriya Batik,” kata perempuan yang pernah membintangi Film Televisi Produksi Lokal Banyuwangi ‘Tak Selamanya Putih’ dan ‘Sritanjung Sidopekso’ ini.

Apa yang diupayakan Ifa, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Banyuwangi, yang kini terus menggiatkan masyarakatnya melalui berbagai event kebudayaan.

Sejak penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival tahun 2011, kegairahan masyarakat Banyuwangi seakan tak terbendung untuk mengangkat potensi dan budaya daerahnya, baik melalui kegiatan yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.

Pemberdayaan generasi muda sebagai frontliner untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia sangat dibutuhkan. Hal ini untuk mempercepat kemajuan industri berbasis budaya dan pariwisata Indonesia di masa mendatang.

Oleh karena itu, Ifa berharap pesona budaya lokal Banyuwangi ini dapat meningkatkan peran serta anak-anak muda di bidang kreatif. “Generasi muda harus menjadi elemen penting. Apabila generasi mudanya memiliki kualitas unggul dalam memajukan budaya daerah yang didasarkan pada keimanan dan akhlak mulia, insya Allah bangsa ini akan besar,” ujarnya optimis. (ist)

Ritual Keduk Beji di Ngawi Makin Mentradisi

foto
Ritual budaya Keduk Beji di Ngawi. Foto: Siagaindonesia.com.

Ritual tahunan akan budaya ‘Keduk Beji’ di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang digelar secara turun temurun oleh warga sekitar kali ini dikemas berbeda dari tahun sebelumnya. Salah satu budaya asli bumi orek-orek Ngawi ini terlihat makin mentradisi terbukti cukup diminati para pengunjung untuk melihatnya.

“Adanya ritual adat Keduk Beji ini kita harapkan semua elemen masyarakat harus melestarikan terutama warga Desa Tawun. Karena apa ritual yang sudah turun temurun ini harus diwariskan ke anak cucu kita nanti agar mereka tahu akan budaya yang dimiliki terlebih 2017 ini sebagai tahun kunjungan wisata atau Visit Ngawi Years,” terang Ony Anwar, Wakil Bupati Ngawi yang hadir di lokasi, Selasa (04/07) lalu.

Jelasnya, saat ini potensi budaya lokal memang dirasakan makin minus dan tergerus budaya global. Adanya Keduk Beji sebagai satu wahana budaya yang harus dikedepankan sebagai bagian identitas daerah.

“Setiap daerah mempunyai ikon khas akan budaya seperti grebek suro yang ada di daerah lain. Dan di Ngawi ini setidaknya ada Keduk Beji dan menjadi satu pertanyaan apabila kegiatan yang sudah mentradisi ini terkikis oleh budaya luar. Kewajiban kita tidak lain adalah melestarikanya,” bebernya kepada SiagaIndonesia.com.

Sementara terkait tradisi Keduk Beji dari berbagai sumber yang ada memang menyebutkan selalu digelar pada hari Selasa Kliwon atau yang biasa digelar setiap masa panen raya selesai. Ritual itu digelar sebagai sarana penghormatan kepada Eyang Ludro Joyo atas sumber penghidupan Keduk Beji.

Prosesi upacara adat ini di awali ratusan warga Desa Tawun berkumpul di sumber berukuran 20 x 30 meter. Ritual dimulai dengan melakukan pengerukan atau pembersihan kotoran dengan mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori sumber mata air Beji yang berada di Desa Tawun.

Kemudian Supomo selaku sesepuh Desa Tawun selaku juru silep atau juru selam yang sudah dikenal ini mengatakan, upacara Keduk Beji ini, merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu. Tujuan utamanya adalah mengeduk atau membersihkan Sumber Beji dari kotoran.

Menurutnya, inti dari ritual Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi yang berisi air legen di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber Beji sendiri. Ritual ini berawal dari (legenda) warisan Eyang Ludro Joyo yang dulu pernah bertapa di Sumber Beji untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup.

Setelah bertapa lama, tepat di hari Selasa Kliwon, jasad Eyang Ludro Joyo dipercaya hilang dan timbulah air sumber ini. Ritual ini berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh pemuda desa terjun ke air sumber untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir. (ist)

Dibuka Program Seniman Mengajar Gelombang 2

foto
Ada kesempatan seniman mengajar kesenian kepada masyarakat/ komunitas/ sanggar di daerah 3T. Foto: Istimewa.

Kemendikbud melalui Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan, kembali membuka pendaftaran untuk program Seniman Mengajar, yaitu program seniman mengajar kesenian kepada masyarakat/ komunitas/ sanggar yang berada di daerah dengan predikat 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang berada di Indonesia.

Kegiatan Seniman mengajar tahap 2 untuk akan dilaksanakan di tujuh daerah 3T, yaitu di wilayah Bengkulu Tengah; Bulungan, Kalimantan Utara; Pulau Morotai, Sulawesi Tenggara; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Tanjung Lesung, Banten; Mandalika, Nusa Tenggara Barat; dan Danau Toba, Sumatera Utara.

“Kegiatan ini berlaku khusus bagi seniman yang peduli, bermental tangguh, siap mengambil tantangan dan bernyali terhadap kondisi di daerah 3T,” bunyi siaran pers Kemendikbud, Senin (10/7).

Pendaftaran program seniman mengajar ini dibuka mulai 5 Juli hingga 20 Juli 2017 melalui laman http://senimanmengajar.kemdikbud.go.id. Pengumuman hasil seleksi akan dilaksanakan pada 27 Juli 2017, sementara pelaksanaan kegiatan Seniman Mengajar tahap 2 akan berlangsung pada tanggal 4 Agustus hingga 7 September 2017.

Para peminat harus memenuhi persyaratan, antara lain usia 30–60 tahun, bukan PNS, profesional dan berdedikasi tinggi terhadap seni, memiliki pengalaman berkesenian minimal 5 tahun dalam berkesenian.

Serta mampu beradaptasi dengan lingkungan di lokasi mengajar, dapat berkomunikasi dengan baik dan aktif, sehat jasmani dan rohani, menguasai management seni, pengemasan seni dan penggalian kesenian lokal, serta belum pernah mengikuti kegiatan Seniman Mengajar.

Para peminat yang terpilih memperoleh hak berupa insentif, sertifikat, sarana pendukung/ keperluan belajar, akomodasi (tinggal bersama masyarakat setempat) dan konsumsi, serta transportasi dari daerah asal ke lokasi kegiatan dan transportasi di lokasi kegiatan.

Disebutkan juga menyebutkan, kegiatan Seniman Mengajar bertujuan menggali potensi kearifan lokal daerah, menjalin jejaring antara seniman dengan masyarakat/pelaku seni/komunitas/budayawan untuk mengangkat kembali dan mengembangkan kesenian daerah melalui lima bidang seni yaitu seni tari, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media.

Sebelumnya, Seniman Mengajar tahap 1 telah berlangsung pada Mei 2017 di tiga daerah 3T, yaitu Natuna, Kepulauan Riau; Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; dan Belu, Nusa Tenggara Timur.

“Dengan program ini masyarakat di daerah 3T dapat terbuka wawasannya dan dapat menjalin kerja sama dengan para seniman sehingga dapat meningkatkan kualitas ekspresi seni dan penguatan identitas budaya di daerah 3T,” bunyi siaran pers itu.

Dalam melaksanakan program Seniman Mengajar ditekankan prinsip–prinsip : partisipatif, dialogis, dan transformasi. Format kegiatan residensi seniman dalam kurun waktu yang ditentukan dengan target paket kegiatan selesai. Seniman berbagi ilmu dan keahlian dengan seniman lokal yang mewakili sanggar/ komunitas. (sak)

Ditemukan Uang Emas Asli Banyuwangi

foto
Uang emas diduga asli Banyuwangi. Foto: Tempo/Maya Ayu.

Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banyuwangi menemukan empat keping uang emas yang diduga asli berasal dari daerah setempat.

Praktisi logam Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi Bonavita Budi Wijayanto menjelaskan dugaan ini sangat kuat karena motif yang terukir dalam uang emas itu belum pernah ditemukan di koin-koin lainnya.

“Saya sangat yakin itu asli Blambangan (sebutan untuk Kabupaten Banyuwangi),” ujar Bonavita saat ditemui Tempo di Banyuwangi, Senin (3/7).

Empat keping uang emas yang ditemukan di Desa Tlogosari, Banyuwangi, itu berbentuk pipih. Satu bunga besar tampak terukir di tengah. Bunga-bunga kecil mengitari sekelilingnya.

Menurut Bonavita keping uang ini tak sengaja ditemukan. Awalnya, timnya berniat mencari keping uang gobok atau uang Cina yang banyak beredar di abad ke-12 hingga ke-16 Masehi.

Pada 2015, praktisi barang antik Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi Winarso Yusuf Sumardi bertemu dengan seorang warga Desa Tlogosari bernama Katirin. Kepada Winarso, Katirin menceritakan bahwa dulu di dekat rumahnya ada orang yang menemukan uang gobok.

Namun, karena zaman dahulu orang masih percaya klenik, uang-uang itu dikubur kembali lantaran banyak bayi menangis saat uang itu dibawa pulang.

Beberapa pekan kemudian, Winarso dan Bonavita memutuskan untuk mencari keping uang gobok itu. Keduanya lantas menemui Katirin untuk meminta petunjuk lokasi uang gobok ditemukan.

“Dengan bantuan alat pendeteksi anomali bawah tanah, ternyata betul ada dari lokasi yang ditunjuk Pak Katirin,” kata Bonavita seperti dikutip Tempo.co.

Saat pertama kali terdeteksi, rupanya tim hanya menemukan bokor persembahan yang terbuat dari perunggu. Kondisinya sudah terpatina sehingga warna perunggu yang seharusnya merah dan kuning keemasan berubah menjadi biru kehijauan. “Itu menunjukkan benda itu sudah tertanam dan berusia ratusan tahun,” ujar Bonavita.

Sekitar 10 meter dari titik ditemukannya bokor, tim akhirnya menemukan ribuan keping uang gobok. Tak jauh, alat pendeteksi anomali bawah tanah kembali berbunyi dan tim menemukan pasu atau tempat air yang terbuat dari perunggu.

Di dalam pasu itu, tim menemukan mangkuk-mangkuk kecil yang biasa disebut cupu lengkap dengan tutupnya. Bonavita menerangkan pasu dan cupu itu berasal dari Dinasti Ming Cina yang menunjukkan dibuat pada abad 14 hingga 16 Masehi.

“Setelah diangkat, di dalamnya ditemukan empat keping uang emas,” ujar Bonavita. “Kami yakin itu uang karena bukan berbentuk perhiasan.”

Menurut Bonavita, motif keping uang yang ditemukan itu sangat langka dan unik. Motif uang itu tak ada di British Museum yang memiliki koleksi 13 ribu keping uang di seluruh penjuru dunia.

“Kami ambil referensi dari Museum Nasional dan dicocokkan dengan data tujuh koin emas yang ditemukan di Indonesia ternyata juga tidak sama,” katanya.

Akhirnya, Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi menyimpulkan bahwa uang emas ini adalah varian baru mata uang emas yang ada di wilayah Banyuwangi. “Ini bisa memperkaya inventaris mata uang nusantara,” ucap dia. (ist)

Tradisi dan Musik Islam di Nusantara

foto
Anne K Rasmussen memainkan musik gambus dan bernyanyi syair Arab. Foto: Terakota/Eko Widianto.

Sekitar seratusan anak muda dan pegiat lembaga seniman dan budayawan muslim Indonesia (Lesbumi) duduk meriung di selasar kantor Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang.

Mengakhiri bulan ramadan, dengan menggelar tadarus budaya yang melibatkan sejumlah pegiat ikatan seni hadrah (Ishari) Kota Malang memegang rebana, memukul dan memainkan sembari bersalawat.

Mereka bermain dan menerangkan secara filosofis tentang hubungan seni dan religi. Guru besar etnomusikologi University of California Los Angeles (UCLA) Anne K Rasmussen memperhatikan dan berdialog dengan mereka.

Serta menggali kesenian yang digali dan berkembang dalam tradisi Islam di nusantara. Anne tengah melakukan penelitian dan bakal menyusun buku kesenian dan musik Islami di nusantara.

Katib Majelis Hadi Ishari Cabang Malang, Nur Asmari menjelaskan Ishari berdiri sejak 1924 atau dua tahun sebelum Nahdlatul Ulama berdiri. Awalnya beranama Jam’iyyah Hadrah atau kelompok kesenian rebana.

Mereka memadukan bunyi rebanan, tepuk tangan dan sambil membaca Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al Hadroh tentang sejarah lahir dan perjuangan Nabi Muhammad. “Jam’iyyah didirikan Kiai Haji Abdurrokhim bin Abdul Hadi di Pasuruan,” katanya. terperti dikutip Terakota.id.

Abdurrokhim belajar dari Habib Syekh Boto Putih Surabaya, seorang ulama keturunan Yaman. Ishari, katanya, dikembangkan dari musik tradisi yang dimainkan Habib Syekh. Setiap pukulan rebana, katanya, berirama lazimnya berdzikir.

Saat bermain rebana, mereka bisa berjam-jam. Bahkan sambil membaca Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al Hadroh bisa dilakukan selama lima jam. Dalam sebuah pertunjukan, sedikitnya dilakukan sebanyak 50 orang. Sampai saat ini Pasuruan menjadi daerah yang paling banyak kelompok dan terus berkembang.

Sedang di Malang, mengalami jatuh bangun dalam mengembankan kesenian yang digali dan berkembang di nusantara ini. Pada medio 80-an, banyak berdiri kelompok seni hadrah tersebut. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar lima kelompok seni hadrah. Seni hadrah ini bermain berdasarkan pakem dan tak dimungkinkan ada kreasi.

Bersalawat dengan Seni
Jika membaca salawat saja, katanya, akan bosan dan menjemukan. Sedangkan saat membaca salawat dengan seni menjadi lebih khusuk dan sekaligus menjadi seni pertunjukan religi. Ishari, ditampilkan dalam beragam kegiatan tahunan seperti haul ulama besar atau saat Maulid Nabi.

Ketua PCNU Kota Malang, Isroqunnajah menjelaskan jika penyebaran Islam di nusantara berkembang dengan tetap mempertahankan seni dan tradisi. Wali songo, katanya, yang menyebarkan Islam justru memanfaatkan kesenian untuk berdakwah. “Wali Songo tak pernah menghancurkan peradaban, kesenian, situs dan candi,” katanya.

Sehingga budaya lokal terus tumbuh dan berkembang. Ketua Pengurus Pusat Lesbumi, Kiai Haji Agus Sunyoto mengatakan perkembangan Islam di nusantara tak bisa dilepaskan dari kesenian tradisi. Pada jaman Wali Songo, katanya, diciptakan tarian, dan lagu yang digunakan dalam siar agama Islam.

Dalam sejarah perkembangan Islam, kata Agus, Toriqot Arrifaiyah menggunakan rebana dan terbang untuk mengiringi berdzikir. Sedangkan untuk menguji kekhusukan dan konsentrasi pimpinan Toriqot Syekh Ahmad Rifai dalam berdzikir, para jamaah dibakar, ditusuk jarum dan dipatok ular berbisa.

Jika jamaah masih merasakan kesakitan berarti belum khusuk dalam berdzikir. “Setelah berkembang di Indonesia, menjadi kesenian debus,” katanya.

Sehingga menjadi kesenian pertunjukan. Termasuk Hadrah, yang berkembang dan dibawa imigran muslim dari Yaman. Dikenal dengan istilah Yaman Music Orchrestra. Kesenian ini berkembang, katanya, berkaitan dengan toriqot.

Sementara, di Jawa juga berkembang dengan menggali potensi tradisi salawatan mataraman dengan langgam Jawa. Tradisi itu, menjadi bagian dari adaptasi salawatan. Sedangkan di Malang berkembang seni salawatan khas yang terkenal dengan sebutan terbang jidor.

Kesenian itu dibawa pengikut Diponegoro yang tak mau tunduk kepada Belanda. Mereka menyingkir dan menempati pesisir selatan Malang sampai Banyuwangi. “Seni Hadrah merupakan seni bersifat sufistik,” katanya.

Selain itu, beragam kesenian yang berkembang di nusantara yang berkaitan dengan penyebaran Islam. Menurut Agus Sunyoto, Gamelan dan wayang merupakan kesenian tradisi yang berkembang di jalam perkembangan Islam. “Jaman Majapahit tak ada wayang dan gamelan. Itu tradisi Islam dikembangkan Wali Songo,” katanya.

Pengaruh Budaya Arab
Guru besar etnomusikologi UCLA Anne K Rasmussen meneliti seni musik dan perempuan dalam tradisi Islam. Dia meneliti di Mesir, Yunani dan Lebanon selama 25 tahun saat menjalani pendidikan doktoral di UCLA sejak 1995. Dia meneliti dan menulis buku yang berkaitan dengan kesenian tradisi Islam.

Dia harus beralajar Bahasa Arab untuk meneliti kesenian di Arab. Telinganya akrab dengan pukulan perkusi aneka musik tradional Arab. Selama di Indonesia sejak 1996, dia melakukan kajian mendalam tentang Islam.

Berawal dari belajar seni baca Al Quran di Institut Ilmu Al-Qur’an. Dilanjutkan dengan bersafari ke sejumlah pesantren di Jombang, Gontor, Jember dan Sumatera.

“Seorang Qori pasti memiliki jiwa seni, suka menyanyi dan bersalawat. Seni pertunjukan, dan lagu sangat berkaitan,” katanya. Dia jumlah sempat mengikuti Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng dalam lawatan dan tur ke seluruh daerah pada medio 1999-2004. “NU merupakan kunci untuk kebudayaan Islam di Indonesia,” katanya.

Kesenian dan budaya tumbuh dan berkembang di bawah NU. NU, katanya, terbuka untuk mengembangkan musik dan tradisi budaya nusantara. Bahkan juga terbuka untuk suara perempuan sehingga NU penting untuk penelitiannya.

Dia tengah menyelesaikan buku hasil penelitiannya. Tahun depan akan diluncurkan buku hasil penelitiannya berjudul perempuan, islam dan seni musik di Indonesia. Beragam kesenian musik nusantara berkembang yang dipengaruhi oleh musik dari Timur Tengah.

Lantaran pada 1950-1960 banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir dan belajar seni musik di sana. “Musik Melayu meminjam melodi dari Arab. Seperti lagu berjudul pengantin baru, khas melodi Arab,” ujarnya.

Anne juga menunjukkan kemampuan memainkan musik gambus dengan menyanyikan lirik berbahasa Arab. Selama 20 tahun dia memimpin sebuah kelompok musik Arab dan merekamannya dalam cakram padat. Tujuh lagu karya sendiri dan sejumlah lagu kolaborasi dengan musisi tamu dari Maroko. (terakota.id)

Harta Karun Kuno di Galeri Warisan Maritim

foto
Menteri Susi saat pembukaan Galeri Warisan Maritim di Jakarta. Foto: Agolf.xyz.

Belum banyak orang tahu keberadaan tempat ini. Maklum baru diresmikan 13 Maret 2017 lalu. Begitu orang masuk ke dalam, yang tersaji adalah benda-benda yang kelihatannya kurang menarik. Namun siapa sangka benda-benda tersebut bernilai ilmu pengetahuan tinggi.

Galeri Warisan Maritim, begitulah nama tempat tersebut. Terletak di lantai 2, Gedung Mina Bahari IV milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Peresmian galeri dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Semua koleksi di galeri ini, semula disebut Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT). BMKT merupakan hasil eksplorasi sejumlah perusahaan swasta di perairan Nusantara atas izin pemerintah.

Seperti ditulis Djulianto Susantio di Hurahura.wordpress.com, BMKT mulai dikenal pada 80-an ketika sindikat internasional menjarah muatan kapal kargo yang tenggelam di perairan Riau. Dalam kasus itu, seorang arkeolog Indonesia hilang ketika tengah melakukan investigasi. Yang membuat fantastis, hasil jarahan tersebut laku dalam pelelangan di mancanegara sebesar puluhan juta dollar AS.

Karena pemerintah tidak punya dana, maka diajaklah investor bekerja sama dengan sistem bagi hasil. Namun sebelum dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, pemerintah (Kemendikbud) menyeleksi benda-benda yang unik dan langka untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Benda-benda tersebut kemudian didistribusikan untuk beberapa museum. Selebihnya diserahkan kepada investor, termasuk kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kejayaan Laut
Pengelolaan BMKT merupakan bagian dari upaya mengembalikan kejayaan laut menyusul visi Indonesia menuju Poros Maritim dunia. Menurut Menteri Susi, BMKT memiliki nilai sejarah tinggi, tidak ternilai. Karena itu, pemerintah ingin mengelola BMKT agar pemanfaatannya terorganisasi dan mandiri.

Galeri Warisan Maritim memajang lebih dari 1.500 keping BMKT. Benda-benda tertua berasal dari masa Dinasti Tang (abad ke-9) dan Dinasti Song (abad ke-11–12). Kedua dinasti berasal dari Tiongkok, negeri penghasil keramik terkenal di dunia.

Berbagai jenis dan bentuk keramik merupakan bagian terbesar koleksi galeri. Tanda-tanda bekas terendam lama dalam air laut tampak jelas. Bekas karang dan adanya fosil tumbuhan merupakan ciri utama.

Selain benda keramik, ada juga benda kaca, benda batu, benda logam, dan mata uang. Benda-benda tersebut berasal dari beberapa negara, seperti Tiongkok, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Menurut Sonny Wibisono, arkeolog yang ikut terlibat sebagai narasumber, koleksi galeri berasal dari abad ke-9 hingga ke-13 Masehi.

Sebenarnya barang-barang di galeri, baru sebagian kecil dari total BMKT yang dimiliki pemerintah. Tempat ini boleh dikatakan baru berupa galeri mini.

Sebagian besar koleksi BMKT masih berada di gudang Cilengsi. Untuk menampung semua barang di galeri tentu memerlukan satu gedung, bukan lagi satu lantai.

Sonny bercerita, koleksi di galeri mini berasal dari tiga situs, yakni perairan Belitung, Pulau Buaya, dan Cirebon. Sebenarnya ada sekitar sepuluh situs yang sudah dieksplorasi perusahaan swasta sebagaimana buku Katalog Peninggalan Bawah Air di Indonesia.

Kargo Belitung ditemukan pada 1998 di kedalaman 16 meter. Dari hasil analisis terhadap sisa-sisa lambung, kargo Belitung diidentifikasi sebagai kapal kuno Arab yang disebut dhow.

Sekitar 60.000 potong keramik berhasil diangkat dari kargo Belitung. Karena keramiknya berasal dari dinasti Tang abad ke-9, maka dikenal sebagai kargo Tang.

Keramik memang merupakan barang dagangan yang paling laku. Ada yang dibuat khusus untuk para pembesar atau pejabat di negara yang disinggahi. Ada pula produk masal, seperti piring dan mangkok.

Kargo Pulau Buaya ditemukan pada 1989 di perairan Riau. Sayang karena sudah berantakan, struktur kapalnya tidak diketahui. Muatan yang diangkat dari kapal ini sekitar 31.000 artefak.

Belasan ribu artefak lainnya kemungkinan sudah pecah karena pengangkatan tidak sesuai prosedur. Keramik temuan Pulau Buaya bertarikh abad ke-12 sampai ke-13 masa Dinasti Song-Yuan.

Kargo Cirebon ditemukan pada 2004. Struktur bangkai kapal yang masih tersisa berukuran panjang 21,80 meter dan lebar 10,40 meter. Keramik dari kargo Cirebon berasal dari tungku Zhejiang abad ke-10.

Diantara barang masal itu ditemukan barang keramik seni yang langka, misalnya vas Liao, figur ikan, kepala phoeniks, dan kijang. Keberadaan temuan keramik tentu saja sangat penting. Keramik merupakan artefak bertanggal mutlak. Jadi fungsinya bisa untuk memberi tarikh pada temuan-temuan kuno lain.

Benda-benda dari kargo Cirebon bervariasi. Pastinya dari segi ekonomi bernilai tinggi. Dari kargo Cirebon juga ditemukan logam dan batu mulia. Yang paling menarik adalah gagang pedang oktagonal terbuat dari emas. Bentuknya menyerupai tanduk dengan permukaan berukiran rumit.

Ada lagi benda-benda ritual agama Buddha berupa gantha (lonceng) dan khakkhara (ujung mahkota dari tongkat pendeta). Karena uniknya, benda-benda ini menjadi ‘koleksi negara’.

Sebuah istilah khusus untuk menunjukkan benda-benda yang sudah dipilih para arkeolog. Nantinya benda-benda ‘koleksi negara’ akan dipamerkan di museum. Kemungkinan besar akan ditempatkan di Museum Nasional di Jakarta.

Tujuan Wisata Baru
Sebagai ‘barang baru’ tempat ini lumayan menarik. Luas, terang, dan sejuk dilengkapi kursi untuk beristirahat, cukup memberi kenyamanan kepada pengunjung. Penataan tergolong bagus, begitu pula keletakan benda, sehingga bisa dilihat pengunjung secara leluasa.

Hanya ada beberapa lemari terlalu tinggi. Dengan demikian pengunjung hanya bisa melihat koleksi dari jarak jauh tanpa mampu mengamati detail koleksi.

Betapa pun masih ada kekurangan, keberadaan museum mini ini patut diberi apresiasi. Pengunjung bisa mengetahui perdagangan dan hubungan antarbangsa di masa lalu.

Cuma perlu diperhatikan, biasanya benda-benda yang sudah lama berada di dalam laut, akan mengalami kerusakan bila berada di daratan. Karena itu konservasi benda secara periodik perlu dipertimbangkan oleh pengelola.

Galeri Warisan Maritim buka Senin sampai Jumat pukul 09.00-12.00 dan 13.00-15.00 pada jam kantor. Tidak ada karcis masuk. Pengunjung cukup mengisi buku tamu yang tersedia. Bukan tidak mungkin kalau dikelola profesional, museum mini ini akan menjadi tujuan wisata pendidikan, wisata sejarah, dan wisata budaya sekaligus. (ist)

Menjaga Living Artefak di Pulau Bawean

foto
Potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean. Foto: Batampos.co.id.

Pulau Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa yaitu sekitar 80 mil atau 120 kilometer sebelah utara Gresik. Secara administratif sejak tahun 1974, pulau Bawean ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur di mana tahun sebelumnya sejak pemerintahan kolonial pulau Bawean masuk dalam wilayah Kabupaten Surabaya.

Pulau Bawean dengan luas 196,3 km2 ini merupakan salah satu pulau di Laut Jawa yang mempunyai posisi strategis secara geografis dan memegang peranan sebagai salah satu lokasi transit alat perhubungan laut di masa lalu hingga masa sekarang.

Mengingat kedudukannya sebagai salah satu mata rantai dari jalur perdagangan dan pelayaran di Laut Jawa tidaklah mengherankan apabila Pulau Bawean sejak dulu merupakan wilayah yang menarik untuk dilakukan penelitian dalam berbagai bidang.

Beberapa penulis asing membahas tentang Pulau Bawean walaupun tidak secara khusus meneliti data arkeologi yakni JE Jasper (1906) dan C Lekkerker (1935). Selain itu, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pernah melakukan penelitian ke pulau tersebut pada tahun 1970-an.

Diluar hasil kerja mereka, informasi yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi di Pulau Bawean dan sekitarnya masih sangat terbatas. (Koestoro, 1998: 12). Balai arkeologi Yogyakarta pada tahun 1985/1986 pernah melakukan penelitian arkeologi dengan tema ‘Survei Arkeologi Islam di Pulau Bawean Jawa Timur’ dengan hasil berupa tinggalan arkeologi seperti makam-makam kuna serta obyek/situs yang berkaitan dengan bentuk okupasi pertahanan, perdagangan, dan keagamaan (Koestoro, 1985/1986:27)

Dalam laporannya seperti ditulis Arkeologijawa.kemdikbud.go.id, disebutkan Balai Arkeologi DI Yogyakarta pada tahun 2015 kembali melakukan penelitian di Pulau bawean dengan kajian arkeologi maritim. Penelitian tahun 2015 ini mempunyai tujuan untuk melakukan identifikasi potensi tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean secara bertahap.

Hasil penelitian tahun 2015 diperoleh informasi mengenai tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean yaitu bekas pelabuhan lama Bawean dan sarana pendukungnya di Desa Sawahmulya. Nisan-nisan kuno di Desa Sawahmulya, Expose Wreck di gosong Pulau Gili di Desa Sidogedongbatu di Kecamatan Sangkapura.

Lalu ada konsentrasi fragmen keramik asing di Pulau Cina di Desa Dedawang dan di Desa Diponggo, keramik-keramik asing yang masih utuh di rumah-rumah penduduk di Desa Diponggo dan Desa Sidogedongbatu.

Juga terdapat meriam-meriam kuno di sekitar Desa Diponggo sebanyak 2 buah dan Koramil 0817/18 Tambak sebanyak 3 buah di Kecamatan Tambak, serta tinggalan arkeologi yang berasal dari Pulau Bawean yang menjadi koleksi Museum Sunan Giri di Gresik.

Pada kegiatan penelitian tahapan kedua di tahun 2016, identifikasi potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean diperoleh informasi, antara lain keberadaan Shipwreck di Gosong Pulau Gili dan wreck di Pulau Nusa.

Poros tata kota Kecamatan Sangkapura – pelabuhan yang meliputi Pesanggrahan, pelabuhan masa kolonial, Kampung Boom, pemecah ombak kolonial, pasar, alun-alun, masjid Jami dan kawedanan.

Terdapat sebaran keramik asing di desa-desa wilayah kecamatan Sangkapura seperti Sawah Mulya, Sungai Rujing, Pudakit, Kumalasa, Gunung Teguh, Sidogedungbatu, Teluk dalam, dan Kepuh Teluk dalam bentuk utuh maupun fragmentaris serta keramik asing yang berasal dari Cina, asing tenggara, dan Eropa.

Ditemukan mata uang kuno sebanyak 235 koin. Variasi dan karakter koin yang dijumpai yaitu dari tahun 1858–1945. Koin berbahan perak hingga perunggu, berdiameter 1,6-3,1 cm. Keberadaan meriam-meriam kuna ini sebenarnya sudah dilakukan peninjauan di tahun 1980-an oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dan SPSP Jawa Timur.

Data artefaktual yang bernafaskan Buddhis berbentuk stupika juga masih dijumpai di Bawean. Stupika merupakan replika stupa yang bentuknya kecil dan terbuat dari terakota (tanah liat yang dibakar). Asal usul stupika menurut pemilik dan penyimpan stupika ini diinformasikan berasal dari Desa Sidogedongbatu. Temuan stupika ini juga menjadi salah satu koleksi Museum Sunan Giri Gresik. Serta Batu kenong atau menyerupai batu umpak sebanyak 8 buah.

Mengingat pentingnya wilayah Pulau Bawean dalam konteks arkeologi maritim, maka potensi tinggalan arkeologi maritim tersebut perlu diketahui dan dikaji lebih mendalam untuk dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yaitu ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, dan perekonomian.

Pada 4 – 17 Mei 2017 dilakukan kegiatan penelitian identifikasi potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean. Penilitian dilakukan di perairan sekitar Pulau Baweandiperoleh informasi mengenai keberadaan cerobong asap serta artefaktual berupa tegal dan bata. Namun eksplorasi keberadaan kapal-kapal tenggelam di Pulau Bawean lainnya memperoleh hasil nihil dikarenakan masifnya pengambilan, pengrusakan dan pencurian besi tua yang berasal dari kapal tenggelam.

Sedangkan penelitian daratan Pulau Bawean fokus dilaksanakan di Desa Lebak, Pudakit Timur, Pudakit Barat, Pudakit Timur, patar Selamat di Kecamatan Sangkapura serta di desa Diponggo, Teluk Jati Dawang, dan Sukaoneng di Kecamatan Tambak.

Diperoleh informasi mengenai keberadaan keramik asing yang masih digunakan hingga sekarang, maupun bagian dari koleksi keluarga. Ada nisan kuno, glass ball fishing float, naskah kuno, serta lokasi Murtalaja yang diduga sebagai situs dengan indikasi awal berupa temuan permukaan fragmen gerabah yang dominan, dan keramik asing.

Berdasarkan kegiatan tersebut, tim peneliti merekomendasi perlunya melakukan penelitian secara bertahap untuk memperoleh data tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean secara menyeluruh. Terutama informasi mengenai keberadaan jangkar-jangkar kuno di perairan sekitar Pulau Bawean.

Juga dipandang perlu melakukan perlindungan dan pengawasan secara khusus terhadap tinggalan kapal-kapal tenggelam (shipwreck) di Pulau Bawean khususnya temuan Exposed Wreck di Pulau Gili Desa Sidogedongbatu dan shipwreck di Pulau Nusa di desa Dedawang dari ancaman pengrusakan terhadap pencurian besi-besi tua yang berasal dari kapal-kapal tenggelan di sekitar Pulau Bawean.

Keberadaan keramik asing di Pulau Bawean yang hingga kini masih digunakan masyarakat setempat merupakan ‘living artefak’ mempunyai potensi kajian penelitian namun juga mempunyai potensi negatif berupa jual-beli ilegal dan pencurian. (ist)

SMP Ini Buka Kelas Khusus Seni dan Budaya

foto
SMP kelas khusus untuk siswa berbakat seni dan budaya. Foto: Radar Tulungagung.

Sedikitnya lima lembaga SMP Negeri di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur masing-masing membuka kelas khusus untuk siswa yang memiliki bakat dan talenta di bidang seni budaya daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung Suharno mengatakan, kelas khusus dibuka untuk memandu bakat berkesenian calon peserta didik, terutama di bidang seni budaya daerah.

“Kelas khusus ini berbeda dengan jalur kompetensi. Tujuan dari pembukaan kelas ini adalah untuk melestarikan seni budaya daerah,” kata Suharno menanggapi pertanyaan wartawan di Tulungagung, awal pekan seperti dilaporkan Okezone.com.

Suharno mengatakan, kelas khusus telah diuji coba di dua lembaga SMP negeri setempat, yakni di SMPN 2 Tulungagung dan SMPN 1 Ngunut.

Dan hasilnya, Suharno mengklaim program kelas khusus efektif dan bahkan bisa dibilang berhasil karena beberapa kali mewakili Tulungagung dalam perlombaan maupun kegiatan penting tingkat Jatim. “Tahun ini coba dikembangkan ke tiga sekolah lain,” ujarnya.

Tiga SMP negeri yang berencana mengadopsi program serupa masing-masing adalah SMPN 1 Tulungagung, SMPN 3 Tulungagung dan SMPN 1 Kauman.

Ditegaskannya, kelas khusus yang sudah berjalan dan akan terus dipertahankan mewadahi bakat dan minat di bidang kesenian tradisional. “Pengajuan sudah disampaikan dan akan kami verifikasi secepatnya agar program bisa dimulai,” ucap Suharno.

Senada, Sekretaris Dikpora Tulungagung Hariyo Dewanto mengatakan kelas khusus untuk mengawal prestasi siswa saat masih SD. Kelas khusus ini kegiatannya akan berbeda dengan kelas reguler, misalnya, mereka sering meninggalkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan mereka.

“Makanya mereka perlu dikumpulkan di kelas yang sama, agar tidak memicu rasa iri siswa yang lain. Saat para siswa di kelas khusus ini tidak masuk sekolah, yang lain bisa memahaminya,” kata Hariyo Dewanto yang akrab dipanggil Yoyok itu.

Dijelaskan, kelas khusus menjadi tanggung jawab pihak sekolah, terutama menyangkut harus penyediaan guru pengajar, sampai fasilitas untuk peserta didik dengan bakat khusus ini. Hal itu termasuk mengganti jam pelajaran, saat para siswa ada kegiatan di luar sekolah.

“Kalau kurikulumnya sebenarnya sama dengan kelas reguler. Tapi waktunya fleksibel, dan guru yang memastikan anak-anak ini tetap mendapat pelajaran,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMPN 2 Tulungagung Eko Purnomo mengatakan, kelas khusus di di tempatnya memang diperuntukkan hanya untuk siswa dengan bakat seni tradisional.

Dikatakannya, proses penerimaan siswa kelas khusus mealui seleksi piagam penghargaan serta tes praktik. Sebab, kata dia, setiap calon peserta didik tidak diambil dari peserta tes akademik, melainkan dari ujian praktik kemampuan seni budaya daerah.

Dari seleksi peserta didik kelas khusus ini akan meliputi banyak keahlian, misal pedalang, keahlian bermain per alat musik tradisional, hingga menari dan menyanyi (sinden).

“Kalau jalur prestasi penjaringannya kan prestasi akademik dan nonakademik. Nonakademik biasanya olahraga, tidak menjurus pada seni tradisional,” tutur Eko.

Hasil dari kelas khusus ini pun sudah bisa dirasakan. SMPN 2 Tulungagung kini mempunyai grup seni tradisional yang bisa dipentaskan sewaktu-waktu, misalnya, seni jaranan maupun reog kendang yang populer di Tulungagung. (ist)

Apresiasi 500 Seniman Jatim Berprestasi

foto
Gubernur Soekarwo bersama perwakilan seniman Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo yang akrap disapa Pakde Karwo, pagi tadi telah memberikan apresiasi kepada 500 Seniman berprestasi dan Budayawan se-Jawa Timur di Gedung Pertemuan Dinas Pariwisata Jatim, Rabu (14/6).

Apresiasi seniman berprestasi dan budayawan yang diwakili dari 10 orang seniman dari Kab Sidoarjo, Kediri, Mojokerto, Gresik, Malang dan Banyuwangi serta Ngawi, Probolinggo dan Nganjuk ini masing- masing orang diberi uang sebesar Rp 1,5 juta dan sembako.

Dan acara seperti ini selalu dilakukan secara rutin setiap tahunnya, dengan tujuan membangun tali silahturahmi antara pemerintah dan seniman.

Sebagai wujud penghargaan dan tali kasih pemerintah kepada para seniman dan budayawan yang telah mengembangkan senibudaya di Jatim.

Sehingga kesenian yang ada di jatim masih tetap lestari dan pengembangannyapun terus dilakukan, sehingga mampu berkembang dengan baik.

Pakde Karwo mengatakan, Jawa Timur tidak pesimis tentang budaya karena anak- anak muda Jawa Timur sangat luar biasa mencintai kesenian dan budayanya.

“Saya sangat bangga dan sekali lagi ini sangat luar biasa karena anak-anak mudanya sangat mencintai seni dan budayanya,” puji orang nomor satu di Jatim ini bangga menyaksikan kiprah anak- anak muda Jawa Timur.

Menurut Gubernur, ciri masyarakat yang mempunyai peradaban dengan baik. Dan masyarakat yang beradap itu ditandai dengan perkembangan seni dan budayanya bisa berkembang dengan baik.

Oleh sebab itu, setiap seminar tentang kebudayaanKarena, jatim bisa dan mampu nguri- nguri kesenian dan kebudayaan Jawa Timur, seperti budaya Osing dan budayalain yang ada di Jatim.

Untuk itu, setiap kegiatan tentang kebudayaan baik tingkat nasional maupun regional pasti Jawa Timur menjadi tempat atau ketempatan bukan Jateng ataupun Jogja. Jatim sudah menjadi tempat tapi sekaligus juga Jatim menjadi penyelenggaranya.

Kalaupun tempat seminar budaya diadakan Jawa Tengah atau Jogja, sumbangannya atau donaturnya ya.. tetap Jawa Timur. “Sebab Jateng ataupun Jogja itu hanya batas sebagai tempat dan panitia saja. Tapi untuk masalah dana panitia tidak tahu apa- apa, karena kalau tidak ada dana atau uang pasti panitia tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Jadi, tambahnya, banyak itu menjadi relative tapi kepedulian itu menjadi bagian yang sangat penting. Dan Alhamdulillah, Jawa Timur menjadi provinsi yang sangat peduli terhadap kesenian dan budaya sehingga setiap ada seminar budaya pasti Jatim selalu menjadi donaturnya.

“Saya juga sangat berterima kasih kepada Pak Taufik yang telah ditunjuk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jatim. Karena dengan keberadaannya, maka Pak Taufik selalu mengajak dan menyapa para seniman yang ada di seluruh pelosok Jatim. (sak)

Festival Nasional Budaya Panji 2017 di Kediri

foto
Tari Cerita Panji Topeng Malangan. Foto: Brangwetan.wordpress.com.

Kediri menjadi tuan rumah Festival Nasional Budaya Panji Tahun 2017 pada 16-22 Juli 2017 mendatang. Acara bakal berlangsung di kompleks Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri dan beberapa tempat lain di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri.

Penyelenggara even ini adalah Pemkab dan Pemkot Kediri, bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim serta Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI.

Kepala UPT Laboratorium Pendidikan dan Pelatihan (LPPK) Disbudpar Jatim Efie Wijayanti SSos MMPd menjelaskan, Cerita Panji adalah karya sastra lisan asli Jawa Timur.

Cerita ini diperkirakan muncul sejak era keemasan Kediri (Daha) yang kemudian sangat populer pada zaman Majapahit. Kemudian tumbuh dan berkembang ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke kawasan Melayu, Thailand, Laos dan Kamboja.

Persoalannya, pusaka budaya yang telah menjadi arus utama kebudayaan (kesusastraan) di masa lalu itu belakangan ini “nyaris lenyap” tanpa jejak justru di tanah kelahirannya sendiri.

Festival Nasional Budaya Panji Tahun 2017 ini mengangkat tema ‘Panji Merajut Keharmonisan Nusantara’ yang disajikan dalam bentuk pawai dan pergelaran berbagai kesenian berbasis Budaya Panji dari berbagai daerah di Indonesia.

Lalu ada pameran karya seni kreatif yang terinspirasi oleh Budaya Panji, pameran tematik umbul-umbul ‘Panji Indonesia’ dan seminar nasional.

Pawai bakal diisi berbagai kesenian berbasis Panji seperti Kethek Ogleng, Reog Ponorogo, Turangga Yaksa, Reog Kendang, Jaranan Panji, Barongan Panji dan berbagai kesenian Panji dari Kota dan Kabupaten Kediri.

Acara pembukaan menampilkan pergelaran kolosal Panji Candrakirana dan parade tari hasil workshop Tari Panji Remaja se-kabupaten Kediri pada 16 Juli.

Disusul esok malamnya pergelaran Topeng Malangan dan Kinanti Sekar Rahina (DIY) – 17/7; kemudian Dalang Jemblung dan Topeng Losari Cirebon (18/7), Ketoprak Panji Semirang dan Panji Gandrung ISBI Bandung (19/7), Wayang Topeng Jatiduwur Jombang, Panji Melayu dari Sumsel dan Janger Banyuwangi (20/7), Dramatari Anglingdarmo (Bojonegoro) dan Wayang Kulit Ki Enthus (21/7) dan dipungkasi dengan Tari Seribu Barong (siang hari), Wayang Beber Pacitan dan Panji Inu Swargaloka – Jakarta (22/7).

Seminar Nasional dilangsungkan hari Senin (17/7) pagi di ruang seminar SLG Lantai V dengan tema ‘Cerita Panji sebagai Sumber Kreatif Penciptaan Karya Seni’ dengan narasumber Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Prof Wardiman Djojonegoro dan Prof I Wayan Dibya (dalam konfirmasi). Terbuka kesempatan siapa saja mengirimkan makalah yang setelah diseleksi akan dimasukkan dalam prosiding seminar.

Festival ini juga menjadi satu dengan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri yang antara lain menampilkan: Lomba Instalasi Panji dan Wong-wongan Sawah (16/7), Parade Musik Akustik (17/7), Lomba Teater Panji (18/7), Pemilihan Putera-Puteri Batik (20/7), Festival Nasional Layang-layang (22/7), dan aneka Pentas Kreativitas Seni (16-22/7).

Selama seminggu juga diselenggarakan pameran Zona Kampung Panji dan Rumah Peradaban, Zona Pembangunan dan Investasi Kepariwisataan di areal lapangan SLG. Info lebih detil acara ini bisa menghubungi Henri Nurcahyo: 0812 3100 832 (Surabaya), henrinurcahyo@gmail.com atau Nadlirin : 0856 4972 8370 (Kediri). Atau UPT LPPK, Jl Embong Sawo 36 Surabaya, Telp/Fax 031 -547 3850. (sak)