Pelaku Kebo-keboan melakukan atraksi saling beradu. Foto: Istimewa.
Ritual adat Kebo-keboan bagi masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi merupakan tradisi upacara adat yang harus dilestarikan. Ibaratnya ini sudah mendarah-daging sebagai keharusan tradisi.
Bahkan ketika masyarakat tidak melaksanakan upacara adat yang sudah berlangsung sejak abad 18 itu, diyakini mereka akan terserang berbagai penyakit. Itu yang diyakini masyarakat Desa Alas Malang dan Desa Aliyan, di kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini.
Itulah yang mendorong mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair)melakukan penelitian ritual adat Kebo-keboan sebagai upaya meningkatkan eksistensi nilai budaya oleh petani Penghayat Kepercayaan bagi Suku Osing di Banyuwangi.
Keempat mahasiswa FISIP tersebut, yaitu Muhammad Yaumal Yusril, Piping Tri Wahyuni, Dian Rizkita Puspitasari, dan Leny Yulyaningsih.
Mereka kemudian menuangkan penelitian itu dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang penelitian sosial humaniora (PKMSH) yang berjudul ‘Ritual Adat Kebo-keboan Sebagai Upaya Meningkatkan Eksistensi Nilai Budaya Oleh Petani Penghayat Kepercayaan di Suku Osing Banyuwangi’.
Setelah diseleksi oleh Kemenristekdikti, proposal PKMSH yang diketuai Muhammad Yaumal Yusril ini berhasil lolos, sehingga meraih pendanaan penelitian dari Dirjen Dikti dalam PKM tahun 2016.
Ritual adat Kebo-keboan merupakan salah satu dari beragamnya ritual atau upacara adat tradisional, baik yang secara keagamaan maupun kepercayaan leluhur yang dilaksanakan dan dilestarikan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya.
Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya telah menunjukkan masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, dan salah satu akibat dari kemajemukan tersebut adalah beraneka ragam ritual dan upacara adat tadi.
Seperti dirilis PIH Unnair, Muhammad Yaumal Yusril menjelaskan, dalam menjaga tradisinya itu masyarakat asli Desa Alas Malang dan Aliyyan selalu mengadakan ritual ini secara turun-temurun setiap tahun yang bertepatan pada bulan Suro atau Muharam.
Warga setempat sangat antusias dalam melaksanakan upacara adat ini, bahwa warga asal dua desa itu yang tinggal di luar daerah, bahkan luar Jawa, rela untuk pulang ke Banyuwangi untuk mengikuti proses ritual Kebo-keboan, walaupun secara materi tidak memperoleh (materi) apa-apa.
Warga desa tradisi juga sadar untuk melakukan regenerasi untuk melestarikan budaya ini. Mereka pun mendirikan lembaga adat secara terstruktur.
Regenerasi itu dinilai berhasil, salah satu tolok ukurnya, orang-orang muda sangat menginginkan untuk menjadi pelaku upacara adat Kebo-keboan itu, karena dengan menjadi pelakunya maka kaum muda Osing berharap imbalan berupa kenikmatan, kesehatan, kesejahteraan, dan rezeki yang berlimpah.
”Tingginya kepercayaan masyarakat untuk melestarikan tradisi adat ‘Kebo-keboan’ inilah yang membuat kami tertarik menelitinya untuk menelusuri lebih dalam akan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut,” kata Muhammad Yaumal Yusril. (sak)
Acara Rawat Ruwat Ranu Klakah Lumajang diatas danau. Foto: Lumajangsatu.com.
Kegiatan “Rawat Ruwat Ranu” di Ranu (danau) Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merupakan kampanye pelestarian lingkungan melalui jalan kebudayaan.
“Kegiatan ini digagas juga dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan dengan menggelar acara ini masyarakat diajak untuk merawat dan meruwat sumber kehidupan yang berada di Ranu Klakah,” kata Koordinator Laskar Hijau A’ak Abdullah Al-Kudus seperti dikutip Antarajatim di Lumajang.
Menurutnya Gunung Lemongan yang merupakan benteng ekologi Kabupaten Lumajang wilayah utara yang memiliki total 13 ranu dan tujuh danau di antaranya berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan sisanya berada di Kabupaten Probolinggo.
“Ranu-ranu itu memiliki fungsi yang sangat vital bagi masyarakat, khususnya untuk air minum, irigasi, perikanan, juga sektor parwisata, sehingga perlu dijaga dengan baik,” tuturnya beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan pembalakan liar yang terjadi pada kisaran tahun 1998-2002 telah meluluhlantakkan kawasan hutan lindung di Gunung Lemongan, sehingga berdampak langsung pada 13 ranu yang indah tersebut.
“Salah satunya Ranu Klakah, yakni tidak kurang dari 25 mata air di Ranu Klakah yang kemudian mati akibat perusakan hutan di Gunung Lemongan, dan sekarang tinggal enam mata air saja,” katanya.
Padahal Ranu Klakah itu menjadi tumpuan irigasi bagi 620 hektare areal persawahan yang ada di sekitarnya. Degradasi ekologi itu juga terjadi pada ranu-ranu yang lain, bahkan Ranu Kembar di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, menjadi kering.
“Kondisi kerusakan itulah yang memantik para relawan Laskar Hijau untuk melakukan gerakan konservasi di Gunung Lemongan dan di ranu-ranu yang ada di sekitarnya sejak 2005,” ujarnya.
Selain melakukan penghijauan, para relawan Laskar Hijau tersebut juga melakukan kampanye-kampanye pelestarian lingkungan, salah satunya dengan jalan kebudayaan, seperti ruwatan di Ranu Klakah.
“Kegiatan serupa pernah dilakukan di tempat yang sama oleh Laskar Hijau sejak tahun 2006- 2010 dengan tema ‘Maulid Hijau’. Bedanya, kali ini panggung yang digunakan mengapung di atas air dengan ukuran 20 x 10 meter,” ucapnya.
Acara ‘Rawat Ruwat Ranu’ diawali dengan istighosah kubro bersama warga sekitar Ranu Klakah dan dihadiri Bupati Lumajang As’at Malik, kemudian dilanjutkan dengan pergelaran budaya yang meliputi seni tari, musik dan teater dari seniman-seniman Lumajang, Malang dan Probolinggo.
“Mereka berpartisipasi secara sukarela karena kepeduliaannya kepada pelestarian budaya dan lingkungan. Panggung ini adalah panggung rakyat, siapapun boleh hadir menyaksikan dan menampilkan karya seninya,” ujarnya.
A’ak mengatakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang sebagai pendukung kegiatan tersebut berencana akan menjadikan acara “Rawat Ruwat Ranu” sebagai kegiatan tahunan pemkab.
Bupati Lumajang As’at Malik mengapresiasi kegiatan pelestarian lingkungan yang menggabungkan dengan kebudayaan berbasis kearifan lokal wilayah setempat.
“Acaranya memang unik karena digelar di atas air. Semoga dengan acara ini dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk terus melakukan penghijauan, agar keberadaan Ranu Klakah tetap lestari dan memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya warga di sekitar Ranu Klakah,” tuturnya.
Ia mengatakan Ranu Klakah merupakan salah satu aset wisata di Lumajang yang cukup potensial, sehingga keberadaannya harus dijaga dan dilestarikan. (ant)
Nyadran, tradisi mendoakan leluhur dan nyekar diikuti membersihkan kuburan. Foto: Maulinniam.files.wordpress.com.
Kompleks pemakaman yang biasanya singup serta lengang, hari-hari ini sedikit ramai. Setiap memasuki bulan Ruwah, orang-orang tampak keluar masuk kawasan yang dianggap wingit tersebut untuk nyadran.
Mereka mendoakan arwah leluhur dan nyekar diikuti dengan membersihkan kuburan dari gulma. Sebagian besar masyarakat yang diasuh oleh kebudayaan Jawa, masih nguri-uri tradisi nyadran yang dikerjakan setahun sekali itu.
Kendati hidup di zaman internet, manusia Jawa tetap menjalankannya demi menjaga ingatan sejarah, merawat silsilah, dan mengenang segepok jasa para pendahulu.
Andre Moller (2005) yang memotret aktivitas Ramadhan di Jawa juga mengungkapkan bahwa tujuan mengunjungi kuburan hingga Idul Fitri tiba berdasarkan keinginan untuk dimaafkan anggota keluarga yang telah tiada.
Kultur Agraris
Bakdi Soemanto dalam kolom Glenak Glenik di Koran Kedaultan Rakyat (8/8/2012), sesorah perihal kegiatan nyadran yang terus dilestarikan. Lewat tokoh Mansieur Rerasan, guru besar UGM tersebut menceritakan, semenjak masih kecil, menjelang bulan Siyam atau Puasa, dirinya bersama keluarga besar trah Tinalan dari garis Kasunanan Surakarta acap menjalankan ritual nyadran.
Menurut sastrawan yang lahir dan besar di kampung Kratonan Solo ini, nyadran memiliki makna penting bagi keluarga besar yang menyambangi makam tempat para leluhur dikebumikan.
Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Gusti Allah.
Nyadran memang tumbuh subur dalam kultur agraris. Kepercayaan lokal yang diusung oleh pendukung kebudayaan pertanian ini menekankan pentingnya relasi tiga alamat: masyarakat manusia, ‘masyarakat’ kakek moyang yang telah tiada, dan ‘masyarakat’ roh-roh abadi.
Dalam kosmologi Jawa, hidup itu suatu kesatuan antara orang-orang yang masih hidup di jagad cilik, leluhur yang sudah tutup buku kehidupan, serta alam kelanggengan.
Jangan terheran walau kuburan hanya berbentuk gundukan tanah dan ditumpangi batu nisan namun dinilai sakral oleh manusia Jawa.
Saking sakralnya akan keberadaan kuburan, dalam koran Darmo Kondo permulaan abad XX yang ditemukan penulis kala riset di Perpustakaan Nasional Jakarta, memuat sederet sinonim tentangnya: kramatan, makaman, hastana, pasarean, danjaratan.
Secuil fakta ini membuktikan, masyarakat tidak sembarangan dalam memandang kuburan, alih-alih merusaknya lantaran dituding sumber klenik karena diyakini bakal kuwalat.
Bahkan, agar tampil indah (menyingkirkan aroma wingit dan keruh), sekeliling pagar tembok area makam lumrah ditanami bunga-bunga nan harum.
Ambillah contoh, alamanda, mawar, melati, dan seruni. Guna menjamin kebersihan dan keamanan permakaman, diangkatlah petugas juru kunci dengan bayaran yang tak seberapa meski saban hari berperang melawan senyap.
Tak jarang melalui juru kunci ini pula, kuburan menjelma menjadi monumen yang menyimpan kepingan riwayat sejarah sekaligus penanda peradaban. Seperti pengalaman sejarawan Universitas Indonesia, Kasijanto Sastrodinomo (2015) tatkala nyadran ke makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Di kuburan lawas itu, menurut penuturan juru kunci, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang tutup usia sekian tahun silam.
Lantaran penasaran akan secuil infomasi tersebut, Kasijanto ‘menodong’ keterangan dari simbahnya yang berumur 83 tahun. Diketahui, ketiga almarhum yang sare di kuburan ini merupakan priyayi alus yang terpandang di desanya.
Menenun Kisah
‘Sep’ ialah perubahan bunyi dari chef, kata Prancis yang diserap Belanda lantas dilempar ke negeri koloni, lengkapnya stationschef ‘kepala stasiun’. Sedangkan ‘hop’ adalah pribumisasi hoofd; lengkapnya hoofdonderwijzer atau hoofdschool ‘kepala sekolah’.
Dan ‘siner’ dipenggal dari opziener ‘pengawas’. Jelas, sistem kolonial mengakrabkan kata-kata asing ini sampai ke pelosok desa.
Demikianlah, tradisi nyadran sejatinya bukan sekadar kegiatan budaya yang mengingatkan kita terhadap kakek moyang, tapi juga menenun kisah sejarah lokal (kampung halaman) yang terserak.
Sebelum Ramadan dan Lebaran tiba, manusia Jawa menyempatkan diri nyekar ke makam leluhur sebetulnya jalan kembali ke ‘rumah sejarah’ setelah terjebak dalam rutinitas. Kita diingatkan supaya tidak lupa pada akar, siapa yang melahirkan kita, dan dimana kita dibesarkan.
(Artikel ini ditulis Heri Priyatmoko MA, dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta dan dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 9 Mei 2017/ist).
Prosesi upacara kematian Entas-entas pada Suku Tengger. Foto: kkn62umm.blogspot.co.id.
Indonesia kaya akan keberagaman budaya, mulai dari tradisi pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Salah satunya adalah tradisi Entas-entas milik masyarakat Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur.
Tradisi ini merupakan upacara kematian, khususnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo. Jika ditelaah lebih lanjut, tradisi Entas-entas ini memiliki keterkaitan dengan budaya pada masa Megalitikum.
Entas-entas sendiri seperti ditulis Ngalam.co diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.
Di dalam tradisi ini, menurut sejarawan Blasius Suprapta, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan. Saat pelaksanaan yang meninggal didatangkan kembali dengan bentuk boneka.
Boneka yang diberi nama boneka petra tersebut terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini selanjutnya disucikan oleh pemangku adat setempat. Sebelumnya juga dibuat kulak atau wadah bambu yang diisi dengan beras oleh keluarga yang bersangkutan.
Kulak tersebut sebagai lambang dari yang meninggal tersebut. Selanjutnya, keluarga mulai menyiapkan kain panjang untuk dibentangkan. Para keluarga dan kerabat berkumpul di bawahnya untuk mulai membakar boneka petra.
Dalam upacara Entas-entas, warga Tengger biasanya menggunakan sejumlah hewan ternak, seperti kambing, kerbau, atau lembu. Salah satu hewan yang kerap dipakai dalam upacara adat itu adalah kambing putih yang diyakini bisa berperan sebagai kendaraan untuk menuju alam arwah.
Makna Entas-entas
Rangkaian pelaksanaan Entas-entas ini memakan waktu yang panjang, bahkan bisa hingga tiga bulan. Biasanya dilaksanakan pada hari ke-1.000 atau minimal pada hari ke-44 setelah meninggalnya seseorang.
Oleh karena itu, Entas-entas masih boleh dilakukan selang beberapa hari setelah kematian. Sebab, kesanggupan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.
Tradisi ini bukan hanya sekedar upacara kematian biasa seperti di daerah-daerah lainnya. Di balik pelaksanannya, Entas-entas memiliki makna yakni mengembalikan kembali unsur-unsur penyusun tubuh manusia. Unsur-unsur tersebut ialah tanah, kayu, air, dan panas.
Makna yang diambil dari tanah, yaitu setiap ada manusia yang meninggal akan dikubur di dalam tanah. Selanjutnya adalah kayu. Sebab, untuk menandai lokasi orang meninggal menggunakan kayu yang ditancap bahkan ditanam sebagai nisan.
Lalu ada air yang digunakan untuk memandikan yang meninggal. Dengan kata lain sebagai pembersih. Juga sekaligus sebagai penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir ada panas. Untuk mengembalikan unsur yang satu ini caranya adalah dengan dibakar.
Boneka petra yang sudah dibuat tadi akan dibakar. Cara pengembalian unsur panas ini hampir sama dengan upacara Ngaben di Bali. Namun, bedanya adalah jika di Entas-entas hanya membakar boneka petranya saja. (ist)
Menjelang Ramadhan ada tradisi pembersihan makam leluhur atau yang populer disebut nyadran. Foto: SuaraMerdeka.com.id.
Keragaman tampak dalam kebiasaan kaum muslim di tanah air dalam menyambut Ramadhan. Namun, intinya tetap satu: menyucikan diri lahir dan batin sebelum menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Selain larut dalam kegembiraan dan rasa syukur, warga juga beramai-ramai merawat kearifan lokal.
Sambutan untuk Ramadhan sejatinya bisa disebut serupa ‘Lebaran kecil’ bagi warga beberapa daerah. Tradisi silaturahmi dan bermaaf-maafan dilengkapi dengan memasak makanan khas daerahnya dan disantap bersama. Bahkan, di beberapa daerah, para perantau sengaja mudik untuk bersilaturahmi dan menikmati sahur pertama bersama keluarga besar. Berikut beberapa tradisi menyambut Ramadhan seperti dilaporkan Femina.co.id beberapa waktu lalu.
1. Tradisi Malamang, Sumatra Barat
Masyarakat Sumatra Barat memiliki tradisi malamang. Kaum ibu disana bersama-sama membuat lemang untuk dijadikan antaran ke sanak saudara. Lemang adalah makanan khas Minang yang terbuat dari beras ketan, santan, dan pisang. Sementara itu, para bapak bertugas membeli daging sapi untuk lauk di acara doa bersama pada malam harinya.
2. Tradisi Meugang, Aceh
Warga Aceh pun memiliki tradisi yang tak kalah meriah. Dua hari menjelang Ramadhan, mereka melaksanakan tradisi meugang atau menyembelih ternak yang akan dimasak sebagai jamuan makan keluarga. Memang, di hari itu setiap keluarga berkumpul dan menikmati sajian masakan daging, baik itu yang disembelih sendiri atau dibeli. Karena semua harus kebagian daging, imbasnya harga daging biasanya ikut melonjak drastis.
3. Tradisi Sadranan, Jawa
Meski tak memiliki tradisi masak bersama, masyarakat di Jawa biasanya menyambut Ramadhan dengan nyadran atau sadranan. Saat nyadran, mereka berdoa dan makan bersama (kendurian) di sepanjang jalan yang digelari tikar dan daun pisang.
Demikian juga dengan masyarakat Parahyangan. Mereka memiliki tradisi munggahan atau berkumpul dan makan bersama kelaurga sebelum Ramadhan tiba. Sebelumnya, biasanya masyarakat Jawa dan juga Sunda juga berziarah ke makam keluarga.
4. Tradisi Munggahan, Sunda
Tradisi ini merupakan bentuk syukur atas akan datangnya Ramadhan. Pelaksanannya selalu diadakan sehari sebelum dan saat hari pertama puasa.
Di setiap kota di Jawa Barat mungkin memiliki sedikit perbedaan dalam menjalani tradisi ini, namun tradisi ini adalah hal wajib bagi masyarakat Sunda. Salah satu kesamaannya yakni berkumpulnya anggota keluarga untuk bersilaturahmi, berdoa bersama, dan makan sahur bersama.
Kata Munggahan sendiri berasal dari “munggah” yang berarti naik. Salah satu maknanya adalah ketika memasuki Ramadhan, masyarakat naik ke waktu atau bulan yang luhur derajatnya, dan diharapkan masyarakat juga menjadi pribadi yang lebih baik seiring dengan tibanya bulan suci Ramadhan, khususnya dalam urusan menahan hawa nafsu selama berpuasa.
5. Pesta Rakyat Dugderan, Semarang
Silaturahmi warga juga dirayakan bersama lewat pesta rakyat dengan arak-arakan di jalan-jalan utama, dipusatkan di masjid atau di tengah kota. Di Semarang, Dugderan atau pesta rakyat dengan menabuh beduk masjid menandai awal puasa. Arak-arakan ini dimulai di halaman balai kota menuju Masjid Besar Kauman, Pasar Johar, Semarang.
6. Festival Meriam Karbit, Pontianak
Sementara itu, dentuman meriam memeriahkan suasana Ramadhan di Pontianak lewat Festival Meriam Karbit yang diadakan di Sungai Kapuas. Festival tersebut rutin dilakukan masyarakat Melayu Pontianak untuk mengingat sejarah kota yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman.
Dulu meriam juga ditembakkan sebagai penanda waktu magrib, karena masjid-masjid belum punya alat pengeras suara. Kini meriam yang digunakan bukan lagi meriam seperti di zaman penjajahan, tetapi meriam tradisional dari kayu durian atau kayu kelapa.
7. Lomba Pacu Jalur, Riau
Sama-sama diadakan di sungai, Pacu Jalur atau lomba dayung diadakan masyarakat Kuantan Singingi, Riau, di sungai Kuantan. Lomba ini ditutup dengan mandi balimau kasai menjelang matahari terbenam hingga malam hari.
8. Festival Gunungan/Grebeg Apem, Jombang
Warga Jombang, Jawa Timur punya festival unik yang memperebutkan ribuan apem di Festival Gunungan/Grebeg Apem. Kue-kue apem itu dibuat oleh ibu-ibu dari komunitas pangan. Gunungan apem juga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mengampanyekan pangan nonberas kepada masyarakat. Di Yogyakarta, Festival Ruwahan Apeman biasanya diramaikan juga dengan kirab hasil bumi dan festival seni.
9. Mandi Balimau, Riau
Selain bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sahabat dan kerabat, masyarakat di beberapa daerah melakukan tradisi mandi untuk menyucikan diri lahir dan batin sebelum Ramadhan. Tradisi ini masih hidup di masyarakat Minang dan Riau.
Tradisi balimau, atau mandi di tempat pemandian dengan limau jeruk nipis sebagai pengganti sabun untuk menyegarkan tubuh ini diyakini telah dilakukan selama berabad-abad. Di Riau, selain limau, warga juga menggunakan kasai, pengharum rambut saat keramas sehingga disebut balimau kasai.
Kasai diyakini dapat membersihkan sifat buruk seperti iri hati atau dengki. Balimau kasai dilakukan oleh warga dengan menceburkan diri di Sungai Kampar dan kerap menarik perhatian turis.
10. Tradisi Padusan, Jawa Tengah
Di Jawa, tradisi serupa disebut padusan (adus = mandi). Jika dulu mandi berendam ini menggunakan air dari tujuh sumber, kini padusan bisa dilakukan di sumber air mana pun.
Tidak mengherankan, biasanya warga dari berbagai daerah seperti Klaten, Boyolali, dan Yogyakarta beramai-ramai mendatangi sumber air yang juga tempat wisata. Air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, Jawa Tengah, misalnya, dikunjungi lebih dari dua ribu orang dalam sehari menjelang puasa. (ist)
Seorang pengunjung menunjukkan prasasti Cunggrang berbahasa Sanksekerta. Foto: Terakota.id.
Sebuah pendapa mungil berdiri di kawasan permukiman padat penduduk di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pagar besi setinggi satu meter mengelilingi seluruh pendapa, menyisakan sepetak pintu masuk.
Di dalam pendapa, tegak berdiri prasasti terpahat di batu andesit setinggi lebih dari satu meter dengan bentuk berbeda. Satu berbentuk silinder, satu lagi pipih dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter. Guratan aksara sanksekerta di prasasti itu telah aus, sulit terbaca. Ada dua bongkah batu berbentuk lumpang di sisi kiri.
Prasasti itu adalah dikenal dengan Prasasti Cunggrang. Ini adalah salah satu prasasti tertua yang ditemukan di Jawa Timur. Dibuat pada tahun 851 Saka atau 929 Masehi oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa alias Mpu Sindok.
Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Medang atau Mataram periode Jawa Timur sekaligus pendiri Wangsa Isana.
Arkeolog Universitas Negeri Malang, Muzakir Dwi Cahyono menyebut Prasasti Cunggrang adalah sebuah prasasti penting yang memiliki makna ganda era Wangsa Isana.
Prasasti ini menjadi bukti bahwa sistem pengarsipan telah berjalan baik pada masa itu. Sekaligus menguak silsilah Mpu Sindok.
“Ada tiga Prasasti Cunggrang yang dikeluarkan Mpu Sindok dengan bahan berbeda, yaitu bahan tembaga, daun tal atau lontar dan bahan batu ini,” kata Dwi Cahyono seperti dikutip Terakota.id.
Bentuk daun lontar adalah draft awal yang memuat isi prasasti. Setelah naskah dinyatakan sempurna, berikutnya dipermanenkan dalam guratan di prasasti berbahan batu andesit atau disebut juga prasasti linggo.
Inilah Prasasti Cunggrang A atau aslinya yang kemudian diserahkan ke Desa Cunggrang selaku penerima anugerah dari kerajaan.
Sementara prasasti berbahan tembaga atau Prasasti Cunggrang B sebagai kopiannya, ditemukan di lereng Gunung Kawi. Kini disimpan di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di kawasan Kayu Tangan Kota Malang.
“Prasasti Cunggrang bahan batu juga disebut batu sima, karena ditancapkan ke tanah desa perdikan yang dibebaskan dari pajak atas perintah Mpu Sindok,” papar Dwi Cahyono.
Penetapan desa perdikan bebas pajak itu ditandai dengan prosesi membanting telur ke lumpang oleh Mpu Sindok. Sebagai penanda mengubah status Desa Cunggrang dari semula desa biasa menjadi desa istimewa. Itulah sebabnya di prasasti ini juga terdapat lumpang.
“Membanting telur simbol sabda pandita ratu, bahwa keputusan raja tak bisa dicabut,” ucap Dwi Cahyono.
Selain menetapkan desa perdikan sebagai desa sima atau bebas pajak, Prasasti Cunggrang juga menguak jati diri Mpu Sindok.
Bahwa Mpu Sindok memiliki permaisuri bernama Sri Parameswari Dyah Kebi putri dari Dyah Wawa. Artinya, Mpu Sindok adalah memantu dari raja terakhir Kerajaan Medang periode Jawa Tengah atau lazim disebut Mataram Kuno.
Menegaskan bahwa sebelum mendirikan Wangsa Isana, Mpu Sindok adalah pejabat karir. Dari semula sebagai Rakai Mahamantri Halu, naik pangkan menjadi Rakai Mahamantri Rakai Hino. Hingga pada akhirnya diangkat menantu oleh Dyah Wawa sekaligus menjadi raja dan mendirikan Wangsa Isana.
“Prasasti ini menguak identitas Mpu Sindok yang seorang pejabat karir sebelum menjadi raja,” ucap Dwi Cahyono. (ist)
Diaspora keturunan Jawa bertemu di ‘Javanese Diaspora Event III’ di Benteng Vredeburg. Foto: Detik.com.
Diaspora keturunan Jawa asal Suriname Antoon Sisal berharap meskipun bersinggungan dengan modernisasi para generasi muda keturunan Jawa tidak melupakan budaya Jawa.
“Pesan saya pada generasi muda Jawa jangan sampai lupa budaya Jawa meskipun saat ini sudah memasuki zaman modern,” kata Antoon menggunakan bahasa Jawa di sela pembukaan acara ‘Javanese Diaspora Event III’ bertema ‘Ngumpulke Balung Pisah’ di Benteng Vredeburg, Jogja, awal pekan lalu.
Menurut Antoon, selain tidak melupakan Budaya Jawa, generasi muda keturunan Jawa juga wajib melestarikan Budaya Jawa di manapun mereka berada. Sebab, meski tidak tinggal di wilayah etnis Jawa, para diaspora Jawa di Suriname hingga saat ini semangat melestarikan budaya Jawa.
“Prinsip kami Bahasa Belanda harus mengerti, Bahasa Jawa jangan sampai dilupakan,” kata dia seperti dikutip Koran Kompas.
Sementara diaspora Jawa lainnya asal Kaledonia Baru, Sherlly Timan mengatakan meski bahasa Jawa tidak secara terus menerus dipraktikkan dalam keseharian di negaranya, namun nilai budaya Jawa seperti tata krama atau unggah-ungguh melekat pada kepribadian para keturunan Jawa di Kaledonia.
“Soal tata krama, unggah-ungguh remaja keturunan Jawa di Kaledonia masih mengerti,” kata Sherlly.
Oleh sebab itu, ia juga berharap generasi muda keturunan Jawa, khususnya yang masih tinggal di wilayah etnis Jawa seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Jogja agar tidak menyia-nyiakan kekayaan Budaya Jawa yang dimilikinya.
“Kami sendiri di Kaledonia bercita-cita mendirikan Pusat Budaya Jawa,” kata dia yang datang bersama suaminya.
Ketua Panitia Javanese Diaspora Event (JDE) III, Indrata Kusuma Prijadi mengatakan acara ‘Javanese Diaspora Event III’ yang akan berlangsung 17-23 April 2017 bertujuan memfasilitasi para keturunan suku Jawa yang sudah lama tinggal atau bahkan lahir di luar negeri untuk saling bertemu dan menengok kembali sejarah masa lalu para leluhur mereka yang berasal dari tanah Jawa.
Indrata menyebutkan, para peserta yang hadir antara lain berasal dari Suriname, Kaledonia Baru, Belanda, Meksiko, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, dan Hong Kong. Akan hadir pula, keturunan Jawa dari dalam negeri yang berdomisili di luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan. (ist)
Hasta Brata dalam lakon Wahyu Makutharama. Foto: Nguriuriyossy.blogspot.co.id.
Lakon Wahyu Makutharama merupakan salah satu lakon populer dalam pertunjukan wayang. Lakon ini pada hakikatnya adalah ajaran kepemimpinan yang mentauladani sifat-sifat delapan anasir alam semesta, yang disebut Hasta Brata.
Ajaran ini merupakan jalan pemahaman kosmologis menuju ‘kemanunggalan’ antara jagad cilik (alam individu) dan jagad gedhé (alam semesta).
Barang siapa dapat melaksanakan delapan jalan utama tentang alam semesta akan disebut raja, sebaliknya manusia yang tidak dapat menjalankan delapan jalan utama itu akan disebut raja tak bermahkota.
Seperti yang disampaikan Ki Nartasabda, wejangan Hasta Brata (kadang juga ditulis Hastha Brata) berasal dari Begawan Kesawasidhi yang diberikan kepada Arjuna.
Hasta Brata seperti ditulis Dr Suyanto SKar MA, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta di websitenyahttp://suyanto.dosen.isi-ska.ac.id, berupa delapan ajaran yang mentauladani watak alam, yang terdiri atas: surya atau matahari, candra atau bulan, kartika atau bintang, himanda atau awan, kisma atau bumi, dahana atau api tirta atau air, dan samirana atau angin.
Simbol-simbol tersebut tak semata-mata lambang sebagai ketauladanan watak saja, tapi juga mengandung nilai pendidikan untuk memahami sifat-sifat dari tiap-tiap unsur alam itu.
Sehingga memberi pemahaman bagi manusia betapa pentingnya keberadaan semua unsur alam itu bagi kehidupannya. Dengan demikian manusia tidak memperlakukan alam ini secara semena-mena.
1. Watak Surya (Matahari)
Matahari memiliki daya kekuatan menyinari alam semesta. Membuat segala makhluk dan tumbuhan dapat hidup, tak memandang besar kecil, tinggi rendah, baik dan buruk, semua mendapat sinar matahari.
Di dalam alam individu (kosmis) manusia juga memiliki daya semangat yang didorong oleh kekuatan nafsu dan kehendak dalam hidup manusia. Semangat dalam jiwa manusia ini mempunyai peran sama seperti matahari dalam dunia makro.
Ketika manusia masih memiliki daya semangat yang besar, akan selalu memanfaatkan hidupnya untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.
Semangat manusia itu akan menyinari semua unsur biologis yang berhubungan dengan kehendak, cita-cita, ide, dan pikiran, sehingga semua unsur itu akan bergerak secara terus menerus sesuai dengan peranannya dalam kehidupan ini.
Tetapi apabila semangat itu padam, maka semua unsur itu tidak akan bergerak lagi, artinya hidup manusia ini tidak berguna lagi. Maka seorang pemimpin bagsa, selain perlu mentauladani sifat matahari, harus memahami pula kedudukan matahari itu dalam keteraturan semesta.
Dengan memahami kedudukan matahari di dunia ini, maka manusia akan menyadari betapa pentingnya matahari ini bagi kehidupan semesta, atas kesadaran itu tentunya manusia akan tersentuh nuraninya untuk selalu menjaga segala perbuatannya yang sekiranya akan mengganggu kelestarian alam.
2. Watak Candra (Bulan)
Bulan memantulkan cahaya karena mendapat sinar dari matahari, cahaya itu memantul ke bumi menerangi di waktu malam hari. Cahaya bulan memiliki daya sejuk dan menenteramkan hati yang memandang. Bulan dapat dikatakan sebagai lentera kehidupan.
Bagi orang Jawa, Rembulan juga digunakan sebagai pertanda waktu (penanggalan), rotasi bulan mengitari bumi selama 30 hari sebulan.
Di lihat dari bentuk penampilan bulan dalam satu bulan, orang Jawa mengelompokkannya dalam tiga tahap, sepuluh hari pertama disebut wulan tumanggal, purnamasidhi, dan panglong atau pangreman.
Hal ini dapat dipahami sebagai perlambang kehidupan manusia, bahwa kehidupan ini semua selalu lahir dari kecil. Dalam perjalanan ruang dan waktu manusia berkembang menjadi besar, dan suatu saat mengalami puncak kesuksesan dalam hidup.
Tapi manusia yang sukses itu tidak akan selamanya dapat menikmatinya, karena usia manusia terbatas, jasmani manusia dapat rusak suatu saat harus kembali ke asal mulanya melalui jalan kematian.
3. Watak Kartika (Bintang)
Bintang menjadi simbol panutan dan keindahan. Orang Jawa sejak dulu telah mengenal ilmu falak atau astronomi, yaitu ilmu tentang posisi, gerak, struktur, dan perkembangan benda-benda di langit, serta sistem-sistemnya (Bagus, 2005: 91).
Nenek moyang orang Jawa hidup sebagai pelaut, maka bintang menjadi petunjuk arah yang utama. Bintang-bintang yang dianggap sebagai petunjuk itu diberi nama-nama dalam bahasa Jawa sesuai dengan kelompok dan bentuk posisinya.
Misalnya lintang luku, yaitu kelompok bintang yang posisinya membentuk luku atau bajak; lintang gubug pèncèng, yakni kelompok bintang yang posisinya membentuk rumah reot; lintang kemukus yaitu bintang berekor (commet) yang muncul pada saat-saat tertentu saja, bintang ini dipandang sebagai pertanda buruk; lintang Bhimasakti atau galaksi, yaitu kelompok bintang yang membentuk tubuh wayang Bhima, kakinya sedang digigit naga. Dan seterusnya.
Bintang ini apabila posisinya berada di tengah-tengah langit, menjadi pertanda waktu tengah malam. Gerak dan posisi semua bintang selalu diikuti masyarakat Jawa tempo dulu, karena perjalanan bintang itu ada hubungannya dengan pergantian musim atau pranata mangsa.
Nelayan yang akan melaut atau petani yang akan bercocok tanam selalu mengikuti perjalanan bintang, agar mendapatkan panen yang memuaskan.
Orang Jawa juga mengenal horoskop. Nama-nama bintang digunakan sebagai lambang meramalkan watak orang dilihat dari hari kelahiranya. Hal ini dalam ngilmu Jawi disebut Palintangan.
Watak orang dapat dibaca menurut bintangnya, adapun bintang itu dapat diketahui melalui hari dan pasaran kelahirannya.
Orang Jawa juga telah mengenal astrologi, yaitu ilmu meramalkan sesuatu yang akan terjadi berdasarkan bintang-bintang. Astrologi ini dalam budaya Jawa lebih dikenal dengan istilah Pawukon, berasal dari kata Wuku.
4. Watak Himanda (Awan)
Awan dipandang sebagai lambang watak adil. Awan adalah uap air yang berasal dari tempat yang rendah seperti laut, sungai, rawa, dan lembah-lembah.
Disebabkan oleh terik matahari, air menguap menjadi awan. Gumpalan-gumpalan awan itu dibawa oleh angin membubung ke angkasa. Di angkasa gumpalan-gumpalan awan itu menyatu dengan lainnya hingga mampu menutup angkasa yang terang menjadi gelap gulita.
Akan tetapi ketika awan itu mencapai ketinggian tertentu dan suhu dingin tertentu, akan mencair dan menjadi air hujan yang akhirnya jatuh kembali ke bumi serta menyejukkan semua kehidupan di bumi.
Oleh karena itu seorang pemimpin perlu memahami sifat-sifat awan, bahwa sesungguhnya tidak ada keberhasilan dalam kehidupan ini yang dicapai secara tiba-tiba. Setiap manusia perlu mengingat asal-usul dan riwayatnya, sehingga pada saat menghadapi segala sesuatu yang terjadi pada dirinya akan mudah selalu introspeksi.
Ketika ia menghadapi kesusahan tidak putus asa, dan ketika hidupnya sukses tidak lupa daratan. Sekarang banyak dijumpai figur-figur pemimpin yang senang mengumbar janji, pada hal janji itu hanyalah sekedar janji yang tidak pernah ada realisasinya.
Ini merupakan salah satu gejala krisis moral, karena manusia didorong oleh kehendak yang tidak disertai ketajaman nuraninya. Manusia cenderung berpikir prakmatis, sehingga buta terhadap nilai-nilai filosofis.
Dengan memahami sifat-sifat awan ini, paling tidak manusia akan memiliki watak bijaksana; jika menjadi seorang pemimpin bangsa akan berwatak adil paramarta, sebagaimana awan ketika menjadi air hujan menyirami bumi seisinya. (ist/seri 1 dari 2 tulisan)
Warga menyantap ayam dan nasi yang dijadikan sesaji pada kunjungan di makam Buyut Cili. Foto: Tikarmedia.or.id
Tak salah ‘menitik’ Banyuwangi sebagai Kabupaten yang menyimpan potensi wisata alam dan seni budaya. Salah satu andalan yang cukup menarik hadirnya masyarakat asli Banyuwangi yang biasa disebut suku Using atau kadang juga ditulis Osing.
Masyarakat Using menampati desa Wisata Budaya Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Desa Using ini berjarak 6 km ke arah utara kota Banyuwangi. Desa kecil di kaki bukit pegunungan Ijen dengan ketinggian 144 mdpL ini memiliki udara cukup sejuk (22-26 derajat Celcius).
Saat memasuki desa ini, ada sambutan gerbang desa melintang di atas jalanan bertulis “Kawasan Desa Wisata Adat Using Kemiren”. Desa Kemiren ini konon lahir pada 1830-an. Semula desa ini masih berupa hamparan sawah milik penduduk Using di desa Cungking (5 km arah timur desa Kemiren). Kemudian karena beberapa alasan, sebagian penduduk desa Cungking pindah ke desa Kemiren hingga sekarang.
Menurut Sutrisno, salah satu tokoh desa Kemiren, penduduk disini hampir 100% masih keturunan suku Using dan masih memegang teguh adat istiadat yang ada. Satu sifat masyarakat Using adalah terbuka atau egaliter. Bahasa yang dipakai tanpa ada tingkatan bahasa (misal Kromo Inggil dan Ngoko dalam bahasa Jawa).
“Kami memperlakukan semua masyarakat setara, namun tetap memakai etika sopan santun. Orang Using cukup ramah dalam menyambut setiap tamu yang berkunjung ke desa kami,” ujar Sutrisno seperti dikutip MalangUpdate.com.
Laskar Majapahit
Profesor Leckerkerker, peneliti Belanda (1923:1031) menulis Suku Using yang berdiam di desa Kemiren ini merupakan laskar Majapahit yang ‘menyingkir’ tatkala mendapati kerajaannya mulai runtuh (tahun 1478 M). Dengan kekalahan itu, masyarakat dan laskar Majapahit melakukan eksodus ke berbagai arah, akibat tekanan kerajaan Demak.
Mereka yang melakukan eksodus sebagian menetap di Gunung Bromo (sebagai suku Tengger), menetap di Pulau Bali (sebagai suku Bali) dan sebagian lagi menetap di Blambangan (sebagai suku Using) yang menetap di beberapa desa: desa Kemiren, Olehsari, Mangir dll.
Namun dalam literatur Belada Pegeaud (Scholte,1972) dikatakan bahwa suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi, sisa laskar kerajaan Blambangan yang menyingkir akibat perang Puputan Bayu (1771-1772) melawan kolonial Belanda dibawah pimpinan Raden Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati.
Sebagai penduduk asli Banyuwangi, suku Using di Kemiren memiliki banyak budaya dan upacara. Ritual yang sering dilakukan masyarakatnya hingga hari ini antara lain Upacara Sedekah Bumi, Upacara Sedekah Penampan, Upacara Kupatan, Upacara Barong Ider Bumi, Upacara Tumpeng Sewu, Upacara Rebo Wekasan (selamatan untuk air).
Ada Upacara Adeg-adeg Tandur, Upacara Mecuti Pari (mencambuk saat padi mulai berisi), Selamatan Pari (saat padi mulai dipanen), Selamatan Sapi (dilakukan usai waktu membajak), Selamatan Kebonan, Selamatan Jenang Sumsum, Selamatan Syuraaan, Selamatan Nduduk Lemah, Selamatan Suwunan, Selamatan Ngebangi Umah dan masih banyak lagi.
Bila ditilik dari seni budaya yang ada maka bisa disebutkan Tari Gandrung, Tari Kuntulan, Tari Barong, Gedhogan, Mocoan Lontar Yusuf, Burdah, Jaran Kencak, Kiling, Angklung Pajak, Angklung Caruk, Angklung Tetek, Kenthulitan, Seni Ukir, seni arsitekturan (rumah adat Using), batik Gajah Uling dll.
Barong Ider Bumi
Salah satu seni budaya dan upacara suku Using di Kemiren yang menarik adalah upacara adat “Barong Ider Bumi”. Ritual unik ini terasa magis dalam pelaksanaannya. Acara ini selalu dilaksanakan pada hari kedua Idul Fitri atau tanggal 2 Syawal.
Tradisi ini dalam masyarakat suku Jawa dimaknai kurang lebih sebagai upacara “Bersih Desa”, yang juga dilaksanakan setiap tahun menurut hari jadi desanya masing-masing. Upacara Barong Ider Bumi dan Upacara Bersih Desa sama-sama dimaknai sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah serta keselamatan masyarakat desa selama tahun yang silam. Selain itu juga memohon berkah keselamatan untuk tahun mendatang.
Barong Kemiren ini tampil spesifik, Barong ini diwarnai merah, hijau, kuning, putih dan hitam yang menyimpan arti simbolisasi khusus. Barong Kemiren memiliki wujud unik. Barong ini memiliki sayap berjumlah empat dengan mahkota dan jamang di bagian kepalanya. Kesan sepintas yang muncul adanya pengaruh budaya Islam (“Buroq” ) kuda berkepala manusia dan bersayap, menjadi tunggangan kanjeng Nabi ketika naik ke Surga.
Jamang bundar besar warna merah mengesankan gada “Besi kuning” pusaka Minak Jingga, raja Blambangan dalam kisah pertunjukkan Ketoprak, Prabuloro dan janger Blambangan (Banyuwangi). Tafsir ini muncul setelah mempelajari sifat atau karakter masyarakat suku Using dengan ciri budaya Using yang sinkretis, yakni dapat menerima dan menyerap budaya masyarakat lain untuk diproduksi kembali menjadi budaya Using, tulis Heru SP Saputra dalam buku “Memuja Mantra” terbitan LKIS Jogja 2007.
Sesuai aturan bakunya, acara ritual “Barong Ider Bumi” ini harus tepat dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pemilihan waktu ini (jam 2 siang) memiliki arti filosofis yang diyakini suku Using secara turun-temurun. Menurut mereka, angka 2 adalah angka yang disuka oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Angka 2 menyiratkan berbagai hal dan anasir kehidupan. Sebagai contoh, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, menciptakan siang dan malam, menciptakan benar dan salah, menciptakan suka dan duka dan banyak lagi yang sifatnya berpasang-pasangan.
Bagi “lare (orang) Using”, mereka dilarang memulai acara diluar jam 14.00 WIB tersebut, karena apabila pantangan itu dilanggar, diyakini akibatnya akan mendatangkan petaka bagi masyarakat dan desanya.
Ritual “Barong Ider Bumi” dibuka dengan tarian Gandrung anak-anak kemudian dilanjutkan tari “Jaranan Bhuto” khas Blambangan. Jaranan Bhuto ini ditampilkan berdelapan orang. Dengan dandanan serupa raksasa, wajah bertaring nampak garang namun tetap artistik. Rambut menjuntai panjang sebahu ditutup mahkota warna emas.
Usai acara jaranan Buto inilah grup “Barong” mulai diiderkan (diarak) ke sepanjang jalanan desa sejauh 3 km, dengan diiringi musik yang meriah, berirama rancak. Arak-arakan Barong ini dilantuni bacaan mocopatan dan bakaran dupa oleh para sesepuh dan diikuti masyarakat umum dengan suka cita.
Berjalan paling depan dalam ritual Barong Ider Bumi adalah sesepuh desa yang bertugas “Sembur Othik-othik” (melempar sesaji berupa beras kuning dicampur bunga dan uang koin recehan) sejumlah 99.900.
Alasan memilih bilangan tersebut karena Allah ditafsirkan suka pada angka ganjil, dan angka 99 merujuk pada Asmaul Husna, Allah yang Maha Suci. Upacara “Sembur Othik-othik” ini ditujukan kepada masyarakat penonton yang berada di sepanjang kiri kanan jalan. Ritual yang disebut Lukiran oleh masyarakat Using ini dimaksudkan sebagai ‘sembur rejeki’ dan berkah keselamatan bagi masyarakat.
Usai “Barong Ider Bumi” dinyatakan selesai, maka sampailah pada puncak acara yakni selamatan bersama masyarakat sepanjang jalan desa dengan sajian “Tumpeng Pecel Pitik”, yaitu nasi putih yang gurih dengan urap ayam bakar bumbu kelapa.
Menurut Sutrisno acara “Barong Ider Bumi” ini selalu diadakan setiap tahun pada hari kedua Idul Fitri. Tradisi ini wajib dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan selama setahun yang lewat.
Selain itu juga dimohonkan menjaga keselamatan di tahun berikutnya. Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. ”Acara yang sakral ini berakhir dengan sukses dan meriah sebelum tabuh Magrib,” katanya.
Buyut Cili
Tinjauan secara mitologi, “Barong Ider Bumi” ini konon diawali ratusan tahun lalu. Keberadaan Barong Kemiren ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Buyut Cili. Danyang desa yang menjadi punden desa Kemiren dan Olehsari. Masyarakat Using percaya bahwa Buyut Cili adalah orang sakti Majapahit yang beragama Hindu.
Dalam mitosnya, beliau sesungguhnya adalah pelarian dari kerajaan Macan Putih, sambungan kerajaan Blambangan dan Majapahit. Hal ini sesuai namanya “Cili” yang dalam bahasa Using berarti “pelarian”. Ikhwal kisah, Buyut Cili adalah pendeta Hindu-Budha.
Beliau bersama sang istri terpaksa melarikan diri dari kerajaan Macan Putih, sebab sang Raja yang bengis itu juga seorang kanibalis. Sang raja hendak merebut sang istri untuk dimakan. Karena Buyut Cili tidak bermaksud bertentangan, maka beliau memilih menyingkirkan diri sampai akhirnya tiba di desa Kemiren. Namun versi lain mengisahkan bahwa Buyut Cili menyingkir ke desa Kemiren ini akibat tekanan kerajaan Demak.
Babak selanjutnya, dikisahkan suatu hari desa Kemiren terserang wabah penyakit mengerikan. Banyak orang sakit pagi, sore harinya meninggal. Selain itu juga datangnya musim “pagebluk” berkepanjangan, membuat persawahan diserang hama dan gagal panen.
Melihat hal demikian, Buyut Cili segera memohon petunjuk Sang Maha Agung. Dan dalam petunjukNya, masyarakat desa Kemiren diminta segera menggelar ritual selamatan desa bersama-sama dengan menu Tumpeng Pecel Ayam Bakar bumbu kelapa.
Selain itu diingatkan pula sebelum melakukan selamatan, hendaknya terlebih dahulu menggelar arak-arakan Barong untuk menolak bencana (Tolak Bala). Konon Barong yang dipercaya sebagai binatang mistis itu menjadi peliharaan Buyut Cili.
Tak jauh dari jalan utama desa, terdapat petilasan Buyut Cili pada areal kebun. Sampai sekarang petilasan Buyut Cili masih dikeramatkan dan didatangi pengunjung, terutama malam Jumat dan Minggu sore sambil mengadakan selamatan Tumpeng Pecel Ayam Urap Kelapa. (ist)
Menara Masjid Kudus mirip candi di Jawa Timur. Foto: ist.
Ketika pertama kali dibangun pada abad ke-8, Candi Borobudur jelas-jelas ditujukan sebagai tempat pemujaan agama Buddha. Namun, sepuluh abad kemudian setelah muncul dari semak belukar yang menutupinya, candi itu telah menjelma menjadi peninggalan masa lampau yang bersifat lintas agama.
Karena merupakan monumen mati (dead monument), artinya tidak digunakan secara terus-menerus oleh pendukung agama Buddha, maka banyak pakar tertarik mengkaji bangunan ini. Ada yang membahasnya dari aspek-aspek filsafat, arsitektur, sejarah, dan planologi. Ada pula yang mengulasnya dari segi seni, teknik, budaya, dan sebagainya.
Lebih dari itu, Candi Borobudur telah dianggap sebagai monumen milik dunia. Karena itu, ketika candi ini mengalami kerusakan parah dan perlu dipugar secara besar-besaran, banyak negara ikut berpartisipasi tanpa memandang keagamaan yang diwakilinya.
Mereka menganggap Candi Borobudur adalah milik semua agama. Terbukti, banyak pemeluk non-Buddha amat mengagumi candi ini dan terus berdatangan ke sini hingga sekarang. Candi Borobudur merupakan contoh nyata dari adanya kerukunan dan toleransi beragama di tanah air kita.
Pemerhati sejarah Djulianto Susantio dalam situsnya Hurahura.wordpress.com menulis bahwa sebenarnya, bukan hanya Candi Borobudur yang menyontohkan adanya kepedulian seperti itu. Banyak peninggalan masa lampau menjadi bukti betapa kerukunan beragama sudah terjalin sejak lama.
Hingga saat ini adanya toleransi beragama yang paling tua ditemukan pada situs Batujaya, Karawang (Jawa Barat). Pertanggalannya ditaksir dari masa abad ke-5 Masehi. Sebagaimana laporan Tim Arkeologi UI, di situs ini pernah ditemukan candi Buddha dan candi Hindu yang berdekatan letaknya.
Situs Batujaya juga tergolong istimewa karena pernah memiliki tradisi berciri megalitik sebagai agama asli waktu itu. Tradisi tersebut berkembang sebelum zaman Hindu Buddha. Tiga agama hidup berdampingan secara damai, tanpa ada rasa saling bermusuhan tentu menunjukkan betapa toleransi beragama benar-benar dijunjung tinggi masyarakat kala itu.
Toleransi beragama juga terdapat pada Candi Jawi di Jawa Timur. Atap candi yang berbentuk stupa atau genta, menandakan bangunan suci agama Buddha. Sementara di halaman candi pernah ditemukan sejumlah arca seperti Durga, Siwa, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara yang mewakili agama Hindu.
Kitab kuno Nagarakretagama pernah menyebutkan suatu bangunan Jajawa (identik dengan Candi Jawi) sebagai tempat pendharmaan Raja Singasari Kertanegara (1268-1292) dalam perwujudannya sebagai Siwa-Buddha. Siwa adalah salah satu dewa Trimurti dalam agama Hindu. Ditinjau dari kacamata arkeologi, candi Jawi termasuk unik dan langka karena mewakili dua agama sekaligus.
Bukan hanya toleransi Hindu-Buddha yang tercipta waktu itu. Toleransi Islam-Hindu juga kerap terlihat, antara lain pada menara Masjid Kudus. Bangunan itu terbuat dari bata tanpa lepa (semacam perekat). Teknik konstruksi demikian sangat populer pada masa pra-Islam.
Beberapa pakar menyebutkan Menara Kudus mirip candi di Jawa Timur, terlebih karena bangunan itu menghadap ke Barat. Kaki bangunannya yang bertingkat-tingkat dipandang merupakan pengaruh dari masa Majapahit. Ada juga pakar yang menafsirkan Menara Kudus mirip bangunan kulkul di Bali. Banyak ornamen masjid yang diperkaya dengan seni hias Arab, Cina, Vietnam, dan Eropa, semakin menunjukkan kemajemukan kala itu sangat luar biasa.
Dihadapan para pengikutnya, Sunan Kudus pernah memerintahkan agar sapi tidak disembelih dan dikonsumsi, lantaran banyak “saudara-saudara” beragama Hindu yang menganggap seekor sapi sebagai hewan suci. Supaya tidak menyakiti hati mereka, katanya, biarlah mereka yang Muslim tidak mencicipi daging sapi. Toh jika urusannya cuma menu makanan, masih banyak daging hewan lain yang bisa disate atau disop.
Di Jawa Timur, adanya toleransi beragama diperlihatkan oleh makam kuno Tralaya di Trowulan. Sejumlah batu nisan pada kompleks makam Islam itu bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab pada tiap sisi, berupa tahun Saka dan gambar sinar matahari yang biasa dijumpai pada hasil seni Majapahit. Huruf Jawa Kuno dan tahun Saka merupakan pengaruh India yang sering diidentikkan dengan agama Hindu dan Buddha.
Toleransi beragama yang kuat diperlihatkan pula oleh Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Pada saat-saat tertentu banyak masyarakat Islam, Buddha, Konghucu, dan etnis Tionghoa datang ke tempat itu untuk berbagai keperluan. Begitu pula kelenteng Tuban, yang dipenuhi oleh peziarah Tionghoa dan Islam ketika bulan Ramadhan tiba. Satu untuk semua, begitulah kira-kira maknanya.
Pada zaman modern ini sebenarnya toleransi beragama masih diperlihatkan masyarakat Indonesia. Pembangunan gereja di Ambon, misalnya, sering kali dibantu pengerjaan dan pembiayaannya oleh umat-umat agama lain. Begitu pula pembangunan masjid.
Kemajemukan yang rukun juga masih dapat ditemui di Bali hingga saat ini. Pembangunan masjid di tengah perkampungan umat Hindu, bukanlah hal aneh. Letaknya pun bersebelahan dengan sebuah pura dan gereja. Komunitas agama-agama itu selalu saling membantu karena beranggapan mereka adalah bersaudara. Karena itu tak ada sedikit pun kekhawatiran bagi umat Islam dan Kristiani yang tergolong minoritas untuk beribadah di Bali.
Malah setiap berlangsung perayaan Natal, sejumlah gereja dihias dengan ornamen khas Bali, seperti pura dan gapura. Ornamen demikian mengingatkan kita kepada kebudayaan Hindu. Barangkali tidak banyak orang tahu kalau arsitektur Masjid Istiqlal Jakarta, salah satu masjid terbesar di Indonesia ini, dirancang oleh arsitek F Silaban yang beragama Kristen. Setidaknya ini juga memperlihatkan bukti toleransi beragama.
Sayang, sekarang toleransi beragama sudah luntur. Meskipun pada prinsipnya semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi ada saja oknum-oknum yang berbuat menyimpang. Akibatnya, sering terjadi penistaan terhadap golongan minoritas. Untuk itulah kita harus benar-benar belajar dari kearifan masa lampau. (ist/Djulianto Susantio)