Mbah Soegito: Seniman Pengajar Gamelan di Australia

foto
Mbah Soegito, sudah puluhan tahun mengajar gamelan di Australia. Foto: Detik.com.

Saat pementasan wayang kulit di Canberra, Australia ada satu sosok yang begitu mencolok di belakang panggung. Bukan sang dalang, namun sesosok lelaki berumur sekitar 70 tahun yang begitu dihormati semua pemain yang terlibat dalam pementasan wayang itu.

Namanya adalah Mbah Soegito, staff KBRI Canberra yang menjadi pengajar gamelan. Malam itu, Mbah Soegito terlihat begitu gagah dengan pakaian beskap lengkap dengan keris.

Saat masuk ke ruang ganti pemain, semua menyalami Mbah Soegito. Pemain gamelan yang kebanyakan merupakan warga Australia itu tetap menyapa Mbah Soegito dengan sebutan ‘Mbah’. Mbah Soegito bukanlah orang baru di KBRI Canberra. Sudah 30 tahun lebih, Soegito bekerja di bagian kebudayaan KBRI Canberra.

Saat pementasan wayang, Mbah Soegito begitu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk berbincang. Dia lalu mengajak media yang difasilitasi Australia Plus ABC International yang tengah berada di Canberra untuk datang ke kantornya keesokan harinya.

Hari berikutnya sangat dikunjungi, Mbah Soegito tengah mengajar gamelan. Saat itu hari Senin malam, rupanya memang jadwal para warga Australia berlatih gamelan di KBRI Canberra.

Usai mengajar, meski hari sudah malam, Mbah Soegito tetap menyempatkan diri untuk berbincang. Sosoknya begitu ramah dan terlihat sangat sabar ketika mengajar.

Mbah Soegito lalu bercerita kegiatannya saat ini, seharusnya dia sudah pensiun, namun pihak KBRI Canberra masih membutuhkan tenaganya untuk mengajarkan gamelan. Mbah Soegito pun menerima tugas itu dengan senang hati dan penuh dedikasi.

“Saya setiap Senin malam melatih mereka di sini. Kalau siangnya, biasanya ada anak-anak sekolah datang ke sini, untuk belajar gamelan juga,” kata Mbah Soegito seperti dikutip Detik.com.

Lelaki yang masih terlihat gagah itu kemudian berkisah awal cerita dia pergi ke Australia. Kala itu di tahun 1970-an, Soegito muda datang ke Australia untuk bekerja. Di beberapa waktu terbesit keinginan di hati Soegito untuk bermain gamelan, namun apa daya, dia tidak memiliki partner untuk bermain.

“Ya akhirnya satu-satunya cara ya saya harus mengajar teman-teman saya main gamelan. Kan jadinya saya bisa main di sini,” jelas Soegito.

Seiring berjalannya waktu, nama Soegito didengar Dubes Indonesia untuk Australia. Untuk diketahui, sejak masih di Indonesia, Soegito sudah malang melintang dari panggung ke panggung bermain gamelan. Bahkan dia pernah beberapa kali mengikuti muhibah seni di beberapa negara.

Pada tahun 1983, Soegito diminta bergabung dengan Kedutaan Indonesia untuk Australia, tugasnya satu, yakni mempromosikan budaya Indonesia terutama gamelan. Tugas yang disampaikan langsung oleh duta besar kala itu tak ditolak Soegito. Dia lalu bergabung dengan kedutaan.

“Saya masuk kedutaan diminta, saat itu saya mengajar di Universitas New England. Tahun 1983, saya belajar bahasa dulu,” ungkapnya.

Sejak tahun 1983 itu Soegito aktif mengajarkan gamelan kepada para warga Australia. Saat ada acara kebudayaan di berbagai tempat di Australia, Soegito diminta untuk tampil.

Seiring berjalannya waktu, nama Soegito mulai dikenal di kalangan seniman di Australia. Hingga akhirnya dia diminta untuk mengajar di berbagai universitas di Australia. Setidaknya ada 8 universitas yang meminta Soegito untuk mengajar gamelan, antara lain Melbourne University, Monash University, Adelaide University, Australian National University dan beberapa universitas lain.

Hari-hari Soegito dihabiskan untuk mengajarkan gamelan. Dia melakukan pekerjaannya sepenuh hati dan begitu menikmati aktifitas setiap harinya.

“Saya dipesani pemerintah untuk mengembangkan gamelan, ya walaupun hanya sekedar kecil, itu saya mempromosikan. Saya bergelud dengan kesenian itu sudah lama banget,” kisahnya.

Lelaki asal Pedan, Klaten, Jawa Tengah itu mengaku tidak pernah belajar gamelan di institusi resmi. Dia mengenal gamelan sejak usia 13 tahun.

Ayahnya yang dulu seorang lurah yang mengenalkan Soegito kecil dengan gamelan. Menurut Soegito, dahulu orang yang bisa main gamelan sangat dihargai para pemudi desa. Hal tersebut menjadi salah satu motivasinya.

:Saya ini hanya seniman desa, tidak belajar di sekolah. Ya hanya belajar di desa. Dulu ayah saya yang membuatkan gamelan dan menyuruh saya bermain. Sebelumnya saya bermain keroncong,” urainya.

Puluhan tahun mengajar gamelan untuk warga Australia, Soegito mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Dia sangat senang ketika para muridnya belajar gamelan dengan sepenuh hati. Tanpa bermaksud membandingkan, Soegito mengaku lebih enjoy mengajar warga Australia.

“Kalau warga Australia itu belajar disiplin dan sungguh-sungguh, mereka bekerja sepenuh hati,” tegasnya.

Namun, tetap ada kekurangan dari warga Australia yang dirasakan Soegito saat bermain gamelan. Menurut Soegito, pemain gamelan dari Australia sangat sulit mendapatkan feeling. Padahal, bermain gamelan juga harus melibatkan rasa, bukan hanya bermain notasi dan memukul alat musik.

“Feelingnya memang susah didapat, ya mereka seperti mekanis saja. Notnya apa, ya dimainkan,” imbuhnya.

Hingga kini, Mbah Soegito masih aktif mengajar gamelan, meski tidak sebanyak dahulu. Soegito pun sudah menganggap beberapa muridnya seperti anak dan cucunya sendiri.

Lalu sampai kapan Mbah Soegito akan mengajar gamelan? “Ya selama saya masih bisa mengajar, ya akan saya lakukan. Selama saya dibutuhkan, ya saya akan kerjakan,” tuturnya dengan penuh ketenangan. (dtc)

Jejak Pertemuan Terakhir Brawijaya dan Sabdopalon

foto
Candi Alas Purwo di pesisir Teluk Panggang Banyuwangi. Foto: ist.

Kabupaten Banyuwangi yang dahulu dikenal dengan Blambangan menyimpan banyak kisah sejarah. Salah satunya Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di wilayah Kecamatan Tegaldlimo.

Di kawasan hutan alami ini, terdapat bangunan Candi Alas Purwo yang disakralkan. Konon, tempat ini menjadi lokasi terakhir bertemunya Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan Sabdopalon, beberapa saat setelah Majapahit runtuh.

Candi Alas Purwo berada di pesisir Teluk Pangpang. Secara administrasi masuk Dusun Pondok Asem, Kecamatan Tegaldlimo. Lokasinya berada di tengah hutan bakau, sangat sunyi dan indah.

Di dekat candi terdapat muara, pertemuan sungai dengan air laut. Hulu dari kawasan ini berada di Semenanjung Sembulungan, Muncar. Bangunan candi terlihat menjulang, ukirannya bernuansa khas Majapahit.

Tempat ini kerap dikunjungi sebagai lokasi wisata religi. Terutama, umat Hindu Bali dan umat Hindu dari Tegaldlimo. Bahkan, ada juga pengikut Kejawen yang kerap mendatangi lokasi ini untuk melakukan semedi.

Warga juga menyebut lokasi candi ini dengan Gumuk Gadung. Sepintas, memang lokasinya berada di ketinggian. Versi warga, bukit ini menjadi saksi bisu pertemuan antara Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan sang abdi dalem terdekatnya, Sabdopalon.

Konon, kala itu, ketika Majapahit runtuh, Brawijaya ke Blambangan. Lalu, di bukit inilah terjadi diskusi terakhir antara Brawijaya dengan Sabdopalon. Hasilnya, Brawijaya memilih pergi ke Gunung Lawu. Sedangkan Sabdopalon yang setia dengan ajaran leluhur, lenyap. Hilang ke alam nirwana.

Dulu, sebelum dibangun candi, terdapat sebuah pohon kelampis ireng. Nama Candi Purwo ini juga memiliki makna mendalam. Harapannya, masyarakat tetap ingat dengan kawitan atau sejarah. Candi juga sebagai simbol kebesaran Nusantara dengan kebhinekaan.

Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Kecamatan Tegaldlimo, Joko Setiyoso seperti dikutip JatimTimes.com mengatakan, Pura Agung Candi Purwa itu dibangun tahun 1996. Dananya dari swadaya umat Hindu Tegaldlimo, dibantu donator dari Bali.

Lalu, 11 September 2011 digelar pamelaspas atau upacara peresmian. Kala itu, diyakini, tonggak sejarah kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa. Sekaligus, tonggak sejarah Nusantara.

Lokasi candi cukup jauh dari keramaian. Bangunannya perpaduan khas Jawa dan Bali. Namun, dominan Jawa, terutama mirip peninggalan era Majapahit. Bangunannya menghadap ke timur arah matahari terbit. Ini simbul kawitan atau awal.

Menuju lokasi candi, dibutuhkan sedikit perjuangan. Dari kota Banyuwangi butuh sekitar 2 jam. Jalur menuju candi ini satu arah dengan Taman Nasional Alas Purwo. Begitu masuk ke kawasan hutan, akan muncul papan nama menuju candi. Jalannya masih sempit.

Memasuki Dusun Pondok Asem, Desa Kedungasri, pengunjung harus menyusuri jalan makadam, sekitar 3 kilometer. Lalu, jalan setapak dikelilingi hutan bakau rindang. Medannya cukup sulit. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki hingga ke pelataran candi. Sebab, tak bisa dilalui kendaraan.

Bagi yang suka berpetualang spiritual, kawasan candi ini sangat cocok. Tempatnya hening, jauh dari hiruk pikuk warga. Di hari-hari tertentu, banyak pengunjung menginap di tempat ini. Beberapa juga datang dari luar daerah. Salah satunya, dari Bali.

Bagi yang ingin menginap, di dekat candi dibangun sebuah balai. Bisa menampung sekitar 50 orang. Sebagai kawasan wisata religi, Candi Purwo belum dilengkapi fasilitas umum. Seperti warung. Sehingga, bagi yang ingin bermalam, sebaiknya membawa perbekalan sendiri.

Deretan hutan bakau dan sekumpulan burung menjadi obyek menarik. Pengunjung juga tak perlu mengeluarkan biaya saat masuk ke kawasan ini.

Ditempat terpisah, Kepala Desa Kedungasri Sunaryo pada media ini mengatakan, bahwa situs itu tentu tak hanya sekedar menjadi magnet sejarah. Pihak pemerintah desa melalui niatnya ingin menjadikan tempat itu sebagai tempat wisata baru bagi warga. Tak hanya wisata alam, melainkan juga sebagai wisata religi.

“Tentu kita harus mendukung dengan pembangunan akses jalan untuk menuju ke Candi Alas Purwo. Karena ini dirasa sangat penting sebagai penguatan, tidak hanya sejarah maupun religi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang mampu dikembangkan bagi warga,” papar Sunaryo, Kepala Desa Kedungasri. (ist)

Terowongan Surowono, Irigasi Era Majapahit

foto
Masih ada misteri dalam Terowongan Surowono. Foto: Sarkawijayaharahap.blogspot.co.id.

Konon, para raja Majapahit bersembunyi di terowongan bawah tanah alas (hutan) Surowono di masa peperangan. Juga tersiar kabar adanya sistem pengairan dan irigasi yang dibangun di bawah permukaan tanah alas Surowono oleh kerajaan tersohor itu.

Adalah Terowongan Surowono, terowongan bawah tanah yang selalu terisi air mengalir. Hawanya sejuk berselimut rimbun bambu dan akar beringin yang semakin menguat.

Terletak di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Masyarakat setempat mempercayai bahwa selain candi dan pemandian, terowongan tersebut adalah awal peradaban dusun Surowono. Dipercayai pula, terowongan ini sudah ada sejak jaman Majapahit.

Salah satu pemandu terowongan, Slamet (48) kepada LensaIndonesia.com mengatakan, terowongan ini digunakan untuk tempat persembunyian para raja Majapahit di masa peperangan. Selain itu juga digunakan untuk pelarungan sesaji dalam upacara keagamaan.

Sejatinya, terowongan ini adalah terowongan air bawah tanah yang berjarak sembilan meter dari permukaan tanah. Mempunyai dua sisi, yakni Utara dan Selatan. Terowongan sisi Selatan mengarah ke sungai. Terdiri dari lima sumur dengan jarak antar sumur sekitar 50-100 meter. Mulut terowongan berbentuk kubah, mempunyai tinggi sekitar 160-180 sentimeter.

Di beberapa bagian, ketinggiannya hanya 150 sentimeter. Bahkan di antara sumur keempat dan kelima, jarak dasar terowongan dengan langit-langit hanya sekitar 60 sentimeter. Pada dinding-dindingnya banyak rembesan air, sehingga membuat ruangan selalu terisi air dengan ketinggian bervariasi, mulai setinggi mata kaki hingga perut orang dewasa.

Sedangkan terowongan sisi Utara fisiknya tak jauh beda dengan terowongan sisi Selatan. Namun hingga saat ini masih belum diketahui terowongan tersebut mengarah ke mana.

Juru kunci terowongan, Samsul mengatakan, tim penjelajah dari warga setempat tak bisa meneruskan perjalanan. Karena kadar oksigen di dalam terowongan sisi Utara lebih rendah daripada sisi Selatan.

Kasub Inventaris Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Kholis menyatakan, terowongan Surowono adalah kanal atau sistem pengairan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit.

Hal itu dikuatkan dengan adanya penjelasan dari kitab Negarakertagama Pupuh 82 yang ditulis oleh Prapanca. Dijelaskan, Sri Nata Wengker (raja Wengker) membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Disebutkan pula, Hayam wuruk juga membuka hutan di Tigawangi.

Arkeolog Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menyatakan, terowongan Surowono adalah sistem pengairan yang jelas direncanakan untuk kepentingan irigasi.

Diperlukan bagi persawahan yang dikelola untuk kepentingan candi. Itu pula yang menyebabkan terowongan di Surowono bersambungan dengan sungai yang mengairi persawahan di Dukuh Sumberagung yang bersebelahan dengan Surowono.

Kenyataannya, menurut Slamet, di Surowono dan Sumberagung masa tanam bisa dilakukan tiga kali tanpa pernah mengalami kekeringan. Banjir juga belum pernah melanda.

Suasananya nan teduh, airnya yang menawarkan kesegaran dan track terowongan yang menantang adrenalin menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menggemari wisata alam.

Tak sedikit wisatawan domestik maupun asing yang berkunjung ke terowongan ini untuk menikmati kesegaran air, susur terowongan bahkan hanya untuk bersantai-santai saja. “Di kala akhir minggu dan hari libur pengunjung bisa mencapai 100 orang setiap harinya,” jelas Slamet.

Di dalam terowongan, pengunjung akan dihadapkan dengan kondisi ruangan yang gelap, lembab, dingin dan pengap. Untuk dapat menyusur terowongan tak diperkenankan masuk tanpa kawalan pemandu. Karena banyak persimpangan di beberapa bagian terowongan. Tak jarang pengunjung yang tersesat dan pingsan saat melakukan penyusuran. (ist)

Sucipto: Penjaga Tradisi Barong Suku Using

foto
Sucipto, generasi keenam penjaga tradisi Barong Suku Using. Foto: Merdeka.com.

Dibawah kepemimpinannya Barong Kemiren mulai dikenal dunia internasional. Apalagi Pemkab Banyuwangi getol mempromosikan pariwisata. Barong Kemiren pernah pentas di di Frankrut Jerman pada 2015 dan Belanda pada 2012. Bahkan rumah Sucipto, juga sempat menjadi tempat pembuatan video clip penyanyi jazz, Syahrani.

Mayoritas semua orang kenal Sucipto. Bahkan rumah Sucipto di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah ini telah biasa didatangi tamu-tamu penting Banyuwangi, termasuk Duta Besar AS untuk Indonesia. Rumah Sucipto bergaya khas rumah Osing. Pelatarannya luas, dengan kayu sebagai bahan dasar rumahnya. Rumah itu bisa dipindahkan layaknya rumah Osing pada umumnya.

Rumah ini selalu menjadi jujukan apabila ada tamu Banyuwangi yang ingin mengetahui atau mempelajari kebudayaan kbupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut. “Saya lahir di rumah ini,” kata Sucipto kepada TribuneNews.com.

Siapa sebenarnya Sucipto? Mengapa sosoknya begitu penting di kebudayaan Kemiren dan Banyuwangi? Melihat bapak dua anak itu, tidak menyangka apabila dia adalah orang penting. Sucipto terlihat biasa saja. Bahkan banyak orang yang datang ke rumahnya untuk pijat.

Saat bertandang ke rumah Sucipto, dia mengenakan pakaian biasa saja. Mengenakan kemeja, dan celana hitam yang penuh kantung. Apabila ada tamu, biasanya ditempatkan di pelataran samping rumahnya. Kopi dan pecel ayam menjadi suguhannya. Apabila lagi musim, durian juga disuguhkan. Kemiren itu sendiri konon berasal dari kata ‘kemiri’ dan ‘duren’.

Menjadi juru kunci Barong, tidaklah sembarang orang. Tidak ada pungutan suara, bukan pula melalui voting. Melainkan dari wangsit yang muncul secara tiba-tiba. Setiap juru kunci merasakan hal itu. Mereka adalah orang pilihan yang dipilih secara spesial kadang tak masuk akal.

Sucipto mulai belajar Barong sejak bocah. Ketika usianya 9 tahun, dirinya mengaku dilarang ibunya belajar barong: “Cip, jangan main barong, tidak bagus,” begitu kata ibunya suatu hari.

Malam berselang dan ibunya sakit, tangannya tak dapat ditekuk, matanya berangsur buta. Sang ayah telah membawa ibunya berobat ke Jember, lima kali. Tiga ekor sapi ludes untuk biaya, tapi sang ibu tak kunjung sembuh.

Saat itulah Sucipto kecil berdoa kepada Buyut Culi, agar ibunya diberi kesembuhan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika berdoa, jatuh sebuah bunga di depannya. Sucipto merendam bunga ini dengan air, dan dibasuhkan ke ibunya, termasuk matanya. Ibunya pun sembuh. Mulai saat itulah Sucipto tekun belajar tentang Barong, nguri-uri budaya Using melalui Barong.

Sucipto terpilih di usia 23 tahun. Sucipto masih ingat betul, saat itu Kamis malam. Di depan pintu rumahnya tiba-tiba muncul anak panah berwarna hijau. Saat itu, Sucipto tak berani keluar karena takut. Lama kelamaan, anak panah itu berubah menjadi cahaya mirip cahaya bulan. Sucipto kian takut bahkan menggigil. Dia tidak berani membuka pintu.

“Saya sangat ketakutan dan menggigil. Saya tidak tahu itu apa,” kata pria kelahiran 28 Agustus 1963 tersebut. Tidak berapa lama, datang Pak Safii, juru kunci generasi kelima ke rumah Sucipto. Dia langsung mengucapkan selamat pada Sucipto. “Sejak itulah saya menjadi generasi keenam,” kata suami Holilah itu.

Di bawah kepemimpinan Sucipto, Barong Kemiren kini terus berkembang. Sucipto melakukan regenerasi pada Barong Kemiren. Jika selama lima generasi hanya ada satu, yakni Tresno Budoyo, Sucipto membentuk dua generasi baru, Sapujagat dan Sawung Alit.

Tresno Budoyo diisi oleh pemain-pemain tua yang berusia 35 tahun ke atas. Saat ini terdapat 40 orang. Sedangkan Sapujagat juga dikenal dengan Barong Lancing (pemuda) yang berisi pemain berusia 20-30 tahun. Terdapat 45 orang di Sapujagat.

Sedangkan Sawung Alit merupakan Barong yang diisi pemain-pemain anak-anak dan remaja. Mereka masih duduk di bangku SMP. “Ini untuk regenerasi agar Barong Kemiren tidak punah. Karena Barong Kemiren, harus dimainkan oleh orang Kemiren asli,” kata pria yang tidak sampai lulus SMP itu.

Kini nama Barong Kemiren telah banyak dikenal, dan sering melakukan pementasan. Namun bukan berarti itu membuat Sucipto kaya raya. Uang yang didapat dari pementasan hanya cukup dibagikan pada pemain dan biaya operasional.

Bahkan Sucipto sering mengeluarkan dana pribadi untuk acara-acara adat di Kemiren. Seperti selamatan Ider Bumi, di hari lebaran kedua. Senin dan Jumat pertama pada bulan haji.

Bahkan untuk menggapai cita-citanya, membangun sanggar Barong Kemiren, Sucipto masih belum sanggup. Selama ini, tempat latihan Barong Kemiren, selalu di rumah juru kunci. Belum ada sanggar tetap yang bisa digunakan untuk melestarikan Barong Kemiren. “Satu cita-cita saya yang belum terwujud. Membangun sanggar,” kata Sucipto.

Sarat Petuah Hidup
Barong Kemiren, merupakan kesenian kuno yang dibuat pada Abad XVI. Kesenian adat Kemiren, yang juga disebut Barong Using atau Osing. Barong Kemiren yang dibuat Mbah Sapuah oleh atas petunjuk gaib Mbah Buyut Cili, pendiri Desa Kemiren, itu mengandung filosofi hidup.

“Nama barong, berarti bareng-bareng (bersama-sama) melestarikan budaya. Mulut menganga bermakna; barong tidak boleh serakah. Jika butuh makan, harus bekerja keras untuk masa depan rumah tanggamu,” terang Sucipto seperti dikutip Merdeka.com.

Barong Kemiren juga memiliki dua sayap, yaitu sayap laki-laki dan perempuan. “Makna dari dua sayap barong, jika kamu hendak kemana-mana (terbang), silakan. Suka-suka saja. Asal jangan malas, bekerjalah meski sudah kaya-raya, seperti yang dimaknakan pada mulut barong yang menganga,” kata bapak dua anak ini.

Keling atau lekukan pada topi barong dengan kepala garuda menghadap ke belakang. “Ini sebagai pengingat. Barong harus ingat bahaya dibelakang. Meski ada wanita cantik menggoda, barong harus ileng (keling) atau waspada. Barong harus selalu tepo seliro, kalau kata orang Kemiren,” sambung Sucipto.

Ada simbol angsang di kepala barong artinya, punya pikiran jangan merangsang. Kalau ada tetangga memiliki apa-apa (kaya) jangan pernah iri dengki. “Merasalah bahagia, karena esok kamu bakal mendapat apa yang kamu inginkan,” jelasnya.

Di kepala barong, juga terdapat mahkota mirip kubah masjid. Kata Pendiri Sanggar Barong Sapu Jagat ini, mahkota barong sebagai simbol keislaman barong. “Kalau keislaman itu dirangkum dengan segala perbuatan, semua akan tunduk pada pikiran, pada budi pekerti baik, yang semuanya bermuara pada Yang Maha Kuasa. Jika semua digabungkan, putihlah seperti tanda warna kain yang dikenakan barong.”

Barong Kemiren juga memiliki rumbai-rumbai yang diibaratkan sebagai keluarga besar. Jika semua keluarga bersatu, maka akan kuat. ?Kemudian ada rumbai-rumbai yang mengibaratkan anak-cucu, menantu, orang tua, canggah, kalau bersatu akan kuat. Ada kebersamaan seperti warna kain putih dikenakan Barong.

“Di kemiren, siapa yang datang harus diramahi, harus disambut dan dilayani dengan baik. Siapa yang datang ke kita, kalau berbuat jahat, biarlah kejahatan itu Tuhan yang akan membalasnya. Inilah makna wujud keseluruhan Barong Kemiren,” terang Sucipto. (ist)

Brantas Merajut Kehidupan Masa Lalu hingga Kini

foto
Situs Ganesha di Desa Karangkates, Sumberpucung, Malang lebih tertata. Foto: Travel.kompas.com.

BRANTAS, sungai terpanjang di Jawa Timur yang melintasi paling tidak 12 kabupaten/kota, memiliki peran vital sejak dahulu kala. Kehidupan masyarakat sejak zaman kerajaan, seperti Singasari, Kadiri, dan Majapahit, pernah menghiasi alur sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa itu.

Sepekan lebih kawasan persawahan di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tidak diguyur hujan. Selain puluhan petani yang sibuk menyambut datangnya kemarau dengan menanam bawang prei, sebuah bangunan mungil di tengah hamparan terasering di lembah Sungai Brantas juga menarik perhatian.

Bangunan gazebo permanen yang terbuat dari semen berukuran sekitar 1,5 meter x 1,5 meter dengan tinggi lebih dari 3 meter itu menaungi sebuah arca Ganesha yang menghadap ke Sungai Brantas, berjarak sekitar 700 meter dari arca itu.

Rumah arca di lereng Gunung Wukir itu dibangun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu untuk menggantikan rumah arca dari bambu yang rusak dibakar orang tak dikenal.

”Sudah sekitar dua tahun ini bangunan itu berdiri. Tadinya hanya rumah biasa, dari bambu, seperti gubuk lain yang ada di tengah sawah,” ujar Da’i (60-an), warga yang lahannya hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi arca, seperti dikutip Travel.Kompas.com.

Da’i tidak tahu pasti sejarah bagaimana asal mula arca tersebut berdiri. Ia hanya tahu bahwa situs tersebut merupakan peninggalan zaman dahulu.

Bahkan, tidak semua anggota keluarganya pernah mendekati arca yang terbuat dari batu andesit tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, tempat itu kerap didatangi orang dari luar daerah yang ingin melakukan ritual.

Bergeser 2 kilometer ke arah timur, masih di tepian Sungai Brantas, tepatnya di pinggiran Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, terdapat situs lain yang biasa disebut warga sebagai Punden Kajang.

Tidak tampak adanya arca atau bangunan besar di lokasi ini. Hanya ada sejumlah potongan batu andesit mirip bagian candi yang disusun sejajar di bawah pohon tua. Sebuah papan bertuliskan benda cagar budaya berdiri di dekat bangunan semipermanen dari kayu.

Warga umumnya mengaku tidak tahu pasti bagaimana sejarah Punden Kajang. ”Kalau orang-orang dulu mungkin tahu. Orang sekarang, ya, tahunya di situ ada punden,” ujar Mardi (53), warga.

Berbeda dengan situs Ganesha dan Punden Kajang di Kota Batu, kondisi situs Ganesha di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, itu terlihat lebih tertata.

Siang itu, situs yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Torongrejo itu dikunjungi empat wisatawan domestik. Seorang warga tengah membersihkan dedaunan kering yang mengotori area arca.

Meski sama-sama menghadap ke utara dan ada di tepi Brantas, arca Ganesha di Karangkates itu lebih besar. Ia dikelilingi tembok dari batu dan dilengkapi empat cungkup mirip gazebo di sisi kanan dan kiri serta belasan anak tangga di luar pintu gerbang.

Misiah (60-an), warga, menuturkan, sebelum proyek Waduk Ir Sutami (Bendungan Karangkates) dibangun pada 1975-1977, arca itu sudah ada. Tempatnya persis di belakang rumah Misiah yang berdekatan dengan makam Tiongkok. ”Ia (arca Ganesha) ramai didatangi orang saat hari Minggu atau hari-hari tertentu,” ucapnya.

Ketiga situs di atas hanyalah sebagian kecil peninggalan purbakala yang banyak terdapat di sepanjang DAS Brantas. Situs-situs lainnya tersebar, baik di wilayah Malang Raya maupun kabupaten lain.

Benang air
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono, mengatakan, Brantas merupakan benang air yang merajut belasan subarea wilayah tengah Jawa Timur, mulai dari hulu di Kota Batu hingga hilir di Surabaya dan Sidoarjo.

Situs-situs masa lalu ada di semua sub-DAS meski kerapatannya berbeda. Jumlahnya cukup banyak dan temuan paling padat ada di antara Blitar hingga di sisi utara Mojokerto.

”Mengapa banyak temuan? karena sub-DAS dari Blitar sampai Mojokerto menjadi pusat pemerintahan masa lalu, mulai dari Mataram Dinasti Isyana-Sindok, Kediri, hingga Majapahit. Dan, kerajaan-kerajaan itu ada di sub-DAS Brantas, termasuk Singasari yang tidak jauh dari hulu sungai,” ucap Dwi yang belum lama ini menemukan struktur bangunan kuno di tengah Sungai Brantas di wilayah Kabupaten Tulungagung.

Peninggalan masa lalu yang terdapat di DAS Brantas tidak serta-merta merupakan hasil karya pendahulu saat zaman kerajaan berdiri.

Ada beberapa temuan yang merupakan peninggalan tahun-tahun sebelumnya atau prasejarah. Homo Mojokertensis, misalnya, fosilnya yang ditemukan di Perning tahun 1936 juga berada di DAS Brantas.

Jejak peradaban kuno yang tertinggal di DAS Brantas tidak hanya peninggalan masa Hindu-Budha, tetapi juga Islam. Banyak peninggalan masa Islam, seperti masjid dan makam, di DAS sepanjang 320 kilometer itu.

Contohnya Situs Setono Gedong di Kediri yang dibangun pada abad ke-15 dan makam Islam abad ke-16 di Gondanglor, Tulungagung.

Contoh lain peninggalan masa lalu yang masih dipakai adalah tempat penyeberangan (tambangan) di sungai yang menggunakan bantuan perahu yang ditarik menggunakan tali.

Dwi dalam Prasasti Canggu pada masa Hayamwuruk (Majapahit) menyebutkan sejumlah desa perdikan atau sima. Di desa-desa itu terdapat tempat tambangan. Di sejumlah tempat di Jawa Timur, aktivitas tambangan ini masih berlangsung.

”Jadi, banyak sekali temuan lintas abad di DAS Brantas. Konsep sungai saat itu tidak hanya menjadi media untuk transportasi, tetapi juga penyebaran aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Karena itu, ibu kota kerajaan dulu tidak jauh-jauh dari sungai atau anak sungai,” katanya.

Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah yang kaya akan peninggalan masa lalu pun tidak tinggal diam. Upaya menjaga agar peninggalan tetap lestari terus dilakukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara mengatakan, Malang memiliki beberapa candi, salah satunya Candi Kidal yang memiliki relief garuda (Garudayedha) paling lengkap dari candi-candi yang ada.

Pihaknya pun berharap, peninggalan masa lalu ini tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. ”Ada yang mengatakan bahwa sejarah Indonesia ada di Candi Kidal. Ada kawan-kawan, termasuk dari Bali, yang tertarik dan ingin mendatangkan banyak wisatawan ke tempat itu. Bagaimanapun, pariwisata tidak bisa lepas dari budaya dan kita berusaha ke sana,” ucapnya. (ist)

Candi Gambarkan Ruang Sakral Simbol Kosmos

foto
Candi gambaran ruang sakral simbol kosmos. Foto: Jogjakharismatransport.com.

CANDI dan lingkungannya sebagai produk budaya masyarakat abad IX-X Masehi, masa Mataram Kuna, disusun sebagai gambaran ruang sakral simbol kosmos. Sebagai ruang sakral, gambaran kosmos ditunjukan melalui lingkungan candi yang dikelilingi lahan subur, dekat dengan sumber air dan tersedianya bahan bangunan.

“Selain itu, wujud tata ruang halaman candi ditata berundak-undak dan ekspresi candi mempresentasikan Gunung Meru simbol pusat kosmos,” kata dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Dra Niken Wirasanti MSi, saat ujian terbuka program doktor di Sekolah Pascasarjana UGM, beberapa waktu lalu.

Niken menyampaikan untuk mewujudkan candi dan lingkungannya sebagai simbol kosmos digunakan tanda-tanda yang sama dan menunjukkan keteraturan.

Misalnya, desain tata ruang halaman baik candi Hindhu maupun Budha ditata berundak-undak dengan halaman pusat di tempat tertinggi.

Demikian halnya arsitektur candi menggambarkan tiga lapis dunia yang terbagi atas kaki candi (kamadatu), tubuh candi (rupadatu), dan atap candi (arupadatu).

Namun demikian, kata Niken, tanda sama tentang lingkungan candi dapat dimaknai secara beragam oleh masyarakat pada waktu itu. Hal itu dibuktikan dari sumber prasasti dan naskah kesusastraan.

Meskipun memiliki tanda-tanda yang sama untuk memperesentasikan simbol kosmos, candi dan lingkungannya memiliki ekspresi dan konteks berbeda.

“Ekspresi candi dan lingkungan di masing-masing lokasi menyiratkan beragam pesan bermakna,” tuturnya saat mempertahankan disertasi berjudul “Lingkungan Candi Abad IX-X Masehi Masa Mataram Kuna di Poros Kedu Selatan-Prambanan”.

Candi di lereng gunung api menunjuk pada konsep wanasrama. Sementara candi di dataran menunjuk pada konsep tata wilayah lingkungan kerajaan. Sementara itu, candi di wilayah perbukitan menunjuk pada konsep gunung sebagai pusat kosmos.

Dari penelitian yang dilakukan Niken pada candi-candi yang berada di Poros Kedu Selatan-Prambanan, yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur diketahui adanya sistem tanda yang terbingkai dalam satu kesatuan perlambang simbol kosmos.

Hal ini ditunjukkan dengan rangkaian tanda yang terstruktur. Ketiga candi ini terletak dalam satu garis imajiner yang menggambarkan ajaran Budha Mahayana.

Niken menyebutkan sifat struktural antara lain bisa ditelusuri dari tanda yang tersusun secara linier membentuk sistem tanda tiga serangkai yang menggambarkan perjalanan ritual umat Budha menuju kesempurnaan ajaran Budha Mahayana.

Perjalanan dimulai dari Candi Mendut (sambaramarga) berlanjut ke Candi Pawon (prayogamarga) dan berakhir di Candi Borobudur mendaki tahap demi tahap hingga puncak tertinggi (darsanamarga, bhavanamarga, asaikamarga).

“Secara denotatif lokasi Candi Mendut dan Candi Pawon di dataran dan kedua candi ini mengarah ke pintu sisi timur Candi Borobudur yang menjulang tinggi di atas bukit,” paparnya seperti dirilis Humas UGM.

Sementara lokasi dataran secara konotatif dimaknai sebagai suatu lingkungan yang bersifat duniawi (laukika), yaitu sebagai tempat peribadatan untuk persiapan menuju tujuan akhir ritual. Letak Candi Borobudur lebih tinggi dari Candi Mendut dan Candi Pawon secara konotasi menunjukkan Candi Borobudur sebagai simbol di atas dunia (lokattara).

Hal itu menunjukkan orientasi ritual terpusat di Candi Borobudur. Akhir laku spiritual adalah kesempurnaan dalam memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada kebijaksanaan, yaitu perilaku, kata-kata, usaha yang benar, dan sembahyang yang benar. “Demikian gambaran hirearki makna perjalanan ritual yang dilakukan tahap demi tahap dari dataran menanjak ke puncak bukit menuju pusat kosmos,” urai Niken. (sak)

Siti Inggil, Petilasan Sang Pendiri Majapahit

foto
Sanggar Pamujan bagian dari komplek Siti Inggil, dimana Raden Wijaya Wahyu Keprabon. Foto: TimurJawa.com.

MENYEBUT nama Raden Wijaya otomatis angan kita tertuju pada agungnya Kerajaan Majapahit. Puing-puing peninggalan kerajaan besar itu bisa disaksikan secara kasat mata di berbagai desa di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Satu diantaranya Siti Inggil, sebuah petilasan Raden Wijaya yang jadi cikal bakal lahirnya Majapahit di tahun 1293 Saka atau sekitar 1500 Masehi. Petilasan yang sebelumnya populer dengan istilah Lemah Geneng itu berada di dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Petilasan raja yang masa kecilnya dipanggil Djoko Suruh berbentuk makam dengan panjang sekitar 2 meter lebih. Masyarakat desa sekitar turun temurun meyakini jika di dalam komplek bangunan makam itu bukan jenazah Raden Wijaya. Melainkan hanya sebagian abu dari jenazahnya yang dibakar.

Mengingat dalam era Majapahit dikenal agama ’budi’ dengan sebagian Hindu. Agama Islam-lah yang mengajarkan pemakaman bagi yang meninggal dunia. Masyarakat era Majapahit mengenalnya dengan istilah mukso (menghilang) atau diperabukan. Abu inilah yang kemudian disimpan di candi ataupun dilarung ke laut.

Abdul Ghofur juru kunci Siti Inggil mengatakan, jika Siti Inggil merupakan petilasan dari raja yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana atau Brawijaya pertama. “Ini petilasan sang Prabu Raden Wijaya,” kata juru kunci berusia 54 tahun tersebut.

Di dalam kompleks petilasan yang berbentuk makam terdapat beberapa nisan. Selain makam Raden Wijaya yang paling besar dan panjang. Juga terdapat empat makam lainnya. Yaitu, Permaisuri Brawijaya pertama Gayatri. Juga dua isteri selir, Ndoro Petak dan Ndoro Jinggo.

“Selir pertama disebut Ndoro Petak karena kulitnya putih karena beliau memang dari Tiongkok. Begitupun dengan Ndoro Jinggo artinya perempuan terhormat berkulit kuning dari Kamboja,” terang Ghofur. Selain itu ada juga makam dari abdi kinasih atau abdi dalem dari Hayam Wuruk dan permaisuri.

Sapuangin dan Sapujagad
Diantara bangunan makam yang ada di komplek Siti Inggil terdapat dua makam cukup mencolok untuk diamati. Selain posisinya di luar komplek bangunan utama petilasan Raden Wijaya, dua makam itu berada tepat di sebelah kiri sebelum memasuki bangunan petilasan yang selalu terkunci.

Pada batu nisan di dua makam itu tertuliskan huruf besar. Sapu Angin dan Sapu Jagad. Kuncup nisannya selalu dibungkus dengan kain berwana kuning. Dupa yang ada di dalam anglo kecil mengepul asap dan tampak bunga segar. Jelas jika makam tersebut selalu dikunjungi.

Ghofur mengatakan, jika dua makam berukuran panjang 2 meter lebih itu merupakan makam asli. Artinya, ada kerangka manusia dengan panjang sekitar 170 cm.

“Kami tahu persis karena pernah dibongkar di tahun 1970 lalu. Kerangkanya dibawa ke pendopo sebelah atas itu dan kemudian disempurnakan dan dikuburkan kembali. Sampai sekarang,” kata Ghofur.

Dua nama Sapu Jagad dan Sapu Angin menurutnya bukan nama asli mereka. Melainkan gelar dari Kerajaan Majapahit atas ilmu yang dimiliki. Dua sosok itu merupakan ajudan dari Raden Wijaya. Sebelumnya, dua sosok yang tidak diketahui namanya dikenal sebagai prajurit dan pengikut setia menantu Kertanegara Raja Singosari tersebut.

Pada masa-masa sulitnya Raden Wijaya, dua sosok inilah yang terus mendampingi. Hingga menumpas Raja Jayakatwang yang memimpin Kerajaan Doho di Kediri. Tentu saja melalui muslihat dan mengelabuhi pasukan tentara Mongol yang bermaksud menumpas kerajaan Singosari.

“Eyang Sapu Jagad itu gelar untuk ajudan yang menguasai kekuatan alam. Sedangkan eyang Sapu Angin gelar yang diberikan untuk ajudannya yang punya kemampuan menguasai kekuatan angin,” tutur Ghofur tentang dua makam teresbut. )

Sanggar Pamujan
Diantara beberapa bangunan yang ada di komplek Siti Inggil terhadap bangunan yang menyita perhatian. Itulah Sanggar Pamujan atau tempat pemujaan yang dipakai Raden Wijaya melakukan semedi atau bertapa.

Pada bangunan yang tingginya sekitar 3 x 3 meter dari permukaan tanah itulah untuk pertama kalinya Raden Wijaya mendapatkan ‘Wahyu Keprabon’. Atau bisa diartikan mendapatkan wangsit untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.

Menariknya, bangunan dari bata merah yang hanya ditumpuk-tumpuk tersebut bentuknya menyerupai tempat Imam memimpin sholat dalam sebuah musholah atau masjid.

Akan halnya melakukan ritual semedi, Raden Wijaya melakukannya dengan cara menghadap ke Barat. Sama persis kaum muslim saat melakukan sholat menghadap kiblat. Padahal, kala itu, agama Islam belum dikenal di kerajaan yang didirikan di tanggal 15 tahun Saka 1215 tersebut.

“Jadi kalau dibanding-bandingkan dengan agama Islam, rasanya ada persamaan. Khususnya dalam Sanggar Pamujaan Sinuwun Raja Brawijaya pertama,” kata Ghofur. Dicontohkan, selain tempat bersemedi yang seukuran dengan sajadah sholat, bangunan Sanggar Pamujaan juga berbentuk persegi empat. Berbentuk kubus atau kotak. Sama dengan Ka’bah yang ada di Makkah.

Sesuai namanya, Sanggar Pamujan, merupakan tempat Raden Wijaya melakukan pemujaan atau tempat memuji. Kepada siapa? “Ya, kepada Sang Hyang Widi Wase atau kepada Yang Maha Kuasa,” tutur Ghofur. Jadi, kata Ghofur lagi, kalau dibanding-bandingkan akan sama dengan agama-agama yang sekarang ini. Beliau, Sinuwun Prabu juga melakukan pemujaan terhadap Yang Diyakini. Sanggar Pamujan itu tidak lain tempat berdoa.

Sanggar Pamujan yang ada dalam komplek Siti Inggil tidak pernah dibangun atau dipugar keberadaannya. Melainkan hanya diperkokoh agar tidak rusak dan runtuh di makan waktu. Maklumlah, bangunan asli hanyalah berupa batu-batu merah yang hanya ditumpuk-tumpuk tanpa adanya perekat.

“Semua bangunan yang ada di sini, asli. Tidak ada yang dirubah ataupun diubah bentuknya,” kata Ghofuf lagi. Hanya saja, untuk memperkokoh dan tidak mudah rusak, hanya dipoles agar kuat saja.

Tempat Ziarah Tokoh Negara
Meskipun terletak di desa terpecil sekalipun, Sanggar Pamujan selalu ramai. Di hari-hari tertentu bahkan sangat padat. Misalkan Jumat legi atau Jumat manis. Ratusan pengunjung dari berbagai sudut kota hadir di tempat yang di kanan dan kirinya masih berupa ladang tebu itu.

Tidak sedikit tokoh dan pejabat berkunjung untuk sekedar berziarah dan mengunjungi situs bersejarah tersebut. Mulai dari politisi, pejabat lokal, pejabat negara, pengusaha hingga sekelas Presiden sekalipun. Kunjungan pejabat itu dilakukan sejak era Presiden Soekarno berkuasa.

Ghofur minta tidak menuliskan nama-nama tokoh negara yang pernah mengunjungi. Begitu juga penguasa yang pernah secara khusus datang ke lokasi makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar itu.

“Tidak etislah. Pastinya banyak ya, tokoh-tokoh yang ke sini. Baik lokal maupun dari Jakarta,” terangnya.

Hanya saja, diantara tokoh negara yang punya kepedulian besar terhadap keberadaan Siti Inggil adalah mantan Presiden RI, Soeharto. Sebelum menjabat hingga menjadi Presiden, menurut Ghofur, presiden yang memimpin Indonesia selama 30 tahun itu rajin berkunjung.

Bahkan, tingginya kepedulian Presiden Kedua RI Soeharto itu dilakukan dengan cara membenahi seluruh isi bangunan yang ada di Siti Inggil. Bangunan yang awalnya hanya berupa batu-bata merah ditumpuk, oleh Soeharto diperbaiki.

“Semua masih asli seperti apa adanya dulu,” terang Ghofur. Sebagai bukti jika bangunan peninggalan Raden Wijaya itu asli, bagian bawah bangunan yang sudah dibalut keramik dibiarkan asli. Sehingga, tampak tumpukan-tumpukan batu-batanya berselimut lumut hijau. “Mengenai kepala negara yang pernah hadir itu dari cerita orangtua dan mbah-mbah saya,” tambah lelaki berkulit hitam itu. (sak)

Bhinneka Tunggal Ika, Warisan Mpu Tantular

foto
Lukisan Bali yang dibuat dari kisah dalam kitab Sutasoma. Foto: Heurist.sydney.edu.au.

KATA Bhinneka Tunggal Ika menjadi magnet semboyan bagi bangsa Indonesia, sebuah konsep multikultural yang mampu mengangkat dan menunjukkan keanekaragaman bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebuah warisan berharga bagi bangsa yang dilahirkan memiliki perbedaan suku, etnis dan agama. Indonesia sungguh beruntung memliki satu sikap pandangan ini.

Sebuah kata Bhinneka Tunggal Ika yang ada dalam lambang negara Burung Garuda, menghiasi dinding setiap kantor, sekolah dan rumah saja, tetapi seringkali menjadi kutipan dalam berbagai pidato pejabat, terlebih-lebih jika sedang terjadi peristiwa genting yang dianggap dapat mengancam kelangsungan persatuan bangsa dan kesatuan negara.

Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah karya sastra agama yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap akan berbunyi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Irawan Joko Nugroho seorang penulis buku Meluruskan Sejarah Majapahit, seperti dikutip di Kemenag.go.id mengatakan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sastra agama yang tertuang dalam kakawin Sutasoma, namun implementasi dari konsep ini dijabarkan dalam kitab NegaraKertagama yang dikarang Mpu Prapanca.

Dalam Bhinneka Tunggal Ika dijabarkan tentang sebuah cerita epis yang amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk.

“Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam khasanah sejarah sastra Jawa atau bisa dikatakan sastra agama. Karena merupakan satu-satunya kakawin bersifat epis yang bernafaskan agama Buddha. Ini menunjukan kalau Mpu Tantular memiliki toleransi keagamaan yang besar,” ujar Irawan, jebolan Sarjana Sastra Jawa Kuno, Universitas Gadjah Mada.

Menurut Irawan, Mpu Tantular seorang penganut agama Buddha, namun orangnya terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu-Siwa. Hal ini bisa terlihat pada dua kakawin atau syairnya yang ternama yaitu kakawin Arjunawijaya dan terutama kakawin Sutasoma. Mpu Tantular memiliki pandangan tentang esesnsi nilai-nilai keagamaan yang universal.

Bahwa agama-agama yang ada harus dihormati. Karena jalan yang harus dilalui untuk menyembah Yang Maha Agung adalah seperti jalan menuju ke gunung orang dapat mencapai puncak gunung itu dari segenap penjuru, dari timur, barat, utara dan selatan.

Artinya, kata Irawan banyak cara orang untuk menmanjatkan doa melalui mediasi berbagai macam kepercayaan atau agama yang diyakini.

Disini Mpu Tantular tidak mempersoalkan latar belakang keyakinan orang, namun yang terpenting bagaiamana membangun toleransi dalam pergaulan sesama kemanusiaan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertuang dalam setia ajaran agama masing-masing.

Irawan menjabarkan dimasa kejayaan Majapahit, tidak terjadi konflik antar agama, dan senantiasa terjadi semangat toleransi kebersamaan. Mpu Tantular menggunakan ungkapan itu khusus kata Bhinneka tunggal Ika untuk merumuskan perpadanan antara Buddha, Hindu dan Siwa yang berlaku di Majapahit pada abad keempatbelas.

Dalam pengertian segala macam aliran agama, alam pikiran, kebudayaan dan politik, yang pada waktu itu memang banyak terdapat di Majapahit. Bisa diartikan berbeda-beda namun mereka tetap bersatu di dalam peraturan di kitab Negara Kertagama tidak ada diskriminasi atau dualisme. Pencapaian ini sudah terbangun kebersamaan, persatuan dalam Negara keprabuan Majapahit.

Konsep ini kemudian diangkat ke dalam ranah politik. Ia menjadi bermakna ’walaupun berbeda-beda (suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya), tetap satu (satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air Indonesia) jua. Dengan menggunakan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Indonesia, Indonesia mengapresiasi adanya sejarah nasional sebelumnya yaitu masa kejayaan kerajaan Majapahit.

Menurut Irawan tokoh negarawan M Yamin yang memiliki pengetahuan ketatanegaraan, menilai tentang Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar pemikiran cemerlang Mpu Tantular, yang diimplementasikan dalam kitab Negara Kertagama. Dimana Majapahit sebagai kerajaan yang dapat mempersatukan Nusantara.

M Yamin, lanjut Irawan, memiliki pemikiran yang luar biasa, bahwa wilayah Nusantara bukanlah untuk menyatakan luas daerah Majapahit, melainkan wilayah kesatuan geopolitik yang ditentukan Sang Alam sebagai tumpah darah tempat kediaman bangsa Indonesia yang sejak permulaan sejarah menyusun dan menjaga perimbangan kekuasaan terhadap keluar dan kedalam lingkungan mandala tanah dan air Nusantara itu.

Irawan menambahkan kesatuan Nusantara, juga tertulis dalam Nagarakrtagama pupuh 12.6.4 berbunyi: mwang Nusantara sarwa mandalikârastra angasraya akweh mark. Artinya: Dan Nusantara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.

Kesatuan Nusantara tersebut terletak pada kata angasraya ‘meminta perlindungan’. Kalimat ini adalah kalimat aktif. Dengan demikian kesatuan Nusantara itu bukan dari paksaan namun dari kesadaran bersama untuk bersatu. (ist)

Sosok Figur Bertopi di Relief Candi

foto
Dr Lydia Kieven, penulis buku ‘Menelusuri Figur Bertopi Dalam Relief Candi Zaman Majapahit’. Foto: Budayapanji.com.

BAGI awam, sederetan relief pada dinding candi seringkali tidak dimengerti. Hal ini bisa dimaklumi, sebab untuk dapat mengerti memang diperlukan ikonografi, yaitu cabang sejarah seni yang mempelajari identifikasi, deskripsi dan interpretasi isi gambar.

Dengan ilmu ini, pembacaan relief candi dapat memberi gambaran kepada sejarawan, sosiolog, antropolog bahkan masyarakat perihal sikap budaya di masa silam untuk kita pakai merancang masa depan.

Sebagai contoh, relief perahu pada Candi Borobudur. Dari panel itu dapat diketahui telah berkembang teknologi pertukangan perahu dan hebatnya budaya maritim nenek moyang kita di abad ke-9.

Demikian pula yang terbaca dalam relief candi-candi di era Kerajaan Majapahit, banyak hal menarik dapat dipelajari, salah satunya hadir relief figur bertopi yang tidak dijumpai pada relief candi periode Jawa Tengah.

Relief bertopi yang sangat spesifik ini telah menarik perhatian Dr Lydia Kieven, seorang antropolog lulusan University of Sydney, untuk datang ke Pulau Jawa dan mengadakan penelitian dalam waktu yang panjang.

Figur bertopi dalam relief candi di periode akhir Majapahit, bertutur beragam kisah dengan beragam fungsi yang mencerminkan sikap budaya dan masyarakatnya.

Pada relief Teras Pendopo di kawasan situs Candi Panataran Blitar, serta pada dinding Petirtaannya, di bagian belakang, dipahatkan figur bertopi yang dimengerti sebagai tokoh Panji.

Menurut Dr Lydia Kieven, figur tersebut terbaca sebagai tokoh utama yang cukup menarik ditelusuri, figur itu memang bernama Panji Asmarabangun atau biasa disebut Raden Panji.

Salah satu ciri khas yang menonjol dari figur ini adalah memakai topi setengah bundar yang disebut tekes.

Selain itu figur ini tampil sederhana, tanpa memakai baju (dada terbuka), mengenakan kain panjang pada bagian bawah, memakai gelang, cincin dan anting di telinga dan senantiasa diiringi kadeyan / embannya bernama Punta dan Kertala.

Kisah singkatnya, Raden Panji Asmarabangun adalah seorang Pangeran dari kerajaan Jenggala (abad 9), memiliki kekasih bernama Dewi Sekartadji atau Dewi Galuh Candra Kirana, putri dari kerajaan Panjalu.

Sayangnya sang ayah Sekartaji tidak berkenan dengan percintaan tersebut dengan alasan sudah menjodohkan putrinya dengan pria lain. Mendapati penolakan ini, maka Dewi Sekartaji bertekad melarikan diri sebab tidak berkenan dijodohkan.

Keadaan ini akhirnya membuat Raden Panji memutuskan diri berkelana, mencari sang kekasih yang menghilang tersebut. Kisah ini berakhir bahagia dengan menyatukan mereka berdua kembali.

Secara politis, perkawinan Panji dan Sekartaji telah menyatukan dua kerajaan besar yakni Jenggala dan Panjalu. Sifat, sikap dan perilaku Raden Panji yang bijak serta merakyat selama berkelana inilah yang menarik dikaji dan diwarisi sebagai moral etik budaya bangsa Indonesia yang adiluhung.

Di era Kerajaan Majapahit, maka klaim pemersatu itu dimiliki Raja Hayam wuruk dengan perjalanan keliling negara sebagaimana tercatat dalam Desawarnana (Negarakrtagama).

Kalau diamati berbagai relief di candi yang melukiskan tokoh bertopi yang dikaitkan dengan makna simbolisasi tokoh Panji di banyak candi, seringkali figur bertopi ini memiliki peran berbeda-beda. Pada relief Candi Kendalisodo (lereng gunung Penanggungan), Panji memegang peran pemandu ke ranah religious/esoteris.

Sedangkan di pemujaan Candi Yudha, Panji memandu bangsawan muda untuk menunjukkan kepada mereka jalan menuju kekesatriaan.

Figur bertopi hadir juga pada relief Candi Jago, Candi Surawana, Candi Mirigambar dan beberapa candi di Gunung Penanggungan. Kehadirannya teridentifikasi dalam beragam status, dapat mencerminkan rakyat biasa, bangsawan, pangeran atau raja (Panji).

Hasil penelitian Dr Lydia Kieven, perihal relief figur bertopi pada candi-candi zaman Majapahit periode Jawa Timur sungguh detil dan memberikan tafsir yang baik.

Tulisan perempuan peneliti ini kini dapat dibaca dalam buku setebal 452 halaman. Judulnya ‘Menelusuri Figur Bertopi Dalam Relief Candi Zaman Majapahit, Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15’.

Sebagai penerjemah Arif Bagus Prasetyo, penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Ecole Franqaise d’Extreme-Orient dan InstitutFranqais d’Indonesie, Desember 2014.

Versi Bahasa Inggris, ‘Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs A New Look at The Religious Funtion of East Javanese Temples, 14th and 15th centuries’, Koninklijke Brill NV, 2013, Leiden, The Netherland.

Sebagaimana kata penulisnya, buku ini memberi tafsir baru perihal peranan figur bertopi yang terukir pada relief candi-candi era akhir Kerajaan Majapahit.

Figur bertopi yang dikenali bernama Panji, terdeteksi memiliki fungsi beragam, kadang sebagai pengajaran, tuntunan bahkan mediasi untuk ‘peziarah’ dalam mempersiapkan sikap dan mental menjelang pertemuan dengan yang suci di candi.

Selain mengamati sosok figur bertopi, dalam buku ini banyak dikupas perihal percandian di Jawa Timur. Buku ini yang sangat menarik dan pantas mengisi rak buku sebagai koleksi yang bermutu.

Buku ini ditulis secara serius, detil dan teliti, hal ini tercermin dari banyaknya literatur yang digunakan. Di sisi lain juga melihat spirit Dr Lydia Kieven dalam penjelajahannya ke berbagai lokasi candi untuk mengadakan penelitian, meski seringkali tidak mudah untuk menjangkau lokasi tersebut. (ist/Resensi oleh Bambang AW-perupa dan penulis tinggal di Kota Malang diupload di Padmagz.com)

Belajar Ajaran Moral di Relief Candi

foto
Relief kerbau dan buaya di Candi Penataran Blitar. Foto: Youtube.com.

MASYARAKAT kuno mempunyai berbagai cara untuk mengajar generasi mudanya. Ajaran yang bersifat mendidik dipandang merupakan tonggak untuk mencapai hidup rukun.

Pada masa sekitar seribu tahun lalu, candi merupakan tempat ibadah yang banyak didatangi masyarakat. Maka, agar segala ajaran baik tentang kecerdikan, tingkah laku, dan nasihat mudah diserap oleh masyarakat, dipahatkanlah ajaran-ajaran itu pada dinding candi-candi dalam bentuk panil relief.

Kisah dalam relief, seperti ditulis Hurahura.wordpress.com, dibuat beragam, namun yang paling dikenal dalam bentuk fabel. Kisahnya berupa pengalaman dan petualangan tokoh hewan. Dulu fabel bisa diterima dengan baik oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Ajaran moral nenek moyang banyak tergambar dari candi-candi Buddha dan Hindu di Jawa dari berbagai masa. Salah satu kisahnya terdapat pada Candi Mendut. Candi yang bersifat Buddha ini berlokasi tidak jauh dari Candi Borobudur.

Kisah fabel pada candi-candi Buddha biasanya bertema ajaran moral, misalnya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, tolong-menolong selalu dibutuhkan, dan kecerdikan mampu menyelesaikan masalah.

Panil batu yang berisi relief memang tidak begitu banyak. Para arkeolog berhasil mengidentifikasi berdasarkan fungsi candi pada masa dulu. Diketahui bahwa kisah-kisah itu dipahat berdasarkan petikan dari kitab Jataka dan Tantri Kamandaka. Kedua kitab itu dikenal penuh dengan ajaran tamsil ibarat dan falsafah kehidupan yang dalam.

Cerita fabel juga terdapat pada Candi Panataran di Jawa Timur. Berbeda dengan Candi Mendut, Candi Panataran bersifat Hindu. Berbagai ajaran budi pekerti yang mengandung pembelajaran diselipkan nenek moyang kita di sini, di antara relief-relief cerita lain seperti Ramayana dan Kresnayana. Misalnya saja cerita tentang buaya yang tak tahu membalas budi.

Relief Buaya dan Kerbau
Dikisahkan, seekor buaya tiba-tiba tertimpa sebatang pohon. Beruntung, dia jatuh ke tempat yang berlubang sehingga mampu menyelamatkan diri. Ketika seekor lembu melintas di depannya, buaya meminta pertolongan. Sang lembu yang baik hati itu pun berhasil menyingkirkan pohon yang tumbang.

Sang buaya yang sudah terbebas kemudian meminta pertolongan lagi agar sang lembu bersedia mengantarkannya ke sungai. Setibanya di sungai, sang buaya bukannya berterima kasih malah menggigit sang lembu.

Terjadilah perkelahian seru. Namun karena sang buaya terkenal dengan julukan ’raja air’, maka sang lembu pun terdesak.

Sekonyong-konyong datanglah sang kancil bertindak sebagai wasit perkara. Kancil meminta agar buaya dikembalikan ke tempat kejadian semula sewaktu tertimpa pohon.

Alasannya untuk memudahkan penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah. Di tempat itu buaya ditinggal sendirian sampai menemui ajal.

Relief ini terdapat pada dinding kolam sisi barat dan bagian belakang arca dwarapala yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bagian candi induk sisi utara.

Pelajaran yang bisa diambil tentu saja adalah persoalan balas budi dan kebaikan yang dibalas dengan kejahatan. Sebenarnya di Candi Mendut dan Candi Panataran masih banyak terdapat relief fabel. Belum lagi pada candi-candi lain.

Ajaran moral ini telah terpahat selama ratusan tahun di dinding-dinding candi, bahkan ada yang lebih dari seribu tahun. Meskipun begitu, ajaran moral demikian tetap relevan dan abadi sampai kapanpun.

Kearifan dari masa lampau ini tentu saja patut menjadi perhatian generasi masa kini. (Djulianto Susantio, Majalah Arkeologi Indonesia)