Arca Dwarapala Gaprang (1): Reco Berphallus ‘Bicara’

foto
Situs Arca Gaprang di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, Kota Blitar. Foto: Ils.fr.

PENINGGALAN budaya Jawa Kuno dalam berbagai bentuk perwujudan masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

Bangunan suci di era Hindu-Budha antara lain candi (pemujaan dan pendharmaan), petirtan, prasasti, arca, termasuk artefak yang ada, memiliki hubungan erat dengan budaya yang ada di masyarakat.

Masuknya kebudayaan Hindu-Budha di Nusantara sejak berdirinya Kerajaan Kutai (abad ke-5) hingga akhir Kerajaan Singosari-Majapahit (pertengahan s/d akhir abad ke-15) tidak begitu saja meninggalkan kebudayaan Jawa Kuno sebelumnya (pra-Hindu), yakni Zaman Neolithikum (Kebudayaan Batu Halus/ Batu Baru Akhir) termasuk Zaman Megalithikum (Kebudayaan Batu Besar) sebelum memasuki proses penerimaan kebudayaan India.

Masalah perwujudan bangunan termasuk relief dan arca yang ada pada era Hindu-Budha atau Hindu-Jawa juga menampakkan nafas akulturasi budaya atau perpaduan budaya yang pekat. Akulturasi budaya pada era ini tak lain, hadirnya pengaruh Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan Jawa Kuno pada zaman pra-aksara.

Para sejarawan, arkeolog, dan seniman termasuk pemerhati budaya Jawa Kuno memiliki persamaan persepsi bahwa nafas kebudayaan Jawa kuno tidak bisa dikatakan ‘pasif’ atau tanpa peranan. Hal ini bisa kita pahami dengan hadirnya pengakuan terhadap adanya unsur kearifan lokal (Local Genius), dimana setiap budaya memiliki kemampuan (tatanan) sebelum menerima pengaruh dari luar (pengaruh India).

FDK Bosch memaknai Local Genius sebagai proses kekuatan penciptaan kembali dalam proses hinduisasi (Indianisasi) dimana para brahmana (India) dan empu (lokal) memegang peranan. Kontak budaya yang ada antara budaya India dengan budaya Jawa Kuno menjadikan kehadiran budaya Hindu-Budha di Jawa. R.Soekmono menyebut bahwa Local Genius adalah kemampuan luar biasa (untuk mengolah pengaruh asing) yang terpendam dalam kebudayaan pra-aksara.

Sejak Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah), Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat) hingga Kerajaan Kahuripan, Daha dan Singosari-Majapahit (Jawa Timur) dalam rentang waktu abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 memiliki produk budaya yang beragam.

Saat terjadinya kontak budaya antara Kebudayaan Hindu-India dengan Kebudayaan Jawa Kuno (pra-aksara), maka yang berperan adalah daya cipta atau kemampuan yang menonjol dalam proses pembentukan kebudayaan baru atau kebudayaan Hindu-Jawa nantinya (RP Soejono, 1983: 131).

Bisa dikatakan bahwa daya serap dari penerimaan budaya dilakukan oleh cendekiawan budaya lokal atau para empu, pada masa pra-aksara dalam kebudayaan Jawa Kuno.

Perkembangan budaya dari model penciptaan kelengkapan budaya pasca Indianisasi terlihat pada berdirinya berbagai bangunan suci, dan tempat sakral yang semakin banyak dan beragam. Hindu Jawa (kebudayaan Hindu-Budha di Jawa) bersifat sinkretis (bercampur) dengan kebudayaan Jawa Kuno yang memunculkan budaya Tantris (Tantrayana).

Punden atau gudukan tanah sebagai tempat peletakan sesaji di era Jawa Kuno memiliki persamaan konstruksi dengan candi. Candi Jawi sebagai tempat pendharmaan Raja Singosari yakni Raja Kertanegara ( 1268-1292 M) berada di kaki Gunung Penanggungan dan Arjuno-Welirang (Pandaan-Jawa Timur).

Terdapat gugusan candi dan petirtan termasuk arca-arca peninggalan Kerajaan Singosari-Majapahit di sekitar kaki Gunung Penanggungan. Sebagai pembanding, Candi Gedong Songo di kaki Gunung Ungaran (Semarang-Jawa Tengah).

Lalu bagaimana dengan sebuah arca (reco), siapa yang membuat dan apa yang terkandung dalam aktifitas magis tersebut?

Keberadaan arca berhubungan erat dengan nilai-nilai religi atau penciptaan yang bersifat magis berdasarkan fungsinya. Reco Pentung atau arca dwarapala menjadi pembahasan yang menarik dalam kajian telaah budaya Jawa Kuno.

Reco Pentung yakni sebuah reco (arca) yang mebawa senjata berupa pentung (gada) sebagai ciri khas. ‘Reco Pentung Gaprang’ adalah arca dwarapala dari Situs Gaprang yang terletak di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, Kota Blitar, Jawa Timur.

Arca dwarapala adalah sebuah arca yang berwujud mirip raksasa berambut keriting dan mata melotot serta menggunakan senjata khas yakni pentung (gada), sehingga lebih umum disebut reco pentung. Posisi arca ini terletak di luar bangunan suci, khususnya sebagai penjaga pintu bangunan suci (lebih umumnya pada sebuah candi).

Sehingga setiap orang yang mau memasuki bangunan suci, harus meletakkan semua kepalsuan dunia (niatan buruk) sebelum meminta pertolongan (berkah/pencerahan) pada sang dewa agar terbebas dari bala’ termasuk penderitaan hidup. Setiap arca yang ada dalam sebuah bangunan suci merupakan perwujudan dari para dewa (politheisme), termasuk reco pentung yang ada di areal luar bangunan suci.

Reco Pentung Gaprang merupakan peninggalan Kerajaan Singosari-Majapahit, hal ini terlihat dalam candra sengkala (angka tahun) ‘moto roro haguno tunggal’ atau 1322 Saka (1400 M) pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana (1389-1429). Karakteristik yang ada dalam Reco Pentung Gaprang yakni ciri khas pentung (gada) terwujud dari tubuhnya phallus (alat kelamin laki-laki) yang dibentuk berukuran besar dan berpasangan dengan Reco Pentung yang menyerupai perempuan.

Penggunaan ikonografi phallus sebagai perwujudan pentung juga terlihat pada sebuah arca di kompeks Candi Sukuh (sebagai pembanding), yang dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Ratu Suhita (1429-1447 M). (1 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Nusantara)

Tulisan kedua

Eksotisme Sejarah-Budaya Timur Jawa Abad X-XIV (1): Latar Belakang Geo-Historis

foto
Banyaknya peninggalan sejarah di Jawa Timur membuktikan adanya peradaban dan kebesaran Timur Jawa di masa silam. Foto: Viva.co.id.

UNSUR geografi atau wilayah dalam sejarah memang bukan hal yang sepele. Ahli geografi Indonesia N Daljoeni menyatakan bahwa geografi dan sejarah menjadi satu kesatuan ruang. Hal ini dipererat dengan konsepsi tata ruang sebuah keberadaan budaya termasuk berdirinya kerajaan dimasa lalu.

Jawa bagian timur atau yang kita sebut sebagai Timur Jawa memiliki historisitas tersendiri dalam catatan sejarah Nusantara. Memasuki abad ke-X di bawah kekuasaan Mataram Kuno Hindu wangsa Isyana atau keturunan Mpu Sindok memunculkan pembangunan wilayah di wilayah Timur Jawa.

Wilayah Sunda, Madura, Bali dan Dompu juga berada di bawah kekuasaan Timur Jawa yang berpusat di Mataram Kuno Hindu dengan segala pergeseran pemerintahan.

Istilah wilayah barat Nusantara meliputi wilayah-wilayah yang ada berada dibawah kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai, Sriwijaya dan Malaka.

Kerajaan Sunda yang terletak di sebelah Barat Pulau Jawa (Jawa Barat sekarang) pasca kemunduran Kerajaan Tarumanegara, tidak begitu mendominasi dalam percaturan politik Nusantara.

Pasca terjadinya pralaya (bencana alam; Letusan Gunung Merapi dan atau Gempa) di wilayah Kerajaan Mataram Kuno (Jawa bagian Tengah), menjadi landasan perpindahan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Dari sisi pemerintahan kerajaan juga telah bergeser dari kebesaran Wangsa Sailendra (Dinasti Budha Mataram Kuno; dengan bukti peninggalan Candi Borobudur) dan Wangsa Sanjaya (Dinasti Hindu Maram Kuno; dengan bukti peninggalan Candi Prambanan) memunculkan Wangsa Isyana.

Setelah Mpu Sindok (Wangsa Isyana) membuka pemerintahan di masa peralihan, apa saja yang menjadi pembaharuan di Timur Jawa?

Sumber sejarah yang kita gunakan dari beberapa sejarawan dan budayawan (arkeologi dan antropologi) menjadi landasan dalam memahami perkembangan tata wilayah Timur Jawa pada abad X-XIV dengan kebesaran Kerajaan Singosari-Majapahit.

Nagarakertagama, Pararaton, dan Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai dan sumber sejarah sezaman, menjadi pegangan tersendiri dalam pembahasan terkait nilai-nilai eksotisme Timur Jawa dengan berbagai karakteristiknya.

Dari zaman dahulu, hasil kebudayaan yang berkaitan dengan sejarah masa lampau masih banyak terpendam dalam benda-benda (artefak) termasuk karya sastra klasik, sedangkan pemikiran sejarah yang menghidupkan masa lampau masih membutuhkan pembahasan dan gubahan landasan pemikiran bersama (R Soekmono: 1973).

“I het verleden ligt het heden, en in het heden ligt de toekomst” (di dalam masa lampau terletak masa sekarang dan di masa sekarang terletak masa yang akan datang).

Ungkapan ini juga sejalan dengan konsep Jawa Kuno “atita-nagata-warttamana” yang berarti, terdapat hubungan yang erat antara masa lampau (atita), masa yang akan datang (nagata) dan masa kini (warttamana). Hal inilah yang mendasari perlunya kita membahas perjalanan sejarah-budaya bangsa (Sukarto K Atmodjo: 1983).

Kebesaran Timur Jawa
Sebagai generasi penerus bangsa, semua berhak untuk turut andil dalam mempersiapkan sebuah analisa sejarah-budaya, tentunya sangat membutuhkan logika berpikir sehat dan sesuai dengan landasan keilmuan.

Pendapat dan analisa masing-masing individu (baik sebagai akademisi atau sebagai pemerhati), menjadi lebih kuat saat bukti sejarah bisa disajikan dengan analisa yang bisa diterima oleh publik.

Candi, Gapura, Petirtan, Prasasti, dan pamerian situs dalam berbagai arca, termasuk sisa-sisa pemukiman kuno, menjadi unsur penting dalam mendukung sebuah analisa sejarah-budaya.

Timur Jawa memasuki abad X dengan kebesaran kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, mulai dari Mataran Kuno Hindu (Medang Kamulan), Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Panjalu sampai dengan kebesaran Kerajaan Singosari-Majapahit, mengalami hiruk pikuk kehidupan politik, ekonomi, sosial-budaya yang saling berhubungan.

Apa yang menarik dari semua itu? Hal inilah yang memunculkan pondasi nilai-nilai eksotisme sebuah budaya. Perbedaan analisa dan hipotesa antar akademisi dan pemerhati merupakan bentuk ketekadan dan keseriusan yang terus-menerus, agar lebih dekat dengan konsepsi perkembangan masa Hindu-Budha di Timur Jawa pada era tersebut.

Berdasarkan catatan Chou Ch’u-fei, yang termuat dalam karyanya Ling-wai Tai-ta (1178M): “Dari semua negeri asing yang kaya yang memiliki barang dagang berharga dalam jumlah-jumlah besar, tidak ada yang melebihi kerajaan Ta-shih (Semenanjung Arab).

Lalu terdapat Sho-po/Cho-po (Jawa) dan yang ketiga San-Fo-shi (Sumatera)…” (Coedes: 1964). Dari sebutan geografis wilayah Jawa dengan wilayah Nusantara sekitar, termasuk wilayah antar kerajaan lintas samudra, dapat dijadikan pembahasan lebih dalam mengenai hubungan tata wilayah sebuah peradaban.

Kebesaran nama kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Jawa, memunculkan pola pikir, bagaimana para penguasa kerajaan dan jajarannya bisa menjalankan pemerintahan yang baik?

Pertanyaan ini tentunya juga berhubungan dengan konsepsi tata kelola ekonomi kerajaan (syahbandar) dengan hubungan dagang antar kerajaan (agraris dan maritim) lintas samudra melalui jalur sutra (dari dan ke Cina atau Gujarat/India).

Masyarakat maritim (maritime society of kingdoms) di Timur Jawa juga sangat mendukung kebesaran budaya perdagangan dan politik kerajaan. Pasar atau kota dagang lebih dikenal dengan sebutan syahbandar, berhubungan erat dengan tata kelolah transportasi dan jasa pendukung pasar, termasuk pajak perdagangan atau upeti.

Sedangkan, potensi komoditi khas lokal berkaitan dengan sumber daya alam tanah Jawa (agraris-maritim) dan produk barang dagang yang semuanya menjadi komoditi internasionallintas samudra (ekspor-impor).

Pada ranah ini pola tata kelolah suatu wilayah menentukan kedudukan sang raja sebagai penguasa, untuk bisa menjadi pemimpin yang mendapatkan pengakuan rakyat butuh pola manajemen pemerintahan yang baik (tersistem dan tegas). Peperangan dan perebutan wilayah bukan hanya sebatas perebutan kursi jabatan dalam sejarah kerajaan.

Akan tetapi, bagaimana budaya tapa atau tapa brata (meminta petunjuk pada Sang Dewa/Bathara Guru) yang dilakukan oleh seorang calon raja untuk dijadikan sebuah perencanaan pembangunan kerajaan (planning of kingdoms) yang bisa dimaknai sebagai visi dan misi pemerintahan kerajaan nantinya. (1 dari 4/bersambung – Djoko Widijanto – Pemerhati Sejarah-Budaya Klasik Nusantara)

Tulisan kedua

Memahami Budaya Panji, Budaya Asli Jawa Timur

foto
Memahami Budaya Panji sebagai budaya asli Jawa Timur. Foto: BudayaPanji.com

BLITAR – Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Blitar kembali menyelenggarakan bedah buku pada 18 November 2016 lalu. Buku yang dibedah karya budayawan Jawa Timur, Henri Nurcahyo, berjudul ‘Memahami Budaya Panji’.

Buku hasil terbitan Pusat Konservasi Budaya Panji tersebut merupakan deskripsi lengkap yang memuat dasar-dasar masyarakat untuk mengetahui apa itu Budaya Panji yang sempat diajukan menjadi ikon pembangunan Provinsi Jawa Timur.

Setelah sukses dibedah di Semeru Art Gallery Malang, Rumah Budaya Pecantingan Sidoarjo, TVRI Jawa Timur, serta kota-kota lain seperti Kediri, Tulungagung, Jogja, Palembang, Bandung, serta Jombang, giliran Kota Blitar menjadi tuan rumah. Buku yang laris manis dikalangan pecinta seni, sejarah dan budaya Indonesia ini telah cetak dua kali. Cetakan pertama November 2015 dan kedua Juni 2016.

Henri Nurcahyo, sang penulis buku Memahami Budaya Panji mengatakan awal mula menulis tentang Panji adalah saat masih aktif dalam kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Timur. Kala ditunjuk sebagai koordinator program konservasi budaya Panji pada 2008.

“Hingga akhirnya dapat menyelesaikan sebuah buku tentang Konservasi Budaya Panji pada 2009 yang berisi tentang makalah dan prosiding seminar kebudayaan Panji. Setelah itu secara mandiri, saya terlibat dalam aktivitas budaya Panji hingga kini,” paparnya.

Dituturkan, pada awalnya dirinya hampir sama dengan para audience yang hadir ketika memaknai Panji hanya sebagai sebuah cerita atau kisah percintaan antara Dewi Sekartaji dengan Raden Panji Asmorobangun.

Namun setelah mengikuti pesamuan budaya Panji pada 2008, akhirnya memahami bahwa Panji bukan hanya sekedar cerita, namun lebih dari itu. Panji merupakan sebuah budaya yang membumi di masyarakat karena mengandung hubungan filosofis manusia.

“Bahkan dalam banyak keistimewaannya salah satu yang patut dibanggakan Cerita Panji merupakan cerita asli Jawa yang dapat disejajarkan dengan kisah serapan seperti Mahabarata atau Ramayana,” jelas Henri kepada TimurJawa.com.

Cerita Panji Mendunia
Budaya Panji sendiri sebenarnya sudah cukup lama berkembang di masyarakat. Tidak hanya sekedar berupa sastra lisan, Panji-pun menjelma dalam naskah kuno, prasasti, relief candi, karya seni, dongeng, hingga kebudayaan masyarakat.

Berawal dari Cerita Panji yang dimulai pada zaman Kerajaan Kediri, Cerita Panji berlanjut di zaman Kerajaan Majapahit dan menjelma sebagai alat diplomasi budaya Majapahit yang hingga kini persebaran Cerita Panji telah ada di beberapa tempat di Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Filipina.

Bahkan pada tahun 2013, Thailand menjadi tuan rumah Festival Panji Internasional yang didalamnya menyajikan kesenian berlatar Cerita Panji dari negara-negara dunia.

Dalam bedah buku tersebut, Henri menjelaskan tentang apa itu budaya Panji. “Budaya Panji adalah segala produk manusia yang dibuat berdasarkan Cerita Panji. Ada dongeng Ande-Ande Lumut dan Timun Mas,” jelasnya.

Ada relief yang berkisahkan tentang panji di belasan candi yang tersebar di Jawa Timur. Ada komik RA Kosasih tentang Panji Semirang, ada Topeng Panji, ada Tari Panji, ada berbagai versi cerita tentang Panji seperti Panji Laras dan Panji Asmarabangun.

“Hingga nilai-nilai budaya yang muncul dari Cerita Panji, seperti kehormatan, kepahlawanan, pengabdian, hingga kesetiaan,” ungkap Henri.

Memory Of the World
Dalam bedah buku tersebut juga dibahas perihal peluang besar Indonesia untuk mendaftarkan Cerita Panji sebagai Memory Of the World (MOW), setelah La Galigo, Negarakretagama, dan Babad Diponegoro yang telah diakui UNESCO sebagai MOW terlebih dulu.

Pasalnya Indonesia kini telah memiliki 80 naskah kuno Cerita Panji di Perpustakaan Nasional, meskipun kondisi 40 naskah tersebut dalam keadannya rusak. Selain itu, lebih dari 200 naskah Cerita Panji tersimpan rapi di Belanda.

Salah satu naskah Cerita Panji yang dimiliki Indonesia dan yang didaftarkan dalam MOW adalah Cerita Panji Anggraeni. Namun Indonesia tidak sendiri, terdapat Malaysia juga mendaftarkan Cerita Panji Melayu. Adapun syarat sebuah dokumen bisa masuk MOW adalah asli, memiliki dampak dalam negeri dan memiliki dampak internasional.

Selain penulis buku, bedah buku di Kota Blitar itu juga menghadirkan Dr Subardi Agan MSi, sejarawan asal Kota Kediri yang bertindak sebagai pembedah.

Kepada TimurJawa.com, beliau menjelaskan, membahas tentang memahami budaya Panji, ada baiknya tidak hanya sekedar berhenti dalam membedah buku saja. “Namun pasca itu apa yang harus dilakukan agar budaya Panji tetap berkembang setelah kita mengetahui apa itu budaya Panji dari buku gaya jurnalisme yang ditulis Mas Henri ini.”

Aktualisasi budaya Panji, menurut Dr Subardi, dapat dilakukan dalam bentuk pertunjukan, film, festival, sarasehan, seminar, diskusi, atau yang lebih bagus lagi memasukkannya dalam dunia pendidikan. Sebab dalam buku memahami budaya Panji sudah sangat jelas, apa itu budaya Panji.

“Tinggal bagaimana kita merespon warisan budaya leluhur kita tersebut agar tidak hilang ditelan zaman,“ lanjut pengajar di Universitas Nursantara PGRI Kediri ini.

Selain para guru sejarah se-Kota Blitar, seniman, wartawan dan budayawan tampak hadir dalam bedah buku tersebut. Tampak pula hadir budayawan senior Kota Blitar seperti Lik Hir, Mardiono Gudel, hingga Ketua Dewan Kesenian Kota Blitar Andreas Edison yang nampak serius menindaklanjuti hasil bedah buku tersebut untuk membuat kegiatan dengan tajuk Budaya Panji. (rba)

Upacara Kasada: Warisan Masyarakat Tengger pada Dunia

foto
Upacara Kasada kini menjadi daya tarik wisatawan. Foto: Antara

Siapa yang tidak kenal dengan kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Potensi wisata unggulan Jawa Timur yang setiap tahunnya dikunjungi oleh 550.000 wisatawan yang diantaranya terdapat 15.661 wisatawan asing ini, menyimpan potensi alam yang luar biasa.

Selain suasananya yang sejuk, gunung yang memiliki ketinggian 2.329 m/dpl, menyimpan panorama alam yang konon tiada bandingnya di negeri ini. Seperti fenomena sunrise, hamparan padang pasir, dan hamparan padang savana.

Namun dibalik keanggunan Gunung Bromo, tersimpan beberapa tradisi yang membentuk filosofi dan kesejarahan yang pada akhirnya menunjukkan keramahan dan perilaku konservatif pada budaya dan lingkungan masyarakat Tengger, penduduk asli gunung Bromo.

Salah satu tradisi yang hingga kini dipertahankan oleh masyarakat Tengger adalah Upacara Kasada. Upacara yang biasa disebut dengan Yadnya Kasada merupakan hari raya kurban masyarakat Tengger. Upacara ini jatuh pada tanggal 14 malam bulan ke-12 atau Bulan Kasada menurut kalender Tengger.

Yadnya Kasada diikuti seluruh masyarakat Tengger yang tinggal di kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Puncak upacara diselenggarakan di Pura Luhur Poten yang menghadap ke Gunung Bromo, di tengah laut pasir atau biasa disebut oleh masyarakat Tengger dengan istilah Segara Wedhi.

Dalam upacara Kasada, masyarakat Tengger pada waktu fajar menyingsing berbondong-bondong menuju kawah Gunung Bromo untuk melemparkan kurban. Kurban yang dilemparkan berupa hasil pertanian dan peternakan yang dilengkapi dengan sajian dalam ongkek, alat sajian yang terbuat dari bambu.

Setelah itu di mereka berbondong-bondong menuju Pura Luhur Poten untuk mengikuti penyelenggaraan ujian untuk para calon dukun Tengger yang disebut mulunen.

Masyarakat Tengger
Menurut Prof Ayu Sutarto dalam bukunya ‘Inventarisasi Upacara Adat Provinsi Jawa Timur’, masyarakat Tengger merupakan salah satu dari 10 sub-kultur kebudayaan yang memiliki turunan tradisi terlengkap.

Selain Upacara Kasada, terdapat beberapa tradisi yang masih dipertahankan turun-temurun sebagai pemertahan keyakinan dan identitas seperti diantaranya upacara karo, unan-unan, pujan-pujan, peturon penganten, hingga upacara nyadran/sedekah panggonan.

Kondisi masyarakat Tengger sangat aman dan damai. Segala permasalahan selalu dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah mufakat.

Setiap pelanggaran yang dilakukan cukup diselesaikan oleh petinggi adat dan kepala desa. Mereka sangat patuh dan menjunjung tinggi apapun keputusan yang dikeluarkan oleh orang-orang tersebut.

Apabila cara ini tidak juga menolong, maka pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya.

Hal tersebut tidak terlepas dari peranan ajaran yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti Panca Setia.

Yaitu setya budaya artinya, taat, tekun, dan mandiri; setya wacana artinya setia pada ucapan; setya semya artinya setia pada janji; setya laksana artinya patuh, tuhu, dan taat; serta setya mitra artinya setia kawan.

Namun dari kesekian ajaran dan tradisi yang dianut oleh masyarakat Tengger, upacara Kasada-lah yang dianggap sebagai puncak perekat dari seluruh ritualitas masyarakat Tengger dalam mensyukuri nikmat dari Sang Maha Pencipta.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya cerita rakyat yang mengisahkan tentang asal muasal leluhur masyarakat Tengger dalam upacara Kasada.

Joko Seger dan Roro Anteng
Cerita rakyat tersebut tentang Joko Seger dan Roro Anteng, yang juga merupakan pelarian masyarakat kerajaan Majapahit yang mengalami serangan.

Pada saat itu penduduk Majapahit kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi dua bagian, yang pertama menuju ke Gunung Bromo, dan rombongan kedua menuju Pulau Bali.

Gunung Bromo dipilih sebagai tempat pelarian karena dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. Orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.

Diceritakan dalam cerita rakyat, pasca pelarian dari Kerajaan Majapahit pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger. Sebutannya Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya ‘Penguasa Tengger Yang Budiman’.

Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga ‘Tenggering Budi Luhur’ atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumah tangga belum juga dikaruniai keturunan.

Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widhi agar dikaruniai keturunan. Tiba-tiba muncul suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat. Bila kelak telah mendapatkan keturunan, maka anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya. Hingga pada akhirnya mereka memiliki 25 orang putra-putri, dengan anak bungsu bernama Raden Kusuma. Namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila harus mengorbankan Raden Kusuma ke dalam kawah gunung.

Hingga akhirnya pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger memutuskan untuk ingkar janji, hingga pada akhirnya Dewa menjadi marah dengan menimpakan malapetaka kepada seluruh masyarakat desa. Seketika itu juga suasana menjadi gelap gulita hingga pada akhirnya, kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Raden Kusuma anak bungsunya lenyap dari pandangan seketika terjilat selendang api, kemudian masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kusuma terdengarlah suara gaib.

”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Syah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan ritual kirim sesaji yang berupa hasil bumi kemudian dipersembahkan kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”

Mulai saat itulah masyarakat Tengger selalu menjalankan upacara Kasada, sebagai rasa syukur mereka atas kedamaian yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi. Mereka berbondong-bondong datang ke kawah gunung Bromo untuk berkurban, dengan harapan mereka dijauhkan dari malapetaka serta diberikan kemakmuran.

Kasada Warisan Dunia
Dalam mengapresiasi tradisi masyarakat Tengger, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencatat dan meregistrasikan upacara Kasada dalam warisan kebudayaan tak benda Indonesia. Namun dalam perjalanannya, tidaklah mustahil Kasada akan didaftarkan pemerintah dalam warisan kebudayaan tak benda dunia yang digawangi oleh UNESCO.

Adapun beberapa upacara adat dunia sudah didaftarkan, diantaranya Upacara adat Xooy dari Senegal, Upacara adat pembersihan anak laki-laki Lango dari Uganda, Upacara Nan Pa’ch dari Guatemala, Upacara Adat Rumah Suci Kangaba dari Mali, Upacara Mevlevi Sema dari Turki, serta Upacara Yamahoko dari Kyoto Jepang.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia mendaftarkan upacara adat Kasada sebagai warisan budaya mengingat tradisi tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Selain itu jika mengacu kepada syarat yang ditetapkan UNESCO, Upacara Adat Kasada sudah memenuhi kriteria diantaranya traditional, contemporary and living at the same time (tradisional, kontemporer, dan hidup pada saat yang sama).

Juga Inclusive (berkontribusi untuk memberikan rasa identitas dan kontinuitas serta menyediakan hubungan dari masa lalu); Representative (tumbuh subur pada dasar dalam masyarakat); serta Community-based (berbasis masyarakat). Tentunya hal tersebut juga disertai dengan acuan dan respon pemerintah Indonesia ketika melihat Upacara Kasada sebagai peluang dalam memberikan sumbangsih pada wasisan budaya dunia. (rba)

Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo (1)

foto

Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra) (1.653 mdpl) terletak di Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur) Jawa Timur memiliki ratusan peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Gunung Penanggungan, dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, (empat bukit tinggi dan empat bukit pendek) sehingga penampang Gunung Penanggungan selalu nampak sama bila dipandang dari delapan penjuru mata angin.

Keberadaan Gunung Penanggunan yang demikian itu menurut konsep atau Doktrin Cosmogoni Brahman Hinduisme atau Jawaisme merupakan MINIATUR JAGAD RAYA. Mandala ditengah–tengah dengan dikelilingi 8 Samudra dan 8 Benua. Merupakan MAHA MERU dengan MANDALA ALAMI.

Gunung Penanggungan, adalah satu-satunya gunung yang menyimpan bukti-bukti arkeologi paling banyak tentang sejarah masa lampau Bangsa Indonesia. Berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) ditemukan 116 situs percandian atau objek kepurbakalaan, mulai dari kaki sampai mendekati puncak gunung.

Patirtan Jolotundo
Patirtan Jolotundo berada di lereng barat Gunung Penanggungan, terletak di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Desa Seloliman terdiri dari tiga dusun dengan keindahan alam dan adat budayanya. Dusun Biting dalah salah satu dusun yang tepat berada di kawasan Patirtan Jolotundo.

Pada Bulan Suro, sebagian besar warga Dusun biting selalu mengadakan ruwat sumber, sejak puluhan tahun lalu. Sumber air Jolotundo adalah sumber air purba, artinya sumber air yang tidak bisa dideteksi pangkalnya.

Puncak Gunung Penanggungan yang dikelilingi oleh delapan bukit besar kecil secara berseling-seling, disepanjang musim penghujan merupakan tandon air raksasa, kawasan jebakan kabut, dan merupakan areal resapan, yang akan menarik air dipermukaan, masuk ke dalam perut gunung.

Proses demikian berlangsung jutaan tahun sudah barang tentu akan membentuk tandon air raksasa di perut gunung (minimal sebesar tandon dipermukaan) dan dapat disimpulkan bahwa tandon di perut gunung merupakan percampuran atau pertemuan antara air dari sumber purba dengan air resapan hujan dan kabut.

Gorong-gorong yang membawa air dari tandon raksasa di perut gunung ke delapan penjuru setelah melewati anak gunung, Patirtan Jolotundo yang menerima pasokan air terbesar. Pasokan air dari perut gunung, tidak semuanya muncul (dimunculkan) di Patirtan Jolotundo. Sebagian muncul dan dimunculkan (sumber-sumber lain) di kawasan bawah Patirtan Jolotundo.

Oleh karena itu Desa Seloliman khususnya Dusun Biting, konon namanya Dusun Benteng, karena posisinya berada di bawah areal Patirtan Jolotundo, dengan banyak ditemui sumber-sumber air.

Adalah Gatot Hartoyo, seorang ‘budayawan Embongan’ yang pada tahun 2009 mendata sumber-sumber air di Dusun biting bersama tim kecil Karang Taruna Dusun Biting dan memprakarsai agar budaya ruwat sumber di Patirtan Jolotundo, terus dilestarikan dan dikembangkan.

Patirtan Jolotundo adalah salah satu situs yang dibangun oleh Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Airlangga pada tahun 899 saka. Konon, Patirtan Jolotundo, digunakan Raja (Prabu) Airlangga untuk bersuci sebelum melakukan ritual.

Dari sudut pandang alami maupun cerita sejarahnya, membuat keberadaan Patirtan Jolotundo menjadi sangat penting, bagi masyarakat Desa Biting pada khususnya dan Desa Seloliman pada umumnya.

RUWAT SUMBER
RUWAT merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sejak jaman dahulu kala, turun temurun hingga sekarang. Ruwat, bagi masyarakat Jawa bukan sekedar budaya, namun sudah masuk dalam Ritual & Religi.

Ruwat pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ruwat Perorangan dan Ruwat Kelompok atau Komunitas. Namun kedua bentuk ruwat itu pada hakekatnya tetap sama, maksud dan tujuannya sama, yang membedakan hanya pada obyek yang diruwat.

Sejarah, Latar Belakang Dan Motivasi Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo
Dilihat dari kwalitas air dan kebutuhan manusia, air dibedakan menjadi tiga, air minum, air besih, dan air irigasi. Bagi warga masyarakat Dusun Biting Seloliman, air dari sumber Jolotundo menyangkut ketiga-tiganya.

Tentang air Jolotundo, pengertiannya tidak hanya air yang ada di Patirtan Jolotundo, tapi menyangkut juga air dari sumber-sumber yang ada di bawah Jolotundo, karena sumber-sumber tersebut merupakan limpahan dari Jolotundo.

Karena Ruwat Sumber Jolotundo ini menyangkut kepentingan pertanian perkebunan (tegalan) dan peternakan, selain kepentingan minum berikut kepentingan rumah tangga yang lain, maka Ruwat Sumber Jolotundo bisa diartikan sebagai Ruwat Pertanian dan sangat penting artinya bagi masyarakat, khususnya Dusun Biting Seloliman.

Ruwat Sumber Jolotundo bagi masyarakat Dusun Biting, menyangkut besar kecilnya debit air yang keluar dari sumber-sumber Jolotundo, menyangkut lancar dan tidak lancarnya, menyangkut keluar dan mampetnya sumber. Lengah atau absen dalam ruwat, akan berakibat mengecilnya debit air yang keluar, bahkan bisa mampet.

Penyelenggaran Ruwat Sumber Jolotundo, adalah demi (dengan harapan) lancar dan melimpahnya debit air yang keluar di seluruh sumber-sumber tersebut. Hal semacam ini sangat diyakini kepada bukti-bukti lewat N I T E N I. Oleh karena itu warga masyarakat Dusun Biting, tidak berani absen dalam pelaksanaan ruwat sumber ini.

Warga Dusun Biting Seloliman dengan antusias selalu aktif dan mengambil bagian dalam pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo, sejak puluhan tahun yang lalu.

Kemudian sejak 2008 warga berinisiatif meningkatkan acara ruwat sumber ini dari lingkup dusun ditingkankan menjadi lingkup desa, dari kegiatan dusun menjadi kegiatan desa. Dan dalam perjalannya penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo terus dibenahi, direnovasi dan kian disempurnakan sesuai kebutuhan dan tuntutan jaman.

Waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo oleh warga masyarakat Dusun Biting Seloliman dilaksanakan pada bulan Suro, jatuh pada pasaran Legi sepuluh hari petama (sebelum tanggal 10 jawa).

Bulan Suro adalah bulan pertama jawa tahun (faham) aboge dan tahunnya berdasarkan tahun saka (tahun jawa ).

Sedangkan pasaran Legi didasarkan kepada pitungan jawa tentang kejayaan, bahwa Jolotundo berada di sebelahan timur Dusun Biting. Warga masyarakat Dusun Biting untuk ke Jolotundo arahnya ke timur sesuai dengan pitungan jawa, bahwa pada pasaran Legi kejayaan ada di arah timur. Pitungan semacam itu bagi masyarakat jawa selalu diperhitungkan sejak jaman kuno hingga sekarang.

Adapun mengambil sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10), diperoleh dari hasil pengamatan yang diyakini bahwa bahwa mulai tanggal satu sampai dengan supuluh adalah saat-saat berkumpulnya enerji (kekuatan) di Jolotundo.

Penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo, kian tahun kian dibenahi dan kian disempurnakan dengan tidak merubah pakem, tetap berpegang kepada tradisi dan memegang teguh esensi ideologis.

Setelah tahun 2010 gagasan ini didukung Kepala Dusun Biting, Kepala Desa Seloliman, Karang Taruna dan didukung penguyuban kesenian Dusun Biting. Kegiataan ruwat memperkokohkan posisi ruwat dan lebih semarak gebyar pelaksanannya dan melibatkan masyarakat luar Dusun Biting. (ist/1 dari 3-bersambung)

Tulisan kedua klik disini

Banyuwangi Ethno Carnival Gerakkan Ekonomi Rakyat

"Kairouan Mosque Stitched Panorama" by MAREK SZAREJKO - Wikipedia
“Banyuwangi Ethno Carnival menggerakkan ekonomi rakyat. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi

Bupati Abdullah Azwar Anas mengemukakan bahwa ajang Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016 yang berlangsung sangat megah pada Sabtu mampu menggerakkan ekonomi rakyat.

Anas menyebut, BEC mempunyai tiga tujuan. Pertama, adalah upaya mengenalkan budaya lokal ke publik global. Lewat ajang ini pihaknya ingin menumbuhkan rasa cinta warganya pada budaya lokal.

Kedua, kegiatan pariwisata tersebut adalah ruang untuk mengapresiasi anak-anak Banyuwangi yang bergiat di bidang seni-budaya. “Salah satu problem pengembangan seni budaya kita selama ini adalah minim apresiasi. Latihan terus tapi tidak ditonton ribuan orang. Dengan kegiatan ini, apresiasi dilakukan sekaligus bagian dari regenerasi pencinta seni-budaya,” ujar Anas seperti dikutip Antara.

Tujuan ketiga, kata Anas, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. “Karena ada kegiatan ini hotel penuh, kuliner laris, oleh-oleh ludes, jasa-jasa penunjang bergerak, seperti jasa transportasi, pemandu wisata dan lain-lain,” katanya.

Ia menegaskan bahw BEC meupakan bagian dari pesta rakyat Banyuwangi, selain kegiatan-kegiatan lainnya yang mampu menggerakkan gairah pariwisata.

“Tujuan utama dari berbagai kegiatan pariwisata yang kami gelar adalah untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Di setiap festival, kami membebaskan trotoar di sekitar lokasi untuk berjualan UMKM karena ini adalah pesta mereka. Ke depannya kami akan terus menguatkan pariwisata daerah, salah satunya menambah infrastruktur wisata. Tahun depan akan ada lima hotel berbintang yang beroperasi di Banyuwangi. Akhir tahun ini juga akan ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Banyuwangi,” ujar Anas.

Sementara itu, kata sebanyak 200 peseta BEC mampu menunjukkan penampilan yang luar biasa. Mereka merupakan anak anak muda Banyuwangi yang penuh dengan ide dan kreativitas tanpa kehilangan semangat tradisi dalam menuangkan segenap potensinya.

“Anak anak ini tidak hanya menampilkan desain pakaian yang kreatif, namun sebagai garda terdepan menyampaikan pesan budaya dan sejarah, yakni dari Banyuwangi untuk dunia,” ujar Anas.

Karnaval yang temanya mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang ikut berparade. Di antaranya berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan ikut berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi. Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias.

“Ini pertama kalinya saya berlibur di Banyuwangi dan langsung terlibat di acara yang unik ini, sangat menyenangkan sekali,” kata Dzmitry Magvay Nedashkouskiy dari Republik Belarusia. (ant)

Candi Tikus, Air Kehidupan dan Keperkasaan Mahameru

"Taj Mahal 2012" by Muhammad Mahdi Karim - Wikipedia
“Candi Tikus” by eastjavatraveler.com

Candi ini terletak tak jauh dari Kolam Segaran dan Candi Bajangratu. Meski demikian, para ahli masih kesulitan mencari titik terang, hubungan antara Kolam Segaran, Bajangratu, dan Candi Tikus. Yang pasti, ketiganya berada di Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Candi Tikus sendiri berada di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Para ahli juga meyakini, Candi Tikus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki korelasi dengan candi-candi peninggalan Majapahit lainnya.

Sebagai sebuah aset wisata sejarah, Candi Tikus masih berdiri dengan wujud yang relatif utuh. Diperkirakan berdiri pada abad ke-13 atau 14, sejarawan meyakini, berdirinya Candi Tikus berhubungan erat dengan catatan Mpu Prapanca di kitab Nagarakertagama, tentang sebuah tempat yang biasa digunakan mandi para raja, dan sebuah candi yang sering digunakan untuk menjalankan ritual tertentu.

Arsitektur Candi Tikus konon melambangkan keperkasaan dan kesucian Gunung Mahameru yang diyakini sebagai tempat tinggal para dewa. Gunung Mahameru juga diyakini sebagai tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan. Sumber air ini dipercaya memiliki kekuatan magis. Salah satunya, dapat memberi kesejahteraan. Air yang ada di Candi Tikus, konon juga bersumber dari Gunung Mahameru.

Nama Candi Tikus sebenarnya cukup unik. Karena penamaan ini semata gara-gara saat ditemukan, hanya berbentuk gundukan bukit tempat bersarang tikus sawah. Saat itu warga resah, gara-gara sawahnya terus diserang tikus yang jumlahnya sangat banyak. Oleh pemerintah setempat, muncul inisiatif membasmi tikus sampai ke akar-akarnya. Dan ternyata, sumber tikus ada di candi ini.

Tahun 1914, Bupati Mojokerto Kromodjojo Adinegoro berinisiatif membongkar bukit ini. Mereka kaget bukan kepalang, karena di balik gundukan tanah ada tumpukan batu yang menyerupai bangunan candi. Setelah tanah dibersihkan mereka sadar, kalau sudah menemukan sebuah candi baru. Karena banyak tikus, nama Candi Tikus-pun jadi julukan buat candi ini. Lalu tahun 1985-1989, candi ini kembali dipugar. Gara-gara sepanjang perang kemerdekaan, Candi Tikus rusak di beberapa sisi. Upaya merenovasi candi dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati. Karena tim yang dilibatkan dalam proses ini juga berharap agar Candi Tikus bisa terjaga bentuk aslinya.

Beberapa catatan menyebut, salah satu inovasi yang dicapai pemerintahan Kerajaan Majapahit adalah teknologi irigasi. Pada jaman itu, warga hidup dari sawah. Sehingga raja-raja Majapahit sangat memperhatikan kualitas aliran air menuju sawah. Candi Tikus yang memiliki saluran air dan pancuran, seolah melengkapi asumsi itu. Pancuran dan saluran air di Candi Tikus, sepertinya berperan besar sebagai pengatur debit air di Majapahit.

Apapun, candi yang dibangun di atas tanah yang lebih rendah 3,5 meter dan memiliki dimensi 29,5X28,25 meter dan tinggi 5,2 meter ini nampak cantik dan indah dipandang mata. Tak heran jika keberadaannya masih jadi jujukan wisatawan dari dalam dan luar negeri. (*)

sumber naskah dan foto : www.easjavatraveler.com