Hanya Ada Lima Dalang Wayang Timplong di Dunia

foto
Dalang Wayang Timplong di Nganjuk. Foto: Netralnews.com.

Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, memiliki budaya yang kaya. Budaya tersebut lahir dari perjalanan sejarah, mulai dari zaman animisme-dinamisme, kerajaan Hindu-Budha, hingga Kesultanan Islam.

Sentuhan ketiga zaman tersebut masih bisa kita lihat dari sejumlah seni budaya yang hingga kini masih bertahan, salah satunya adalah Wayang Timplong. Namun, akibat derasnya kemajuan zaman, seni budaya tersebut seperti terseok dalam persaingan dunia hiburan.

Di satu sisi, ada perasaan menjerit jika melihat situasi tersebut. Ada kekhawatiran, apakah seni budaya warga Nganjuk yang sudah berumur lebih dari satu abad itu akan punah? Betapa tidak, dalam seni Wayang Templong diperkirakan hanya tinggal lima dalang yang berusaha mempertahankannya.

Syukurlah, pemerintah pusat tidak tinggal diam. Pada 2018 Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid berusaha mendorong agar seni daerah bangkit kembali. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk menyambut baik niat tersebut dan mengajak masyarakatnya untuk mencintai kesenian asli mereka.

Asal usul
Berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang di Situs Candi Lor, disebutkan bahwa pada tahun 937 M, Raja Mataram-Hindu bernama Mpu Sindok memberikan ucapan terima kasih kepada rakyat Desa Anjuk Ladang. Ucapan itu diberikan karena rakyat Desa Anjuk telah membantu berperang menghadapi serangan dari pasukan Kerajaan Sriwijaya.

Atas jasa tersebut, Mpu Sindok memberi hadiah berupa tugu kemenangan dan sima atau status desa bebas pajak atau disebut juga sebagai daerah perdikan. Dalam kalender Masehi, hadiah itu diberikan pada 10 April 937. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Nganjuk.

Melalui kacamata sejarah, tergambar pula bahwa wilayah Kabupaten Nganjuk bukanlah wilayah Negara Agung atau berdekatan dengan pusat pemerintahan, baik era Hindu-Budha maupun era Kesultanan Islam. Maka, kehidupan sosial dan budaya masyarakat ini cenderung bersifat egaliter atau tidak terlalu hirarkis.

Dalam hal seni budaya, kesenian rakyat seperti Jaranan Pogog, Tayub, dan Wayang Timplong, pernah tumbuh subur dan digandrungi warga Nganjuk. Selain seni budaya tersebut, masyarakat Nganjuk juga sangat menghargai tradisi ritual berbau animisme-dinamisme seperti Nyadran (tolak bala atau bersih desa) dan Syu’roan (perayaan tahun baru Islam-Jawa).

Lalu, apa hubungannya antara kesenian rakyat dan tradisi ritual berbau animisme-dinamisme serta sekaligus Islami? Jawabannya adalah bahwa seni rakyat tersebut biasanya dilangsungkan bersamaan dengan tradisi tersebut. Jadi, Wayang Timplong merupakan bagian dari ritual dan sekaligus sebagai seni pertunjukan.

Berdasarkan hasil penelitian Anjar Mukti Wibowo dan Prisqa Putra Ardany yang berjudul “Sejarah Kesenian Wayang Timplong Kabupaten Nganjuk” (2013), disebutkan bahwa kesenian tersebut pertama kali diciptakan oleh Mbah Bancol sekitar tahun 1910.

Mbah Bancol sebenarnya adalah pendatang dari Grobogan, Jawa Tengah, kemudian menetap di Desa Jetis, Kecamatan Pace. Mbah Bancol menciptakan Wayang Timplong karena terinspirasi oleh Wayang Krucil yang sangat ia sukai sejak kecil.

Namun saat ia dewasa, ia ingin menciptakan wayang yang berbeda dengan Wayang Krucil. Mbah Bancol memilih membuat wayang dari kayu pohon waru, mentaos, atau pinus yang dibuat menjadi pipih. Untuk musik iringannya, mulanya masih sederhana, yaitu terdiri dari gambang, ketuk kenong, kempul, dan kendang.

Suara yang dihasilkan dari alat musik tersebut, terdengar di telinga didominasi oleh bunyi, “Plong, plong, plong.” Oleh karena itu, masyarakatnya kemudian menyebutnya sebagai Wayang Timplong.

Wayang Timplong seringkali digolongkan sejenis dengan Wayang Krucil atau Wayang Klitik karena sama-sama terbut dari kayu. Namun, dalam Wayang Timplong, hanya ada 60 buah wayang untuk mewakili 60 tokoh yang terdiri dari orang, binatang, dan wujud senjata.

Sedangkan untuk kisah yang dimainkan oleh sang dalang, biasanya menggunakan kisah panji dan babad. Beberapa contoh judul kisah tersebut adalah “Babat Kediri”, “Asmoro Bangun”, “Panji Laras Miring”, Baru Klinthing”, dan “Damarwulan”.

Menggiatkan kembali

Dalam sebuah wawancara media di Jawa Timr pada 26 Oktober 2011, seorang dalang Wayang Timplong bernama Ki Gondo Maelan mengatakan, “Sekarang ini di Nganjuk, bahkan mungkin di seluruh dunia, hanya terdapat tidak kurang lima dalang Wayang Timplong, dan yang tertua adalah saya.”

Pernyataan Ki Gondo Maelan menjadi semacam peringatan bahwa Wayang Timplong mengalami ancaman kepunahan. Sementara itu, seorang dalang lainnya yang bernama Ki Talam mengatakan, “Ojo sampek ilang (jangan sampai hilang), Wayang Timplong itu wujudnya seperti itu.”

Pada tahun ini, harapan kedua dalang tersebut sepertinya mulai menampakan hasilnya. Direktorat Jenderal Kebudayaan menggalakkan setiap pemerintah daerah untuk menghidupkan dan menggiatkan seni daerah.

Menanggapi hal itu, Pemkab Nganjuk telah mengadakan sejumlah diskusi menggali permasalahan seputar Wayang Timplong serta menyusun program khusus yang kemudian dinamakan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Nganjuk Tahun 2018.

Dari hasil diskusi pleno tim penyusun PPKD, 3 Juli 2018, yang dihadiri pula oleh Solekan, seorang dalang Wayang Timplong, serta sejumlah anggota Persatuan Perdalangan Indonesia (Pepadi), dihasilkan sejumlah kesimpulan penting.

Kesimpulan itu memuat sejumlah pokok persoalan yang dihadapi Wayang Timplong, yaitu tidak adanya regenerasi pegiat Wayang Timplong, pertunjukannya kurang menarik, musiknya sangat sederhana, dan perlu adanya manajemen pemasaran.

Sementara beberapa program yang akan dijalankan Pemkab Nganjuk antara lain membuat narasi yang menarik, pertunjukan Wayang Timplong secara periodik, perlunya program wayang masuk sekolah, serta penguatan organisasi Pepadi, terutama dalam menjalankan manajemen pemasaran. (ist/Netralnews.com)

ITS Bakal Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

foto
Dr R Cecep Eka Permana saat menyampaikan perkembangan peradaban maritim Nusantara Pra Majapahit. Foto: Humas ITS.

Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.

Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.

Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.

Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya, seperti dilansir Humas ITS.

Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.

“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.

“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.

Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)

Belajar Kesenian Juga Belajar Keberagaman

foto
Penari Didik Ninik Thowok bersama 15 peserta didiknya di Jogja. Foto: Kemendikbud.go.id.

Sebanyak lima belas siswa-siswi SMA/SMK peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) tahun 2018 menggelar pertunjukan seni tari di Yogyakarta, pekan lalu.

Bertempat di Pendopo Kedaton, Hotel Royal Ambarrukmo, para siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menunjukkan kemampuannya setelah selama dua minggu belajar langsung dari salah satu maestro seni tari Indonesia, Didik Ninik Thowok.

Bagi salah satu peserta BBM, Firhan Nurhantiko, dari SMA Negeri 6 Surakarta, kesempatan belajar langsung dengan Didik Ninik Thowok merupakan suatu kebanggaan karena berhasil terpilih dari sekian ribu peminat.

“Sangat senang dan bangga bisa lolos dan mengikuti program BBM, karena kesempatan ini telah melalui perjuangan dan seleksi dari sekian ribu peminat, dan bisa belajar langsung bersama maestro,” ujar Firhan, dikutip laman Kemendikbud.go.id.

Tidak hanya memperoleh bekal ragam gerak yang berhubungan dengan olah tubuh, Firhan dan peserta BBM di bawah bimbingan Didik Ninik Thowok lainnya pun diajak berwisata edukasi, mengunjungi tempat bersejarah yang memiliki nilai seni.

“Karena siswa-siswi dasarnya bukan dari sekolah-sekolah penari semuanya, ada juga yang ingin menari tapi belum bisa menari, jadi kami juga membekali wisata edukasi ke tempat yang bersejarah dan mempunyai nilai seni, seperti ke museum dan candi, sehingga diharapkan mereka akan bangga dan cinta budaya, seni, dan benda bersejarah yang ada di Indonesia,” jelas Didik.

Bagi penari yang bernama asli Didik Hadiprayitno itu, tahun ini adalah kali kedua ia terlibat dalam program Belajar Bersama Maestro, setelah yang pertama pada tahun 2015. Melalui bidang seni dan budaya, ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai keberagaman.

“Saya mengenalkan seni melalui berbagai macam kostum tradisional dari berbagai daerah, sehingga diharapkan mereka akan bangga dengan bangsa kita yang luar biasa kaya, khususnya dalam bidang seni budaya, dan kalau kita tidak mengenalkan sangat dikhawatirkan mereka tidak akan mengerti tentang keberagaman,” jelas Didik.

Siswa-siswi peserta BBM di bawah bimbingan maestro tari Didik Ninik Thowok antara lain berasal dari Lampung, Padang, Sampit, Bone, Malang, Solo, Ponorogo, Brebes, Cirebon, dan Riau.

Didik meyakini, kesenian juga mengajarkan kepada para siswa tersebut apa yang disebut dalam istilah dalam bahasa Jawa, unggah-ungguh, atau cara bersikap terhadap orang lain yang berinteraksi dengan diri kita.

“Kesenian, dalam hal ini seni tari, tidak hanya tentang menguasai tarian saja, banyak hal-hal lain yang saling berhubungan dan positif, yang bisa kita dapatkan,” pungkas Didik usai pergelaran.

Dalam pergelaran tari tersebut, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoto, turut hadir membuka acara. Masyarakat yang hadir menyaksikan pergelaran antara lain tokoh, pengamat seni, serta siswa-siswi pegiat seni di Yogyakarta. (sak)

Ningrum Pamer Tari Topeng Klana di Korea

foto
Peserta acara 4th International Cultural Exchange di Korea. Foto: PIH Unair.

Tak disangka, kecintaan pada seni membawa mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini terbang ke Korea Selatan. Ialah Anindya Endah Cahyaningrum atau yang akrab dengan sapaan Ningrum. Mahasiswa semester tujuh ini berkesempatan mengikuti program yang diselenggarakan oleh ISCEF (Indonesian Student Cultural and Eduaction Foundation), 10-14 Juli 2018 di Seoul National University.

Dalam acara kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan bertajuk 4th International Cultural Exchange : Immersing the Culture and Experiencing the Exchange ini, Ningrum membuktikan kepiawaiannya dalam menari. Menampilkan tari Topeng Klana asal Cirebon, gadis asli Surabaya ini membuat peserta terpukau dengan kebolehannya menari.

Selain Ningrum, ada 6 mahasiswa lain yang menjadi wakil dari Indonesia dalam acara ini. Dua mahasiswa asal Bali, empat mahasiswa asal Merauke, dan satu mahasiswa asal Surabaya yaitu Ningrum.

“Audience-nya sangat apresiatif. Mereka sangat memperhatikan penampilan yang disuguhkan di sana. Mereka sangat excited menyaksikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia,” ungkapnya.

Tarian yang Ningrum bawakan menceritakan tentang amarah, keserakahan, dan keburukan-keburukan yang ada dalam diri manusia. Tarian ini merefleksikan kondisi manusia yang didominasi oleh sisi buruk yang ada dalam diri.

“Biasanya saya membawakan tarian yang menceritakan tentang keindahan atau kecantikan, seperti kecantikan perempuan atau keindahan alam. Tapi untuk kali ini, saya ingin menampilkan sesuatu yang lebih punya moral value yang bisa disampaikan kepada audience,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, delegasi Indonesia menampilkan kesenian tradisional Indonesia, story telling, puisi, dan tari tradisional. Acara ini disaksikan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Musik, Seoul National University.

Usai penampilan kesenian Indonesia, dilanjutkan dengan penampilan kesenian musik tradisional oleh mahasiswa Seoul National University. Selain penampilan seni, dalam kegiatan ini juga dilakukan tour ke beberapa tempat ikonik serta mengenal budaya Seoul.

Meski terbiasa menari, Ningrum sempat nervous karena membawakan tarian yang mulanya tidak biasa ia bawakan. Kepiawaiannya berbuah manis karena mendapat respon positif dari mahasiswa-mahasiwa yang ada di sana.

Bagi Ningrum, pengalaman yang tak kalah menarik selama di Seoul adalah membawakan tarian Topeng Klana menggunakan topeng. Hal ini berlangsung sejak durasi pertengahan hingga menjelang akhir tarian, dari yang awalnya ditutupi kain , dan ketika dibuka audience kaget setelah melihat topeng dibalik kain yang ternyata menyeramkan.

Selain itu, di Seoul, Ningrum berkesempatan membagi ilmu tari nya pada wisatawan yang berkunjung ke sana.

“Sepulang dari Seoul, saya berharap semangat untuk belajar dan mendalami kesenian tradisional Indonesia semakin bertambah, memiliki kesempatan untuk membawa kesenian tradisional Indonesia ke negara lain, serta semakin banyak anak Indonesia yang mendalami kebudayaan Indonesia,” tambah Ningrum. (ita)

Mengusir Seram di Museum Mpu Purwa Malang

foto
Museum Mpu Purwa dilengkapi teknologi QR Code. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Museum dengan sebagian besar koleksinya berupa artefak maupun arca tak selalu tampak suram. Museum bisa dikemas lebih milenial, dilengkapi teknologi modern. Penampilan seperti itulah yang kini bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa di Kota Malang, Jawa Timur.

Salah satu museum di Kota Malang ini terlihat cerah dengan tata cahaya, memupus kesan suram. Museum Mpu Purwa mengoleksi 136 artefak sampai arca. Meski hanya 56 koleksi masterpiece yang dipajang. Koleksi itu peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Majapahit.

Banyak koleksi bernilai sejarah tinggi yang hanya bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa. Misalnya, sebuah arca ganesha mengendarai tikus. Arca berukuran sekitar 40 cm x 60 cm ini hanya satu–satunya yang ditemukan di Indonesia. Hanya di India arca serupa bisa dijumpai.

Pengunjung, seperti dilaporkan Liputan6.com, dimudahkan untuk mendapat informasi tiap koleksi itu meski tanpa pemandu. Sebab museum menggunakan teknologi QR Code atau sistem scaning. Pengunjung bisa mendapat informasi berbentuk digital sekaligus langsung mengunduhnya di telepon cerdas miliknya.

Di dalam museum seluas 1.200 meter persegi ini juga terdapat ruang multi media. Pengunjung bisa menikmati film tentang sejarah Kerajaan Singasari yang diputar di ruangan ini. Seluruh fasilitas itu disediakan agar kita bisa menikmati museum dengan cara berbeda.

“Museum ini sangat bagus untuk sarana pendidikan dan rekreasi. Bisa mengembangkan imajisasi dan kreatifitas pengunjung,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi saat meresmikan Museum Mpu Purwa di Malang, Sabtu (18/7) lalu.

Keberadaan museum ini cukup penting. Apalagi di Malang kerap ditemukan berbagai peninggalan purbakala. Dengan segala kekayaan sejarah masa lalu, masih banyak peninggalan purbakala yang belum dieksplorasi di wilayah ini.

Sejak 1980-2000, Gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa berpindah-pindah tempat. Dari Kantor DPU Jl. Halmahera, Tawira, Rumah Makan Cahyaningrat hingga Perpustakaan Umum Kota Malang.

Tahun 2000 Perpustakaan Umum direnovasi, dan Pemkot Malang memberikan gedung bekas SDN 2 Mojolangu sebagai tempat penyimpanan benda cagar budaya dengan nama Balai Penyelamatan Cagar Budaya.

Pegiat seni dan budaya di Kota Malang diharapkan juga memanfaatkan museum ini untuk berbagai kepentingan. Mulai kegiatan ilmiah hingga pertunjukan untuk promosi seni dan budaya. Agar semua produk budaya tak hanya tersimpan di museum atau jadi dokumen semata.

“Ke depan harus banyak museum yang ditata dengan tema tertentu. Akan ada alokasi anggaran khusus untuk museum, apalagi sekarang sudah ada perundangan kemajuan budaya,” ujar Muhadjir. (ist)

Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia

foto
Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia Sejak di Banyuwangi IDN Times/Vanny El Rahman.

Sudah tentu hal yang biasa bila anak muda asal Indonesia bermain gamelan dan menari khas Nusantara. Tapi bagaimana jika yang melakukan hal itu adalah seorang warga negara asing?

Bisa dikatakan, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia. Arzu Muradova salah satunya. Wanita berusia 23 tahun asal Azerbaijan ini merupakan peserta Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Menetap selama tiga bulan di Banyuwangi, Jawa Timur, Muradova kepada IDN Times mengaku terkesan dengan kebudayaan Indonesia.

Siapapun yang bercengkrama dengannya pasti akan terkejut. Sebab, dia mampu berbahasa Indonesia dengan lancar.

“Sebelumnya, aku belajar bahasa Indonesia di Azerbaijan. Aku juga belajar Kajian Kawasan Indonesia. So, aku sangat jatuh cinta sama budaya Indonesia,” ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Selama di ujung pulau Jawa, banyak hal yang dipelajari oleh Muradova. Sebagai pecinta kebudayaan Nusantara, mempelajari tarian dan alat musiknya adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita yang baru saja menuntaskan studi sarjananya itu.

“Di Banyuwangi aku belajar Tari Jejer Gandrung dan Gamelan. Kalau menarinya sih gampang ya, tapi gamelan agak susah,” terangnya dalam bahasa Indonesia yang begitu lancar.

Setelah mempelajari sekitar 90 hari lamanya, Muradova bersama 72 peserta BSBI dari 44 negara lainnya menampilkan tarian dengan alat musik secara kolosal. Terlihat jelas dari parasnya, betapa perasaan lega menyelimutinya setelah dia berhasil menuntaskan penampilannya.

Muradova juga menyukasi makanan khas Indonesia. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah mi goreng, nasi goreng, pecel petik, dan dadar gulung. “Indonesia sangat menarik. Indonesia just amazing,” ungkapnya yang kala itu masih menggunakan pakaian adat khas Banyuwangi.

Selama berada di Bayuwangi, kedatangan Muradova bertepatan dengan diselenggarakannya Festival Seblang. Melalui festival tersebut, Muradova mengaku takut namun tertarik melihat wanita yang hilang kesadaran dalam keadaan menari.

“Di Banyuwangi ada Festival Seblang. Itu ada ritual, ruh masuk ke dalam tubuh cewek muda. Dia menari dan dia undang orang lain, jadi dia kesurupan. Itu menarik. Saya mau kembali ke Banyuwangi, tapi takut melihat festivalnya, hahaha,” ucapnya sembari melepas tawa.

Kesempatan di Banyuwangi tidak hanya digunakan untuk mempelajari budaya Indonesia. Muradova turut menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Ijen.

Dari ketinggian 2.799 meter di atas permukaan laut, Muradova menyaksikan betapa indahnya matahari terbit dan fenomena api biru yang hanya ada di Banyuwangi dan Islandia.

“Iya, saya mendaki 12 kilometer. Susah banget, tapi bagus. Berangkat dari jam 12.00 sampainya jam 16.00. Lihat Blue Fire tapi cuma sedikit, kami juga liat sunrise, indah sekali,” ceritanya.

Selain Ijen, Banyuwangi juga terkenal dengan keindahan pantainya. Beruntung bagi Muradova, karena pesona pantai Banyuwangi menjadi tempat pertamanya untuk menikmati keindahan bawah laut.

“Pengalaman menarik aku di Banyuwangi itu pas snorkling. Aku belum pernah sebelumnya, jadi menarik sekali. Aku berenang sama baby shark, deket banget. Takut tapi menarik,” celotehnya.

Kecintaan Muradova terhadap Indonesia seakan menopang masa depannya. Setelah menunaikan studinya di Azerbaijan, Muradova tertarik mengambil program master di Indonesia.

“Aku rencananya mau ambil S2 di Bandung atau di Yogyakarta, di Surabaya juga bisa. Nanti mau ngambil hubungan intenasional, karena aku di Azerbaijan belajar itu juga. Aku rasanya gak ingin kembali ke negeriku,” ujarnya.

Sementara, Direktorat Diplomasi Publik Kemlu sebagai salah satu pihak penyelenggara, mengaku lega setelah menuntaskan kegiatan pertukaran pelajar dan budaya ini.

Direktur Diplomasi Publik Azis Nurwahyudi berharap, sekembalinya para peserta ke negaranya masing-masing, mereka akan menjadi duta Indonesia di tempat kelahiran mereka.

“Saya merasa bangga dengan hasil belajar teman-teman BSBI. Hasilnya luar biasa, mereka serius belajar apa yang bisa dipelajari di Indonesia. Saya bangga dengan mereka. Kami berharap mereka semua akan menjadi duta Indonesia di negaranya masing-masing,” kata dia. (ist)

Peserta Cross Culture 2018 Surabaya Meningkat

foto
Setelah tampil, peserta Cross Culture 2018 ramai-ramai naik becak. Foto-Foto: Humas Pemkot Surabaya.

Ratusan peserta mancanegara dan perwakilan kota dari Indonesia meramaikan pembukaan festival Surabaya Cross Culture International bertema Folk Art di sepanjang Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (15/7) pagi.

Mereka menampilkan atraksi budaya dibalut kostum yang menjadi ciri dari masing-masing negara dan kota.

Tepat pukul 8 pagi, satu per satu peserta unjuk kebolehan dengan menampilkan berbagai macam atraksi budaya dan tarian tradisional dan iringan musik.

Diawali dari negara Uzbekistan, Rusia, New Zealand, Singkawang, Bulgaria, Jerman, Banjarmasin, Polandia, dan ditutup oleh negara Rumania.

Selama acara berlangsung, tampak warga Surabaya terhibur ketika menyaksikan secara langsung budaya tari dan musik dari masing-negara dan kota. Wajah sumringah juga ditampilkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan memberi semangat kepada peserta yang tampil.

Usai menampilkan festival tari-tarian, para peserta menuju balai kota menggunakan becak hias. Wali Kota Risma – sapaan akrabnya mengatakan, acara Surabaya Cross Culture tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini membuktikan bahwa Kota Surabaya sudah aman, pasca musibah yang menimpa beberapa waktu lalu. “Ini menunjukkan Surabaya sudah aman dan ke depan jumlah peserta yang ikut semakin banyak,” ujar Risma saat menjamu para tamu mancanegara di lobby balai kota lantai 2.

Meningkatnya jumlah peserta, lanjut Risma, tidak lepas dari persiapan yang lebih baik dibandingkan tahun kemarin.

Dengan persiapan yang matang ini, lanjutnya, mampu menarik sekaligus meningkatkan jumlah wisata mancanegara untuk datang ke Surabaya. “Kalau semakin banyak itu semakin bagus karena Surabaya akan menjadi kota wisata,” tuturnya.

Menurut Risma, warga Surabaya sudah mengerti bahwa kotanya telah menjadi destinasi wisata sekaligus sebagai wadah pertukaran ilmu pengetahuan dan budaya.

“Ini terbukti dengan keramah mereka (negara asing) saat menerima menerima warga Surabaya,” imbuhnya.

Acara tahunan ini mendapat respon positif dari Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mei. Dirinya mengatakan, festival lintas budaya di Surabaya sangat luar biasa.

Bahkan wali kota kelahiran Singkawang tersebut ingin menyelenggarakan sekaligus memperkenalkan budaya singkawang kepada wisata mancanegara.

“Suatu saat kami juga akan melakukan acara semacam ini dengan mengundang negara lain untuk menambah wawasan baik bagi warganya maupun tamu mancanegara tentang budaya lokal yang ada disana,” jelasnya.

Selain Cross Culture, akan ada acara internasional lain yang diselenggarakan Kota Surabaya dalam waktu dekat antara lain, UCLG bulan september yang dihadiri 150 negara serta acara Start Up Nation Summit pada bulan november yang akan dihadiri 100 negara dengan agenda pertemuan teknologi informasi. (ita)

Ritual ‘Manten Kopi’ Sejak Era Kolonial di Blitar

foto
Tokoh adat saat upacara adat Temanten Kopi di Blitar. Foto: Antara/Irfan Anshori.

Pemilik Kebun Kopi ‘Karanganjar’ di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menggelar ritual ‘Manten Kopi’. Ritual sebagai tanda musim panen dan giling ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.

“Kami menggelar kegiatan ini untuk melestarikan budaya leluhur, sekaligus sebagai permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah,” kata Wima Bramantya, Pengelola Kebun Kopi ‘Karanganjar’ Kecamatan Nglegok, Blitar, Sabtu (7/7).

Wima Bramantya mengungkapkan, ritual ini sekaligus upaya untuk menarik kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di tempat ini bukan hanya ada kebun kopi, tapi juga dilengkapi berbagai fasilitas termasuk tempat menginap.

Ritual untuk menandai masuknya musim panen dan giling biji kopi yang sudah dilakukan masyarakat lereng gunung Kelud sejak masa penjajahan kolonial Belanda tersebut sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.

Ritual ini seperti dikutip Tagar.id, diawali dari depan wisma loji di area kebun. Rombongan pengiring manten membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga.

Rombongan pengiring langsung menuju lokasi perkebunan. Setelah tiba, sesepuh desa meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Sesepuh desa membakar dupa dan kemenyan, sehingga aroma khas dupa dan kemenyan langsung semerbak ke sekitar lokasi.

Sesepuh desa kemudian memotong dahan kopi yang banyak berisi buah kopi, lalu dibungkus dengan kain berwarna putih. Selanjutnya, para pekerja langsung mengikuti sesepuh itu, saat proses ritual dengan memetik kopi masih berlangsung.

Kegiatan ritual memetik kopi bukan hanya diikuti para pekerja tapi juga wisatawan asing. Mereka tertarik dengan proses ritual yang mereka anggap unik. Bahkan, wisatawan asing sempat memetik kopi.

Seluruh hasil memetik kopi itu ditaruh ke dalam tempat yang terbuat dari bambu. Selanjutnya, kopi yang telah dipetik diarak menuju tempat pesanggrahan untuk diserahkan ke pengelola dan pemilik kebun, sebagai simbol panen raya kopi telah dimulai.

Para wisatawan yang memetik kopi mengaku mayoritas baru pertama kali ikut dan melihat ritual tersebut. Mereka merasa kagum dengan kebudayaan di Indonesia, sehingga sengaja datang untuk mengabadikan. “Ini menarik sekali, jadi saya sengaja datang ke kebun kopi. Saya juga senang minum kopi,” kata Alan Sage, seorang wisatawan asal Inggris.

Hasil petikan tersebut kemudian digiling, sebagai pertanda dimulainya proses penggilingan kopi. Perusahaan juga berterimakasih, sebab kegiatan ritual berjalan lancar.

Luas Kebun Kopi “Karanganjar” di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu mencapai 206 hektare. Rata-rata dari hasil kopi yang ditanam perusahaan, bisa menghasilkan hingga 100 ton kopi. Untuk penjualan, selain memenuhi pasar dalam dan luar negeri, juga dikemas sendiri, dijual ke wisatawan yang berkunjung ke kebun kopi. (ist)

‘No Limit No Fear’ di House of Sampoerna

foto
Pameran ‘No Limit No Fear’ di House of Sampoerna. Foto: Dok HoS.

Dengan semangat bebas berekspresi dalam menciptakan karya seni, para seniman muda yang tergabung dalam Forum Aliansi berupaya untuk terus mengasah kreatifitas, menghasilkan karya-karya menarik dengan menggunakan beragam media.

Keberanian untuk keluar dari batasan-batasan dalam berkarya tampak pada gelaran karya bertajuk “No Limit No Fear” yang diselenggarakan di Galeri Paviliun House of Sampoerna pada tanggal 13 Juli – 11 Agustus 2018.

Sebanyak 31 karya baik berbentuk 2 maupun 3 dimensi diciptakan untuk merespon tema “No Limit No Fear” yang tersaji secara apik dengan keunikan cerita di baliknya.

Para seniman muda yang turut serta dalam pameran ini menerjemahkan pemahaman akan keberanian melalui beragam cara, seperti menggambarkannya langsung kedalam karya atau dengan cara keluar dari pakem yang selama ini mereka anut.

Yakni pakem menggunakan media selain kanvas dan bereksperimen dengan warna serta teknik yang tidak biasa.

Seperti karya dari Zulfikar Risky dengan karya berjudul “Arena Tinju Pemuja Batu” yang merespon tema pameran ini dengan mengibaratkan seorang seniman sebagai seorang petinju berkepala macan.

Yakni seorang petarung yang harus rutin berlatih dan siap bertempur di medan perang dalam kondisi apapun.

Lain halnya dengan Raka Valdiansyah yang berjudul “Penyet-Penyetan”, baginya berkarya itu bukan melulu hanya soal melukis, melainkan bermain-main dengan media lainpun juga bisa dianggap berkarya.

Karya Raka terbilang sangat unik karena menggunakan media seng, stiker yang dikombinasikan dengan drawing sehingga menghasilkan karya yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain.

Keunikan karya serta cerita dari masing-masing anggota Forum Aliansi inilah yang diharapkan akan menjadi inspirasi dan menumbuhkan jiwa seni pada masyarakat untuk turut ikut berkarya.

Forum Aliansi, yang terbentuk 2017 atas dorongan House of Sampoerna (HoS), awalnya merupakan sekumpulan anggota alumni SMSR yang secara aktif berkegiatan seni.

Kedepannya Forum Aliansi diharapkan menjadi wadah yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua seniman Surabaya yang ingin bergabung dan berkarya bersama.

“Dengan terselenggaranya pameran ini kami ingin silaturahmi antar anggota alumni tetap terjalin sehingga tujuan utama kami untuk terus menanamkan nilai-nilai seni di jiwa masyarakat dapat terwujud,” ujar Miftahul Khoir, Ketua Forum Aliansi saat memberikan ulasannya.

Pameran “No Limit No Fear” juga menjadi pameran pertama yang digelar di Galeri Paviliun, yakni ruang galeri baru yang menempati bangunan paviliun Rumah Barat.

Serta memiliki misi pendidikan dalam memperkenalkan seni, budaya dan sejarah dalam berbagai program pameran yang digelar setiap bulannya, dengan melibatkan seniman dari berbagai latar belakang, kolektor, komunitas, institusi pendidikan dan budaya dari dalam maupun luar negeri, yang memiliki kepedulian yang sama dalam perkembangan dan pelestarian seni dan budaya. (ita)

Ruwatan Panji di Candi Tegowangoi Kediri

foto
Candi Tegowangi tegaskan Budaya Panji milik Kediri. Foto: Sureplus.id.

Acara Festival Panji Internasional di Candi Tegowangi kemarin memang istimewa. Bukan hanya menjadi awal dari rangkaian Pekan budaya dan Pariwista Kabupaten Kediri yang pelaksanaannya hingga 14 Juli 2018.

Acara dibuka secara resmi melalui Parade Budaya dan Pawai Mobil Hias di kawasan SLG pada 8 Juli. Festival ini semakin istimewa karena juga diwarnai oleh seniman mancanegara. Baik penari mapun singer.

Bahkan, para seniman asing itu seperti memiliki pertautan dengan cerita panji. Naowarat misalnya, dia langsung teringat dengan satu tarian di negerinya saat melihat pertunjukan Panji.

Meskipun dia tak paham sepenuhnya ucapan sang dalang, dia langsung merasa cerita Panji juga familiar di negaranya. Berwujud pada tarian Inao. “So amazing Panji. I know that story,” ujarnya seperti dikutip Jawapos RadarKediri.

Yuli Marwanto mengatakan hal serupa. Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri itu menyebut ruwatan panji justru besar di negara-negara lain.

Mulai Thailand, Vietnam, Myanmar, hingga Filipina. Bahkan, sangat disakralkan. Seperti tarian Inao di Thailand yang masih berkaitan dengan cerita Panji. “Justru di masyarakat Thailand ini (hanya) bisa dilihat ketika ada hajatan saja,” ungkapnya.

Masih menurut Yuli, tarian Inao erat kaitannya dengan tarian Panji dengan Dewi Kilisuci atau Sekartaji. Secara garis besar Panji adalah seorang kesatria yang selalu kehilangan pasangan hidupnya. Sebelum akhirnya mendapatkannya kembali dengan perjuangan yang luar biasa.

Acara Ruwatan Panji di Candi Tegowangi merupakan rangkaian dari beragam acara Festival Panji Internasional. Rangkaian kegiatan seni sacral ini melibatkan banyak provinsi. Mulai Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Jogjakarta.

Adapun pemilihan Candi Tegowangi sebagai lokasi karena tempat tersebut merupakan situs purbakala yang juga terdapat relief yang berkisah tentang Panji. “Panji ini cikal bakalnya dari Kediri,” ungkapnya.

Wahdan MY, penanggungjawab Festival Panji Internasional menyatakan bahwa dengan adanya festival Internasional ini harapannya agar Panji semakin populer. Tak hanya di kalangan orang manca negara. Justru pada generasi muda Indonesia. “Semua dunia tahu Panji milik Indonesia. Bahkan telah dicatat oleh UNESCO juga. Jadi generasi muda hendaknya malah lebih tahu,” paparnya.

Dalam serangkaian Festival Panji Internasional kemarin tak hanya menyajikan pagelaran wayang krucil saja. Juga ada acara penyucian diri atau ruwatan. Ruwatan langsung dipimpin oleh sang Dalang Harjito.

Prosesi ruwatan tak hanya diikuti oleh warga Kediri saja. Tapi juga oleh warga negara asing. Terutama para seniman yang akan tampil di rangkaian acara Festival Panji Internasional. Beberapa orang dari Thailand dan Vietnam terlihat diruwat.

“Ini sekaligus upaya penyucian kita berdoa bersama pada Tuhan Yang Maha Kuasa berharap perlindungan juga,” papar Harjito sebelum akhirnya membasuh kepala salah satu warga Thailand dengan siraman air bunga dan gelang genitri. (jpr)