In Memoriam: Dalang Nyentrik Ki Enthus Susmono

foto
Almarhum bisa menciptakan karakter wayang kontemporer. Foto: Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho.

Ki Enthus Susmono, bupati petahana Kabupaten Tegal yang juga dalang nyentrik, tutup usia pada Senin malam, 14 Mei 2018, sekitar pukul 19.15 WIB di RSUD Soeselo Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Setelah menjabat bupati saat periode pertamanya pada 2014-2018, saat ini suami dari Nur Laela itu mencalonkan diri kembali bersama wakilnya, Umi Azizah, dalam Pilkada Kabupaten Tegal.

Seperti dilaporkan Liputan6.com, pasangan Enthus-Umi diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan didukung empat partai lain, yakni Gerindra, PKS, PAN, dan Hanura. Dengan gabungan lima partai itu, artinya Enthus-Umi membawa gerbong partai yang memiliki jumlah 25 kursi di DPRD Kabupaten Tegal.

Berdasarkan dokumen pencalonan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tegal, ayah empat anak itu lahir di Tegal pada 21 Juni 1966. Maka itu, usianya kini nyaris 52 tahun.

Enthus menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tegal. Pada kurun waktu 1983- 1986, dia duduk di bangku SMA Negeri 1 Tegal.

Enthus juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Dia pernah menjadi Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal, dan Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU. Ki Enthus juga pernah aktif di lembaga bela diri Inkai dan Perisai Diri Kabupaten Tegal.

Wayang dalam hidup Ki Enthus sudah mendarah daging. Ia merupakan anak satu-satunya Soemarjadihardja, yang merupakan dalang wayang golek Tegal, dengan istri ketiga bernama Tarminah.

Dari garis keturunan ayah, kakek moyang Ki Enthus juga dikenal sebagai dalang ternama bernama RM Singadimedja yang sering dipercaya tampil pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Gemblengan sang ayah dan konsistensinya mendalami wayang tecermin dalam karyanya yang dikenal kreatif, inovatif, serta eksplorasi yang tinggi. Tak heran bila murid dari dalang kondang Ki Manteb Sudarsono itu dinilai sebagai salah satu dalang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Buktinya pada 2005, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Kemudian pada 2008, Ki Enthus mewakili Indonesia dalam Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya. Ki Enthus juga memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menyusun komposisi musik, baik modern maupun tradisional.

Selain banyolan dan kecakapannya menampilkan cerita pewayangan, Ki Enthus juga mahir menghidupkan suasana menjadi lebih atraktif dan bersemangat. Kekuatannya mengintrepretasi dan mengadaptasi cerita serta kejelian membaca isu-isu terkini membuat gaya berceritanya menjadi hidup dan interaktif.

Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artistik kelir menjadikannya lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur.

Sebagai dalang, ia selalu membawakan dua karakter wayang golek yang melegenda, Lupid dan Slentenk. Di mana pun ia tampil, ia selalu membawa dua ikon itu untuk menyampaikan beragam pesan, termasuk berbagai program pemerintah, kepada masyarakat seperti kampanye anti-narkoba, anti-HIV/AIDS, HAM, pemanasan global hingga pemilu damai.

Bagi Ki Enthus, mendalang bukan hanya media komunikasi isu-isu terkini, tapi juga sarana dakwah. Maka itu, ia aktif mendalang di beberapa pondok pesantren melalui media Wayang Wali Sanga.

Dikutip dari buku Ki Enthus Susmono, kemahiran dan kenakalannya mendesain wayang-wayang baru atau kontemporer seperti wayang George Bush, Saddam Hussein, Osama bin Laden, Gunungan Tsunami Aceh, Gunungan Harry Potter, Batman, wayang alien, wayang tokoh-tokoh politik, dan lain-lain membuat pertunjukannya selalu segar, penuh daya kejut, dan mampu menembus beragam segmen masyarakat.

Deretan kreasi wayang Ki Enthus terwujud dalam berbagai bentuk sajian wayang, seperti wayang planet (2001-2002), Wayang Wali (2004-2006), Wayang Prayungan (2000-2001), Wayang Rai Wong (2004-2006), dan Wayang Blong (2007). Museum Rekor Dunia Indonesia-pun (MURI) menganugerahi dirinya sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak, yakni 1.491 wayang.

Tak hanya itu, beberapa wayang kreasinya telah dikoleksi oleh beberapa museum besar di dunia, antara lain Tropen Museum di Amsterdam Belanda, Museum of Internasional Folk Arts (MOIFA)New Mexico, dan Museum Wayang Walter Angts Jerman. Semuanya tak lain dimuarakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat luas terhadap wayang, penajaman pasar, dan membumikan kembali wayang kulit di Tanah Air. (ist)

Kutuk Teror, Puti: Rakyat Jatim Tidak Takut!

foto
Puti Guntur Soekarno saat berdoa di acara Festival Sholawat Bunda Sahto. Foto: Istimewa.

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno mengutuk keras aksi terorisme yang menyerang sejumlah tempat ibadah di Surabaya, Minggu (13/5)lalu.

“Warga Jawa Timur tidak takut pada terorisme. Masyarakat Jatim adalah masyarakat pemberani yang sejak era penjajahan selalu berdiri di garis terdepan membela republik ini,” kata Puti.

Saat menghadiri Festival Sholawat Bunda Sahto di Ngantru Tulungagung, Puti mengajak ratusan ibu-Ibu anggota Muslimat dan Fatayat peserta festival menundukkan kepala untuk mendoakan korban teror Surabaya.

Selain itu, untuk berdoa agar kejadian yang mengoyak perikemanusiaan ini tidak terulang kembali.

“Tundukkan hati, untuk mengetuk langit dengan sholawat, berdoa kepada Allah SWT untuk mereka dan keselamatan kita semua,” tuturnya.

“Meski para korban beda keyakinan, tapi mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita,” tambah Puti.

Islam, kata dia, tak menoleransi segala bentuk aksi kekerasan. “Justru Islamlah yang harus merangkul, dan memberi rasa aman bagi umat lain,” tuturnya.

Teror yang diluncurkan para teroris hari ini, jelas Puti, tidak akan membuat masyarakat Jawa Timur mundur sejengkal pun untuk terus berjuang mewujudkan bangunan masyarakat yang makmur dalam keberagaman dan bahagia dalam harmoni.

Puti mengajak seluruh warga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk mendukung seluruh kekuatan negara guna memberantas segala bentuk aksi terorisme yang merongrong persatuan Indonesia.

“Para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat selalu bersama dan mendukung penuh semua kebijakan negara untuk melawan segala bentuk terorisme,” ujarnya.

Kepada para korban dan keluarga, Puti menyampaikan duka dan empati yang mendalam. “Kita berdoa sepenuh hati untuk mereka. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk korban dan keluarga,” ucapnya.

Pendamping Cagub Saifullah Yusuf ini mengatakan, negara harus memastikan bahwa kejadian di Surabaya adalah peristiwa menyedihkan terakhir yang terjadi berkaitan dengan tindakan terorisme.

Ke depan, Puti mengajak seluruh warga masyarakat mempererat tali solidaritas untuk tidak memberi ruang bagi tumbuhnya gerakan radikal. Sikap gotong royong dan saling memiliki harus terus dijaga dan ditumbuhkan di seluruh jiwa masyarakat.

“Satu warga Jatim terluka, kita semua merasa sakit,” ucap dia. (ist)

Langen Tayub, Tarian yang Memanggul Konten Rohani

foto
Pergelaran ‘Langen Tayub dan Musik Campursari’ dari Tuban. Foto: Istimewa.

Tari sebagai cara menghiasi dan memperkaya kehidupan itu penting. Di dunia kaum sufi ada tari sebagai bentuk ritual suci. Tari menjadi semacam pernyataan puji syukur tanpa kata-kata.

Setidaknya inilah makna yang tergambarkan ketika menyaksikan ‘Tari Tayub’ yang digelar pada acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (29/04).

Kesenian ‘Tayub’, adalah tari yang memanggul konten rohani; ekspresi ketulusan dan kejujuran. Tayub : “Ditata kanti guyub” (ditata hingga menyatu, selaras, serasi, seimbang). Artinya, melalui seni tari ini ada upaya pemberdayaan agar masyarakat makin bersatu dalam kebersamaan.

Gerak tidak hanya diberi arti dari sudut estetikanya, melainkan menemukan filsafatnya. Sebuah tarian pergaulan yang disajikan dalam rangka menjalin hubungan sosial masyarakat dalam kesetaraan.

Kesenian ‘Tayuban’ asal Tuban ini memang relatif populer, ketimbang kesenian serupa dari kota-kota lainnya, misalnya Tayub Blora, Tayub Tulungagung, Tayub Bojonegoro, Tayub Malang, Tayub Surabaya dan lain-lain.

Tayub Tuban memiliki ciri khas tersendiri. Dari busana penarinya, gending atau lagu, tempo musik yang lebih pelan, dan masih banyak kekhasan lainya,” terang Ariesman SE, salah satu seniman yang bertindak sebagai Penata Musik, Penata Tari, Penata Panggung, dan penyutradaraan ini.

Tayub di daerah Tuban, lanjut Ariesman, masih banyak diminati, terutama oleh masyarakat pedesaan. Masyarakat Tuban kerap memeriahkan pesta pernikahan dan sunatan, dengan mengundang kelompok Tayub sebagai hiburan. Bahkan secara eksklusif, masyarakat kerap memesan Waranggono (Sinden), yang digemari jauh sebelum acara.

“Karena larisnya kadang masyarakat bisa nunggu setahun baru dapat jadwal pentas Waranggono yang disukainya. Bahkan yang punya hajat sampai menyesuaikan jadwal pentasnya Waranggono,” ujarnya seperti dikutip Galamedianews.com.

Kesenian Tayub sudah ada sejak zaman Kerajaan Singosari, sekitar tahun 1200 M. Kemudian Tayub berkembang di Kerajaan Kediri dan Majapahit. Meski sudah ratusan tahun kesenian ini tetap bertahan hingga kini, walau ada sebagian orang pesimis kesenian ini makin terpinggirkan.

Kesenian Tayub adalah bentuk ritual ketika terjadi peristiwa penting. Cerita kedewatan (dewa-dewi), saat dewa-dewi mataya ( berjoget berjajar) dengan gerak yang guyub (serasi). Di masa para Wali (Wali Sanga), kesenian ini justru menjadi salah satu sarana dakwah, dengan berbagai pola tarian yang disesuaikan berdasarkan syariat Islam.

Kesenian Tayub terus berkembang menjadi tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. Digelar pada acara pernikahan, khitan, atau acara hari-hari besar, misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia, perayaan pemilihan Kepala Daerah, dan acara lainnya.

“Termasuk menjadi ajang festival, seperti Ritual Siraman Waranggono, yang rutin digelar di Tuban,” terang Titik Hariyani SE, Penata Kostum dan Rias, pergelaran Langen Tayub dan Musik Campursari dari Tuban ini menambahkan.

Ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban, Sunaryo SPd dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo SS MM.

Para Juri Pengamat, Juri Pengamat, Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII), dan Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), dan Munarno SE (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur), di Jakarta.

Pergelaran Langen Tayub dan Musik Campursari dari Kabupaten Tuban ini, menutup rangkaian acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, selama bulan April 2018. Bulan berikutnya, Anjungan Jawa Timur akan menampilkan paket acara khusus dari Kabupaten Madiun, Sabtu (05/05).

Sebagai bentuk penghormatan selama bulan suci Ramadhan tidak ada pergelaran. Setelah Idul Fitri Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, kembali digelar dengan menampilkan kesenian daerah dari Kabupaten Pacitan. (ist)

Lestarikan Budaya Lewat Festival Pertunjukan Rakyat

foto
Festival Pertunjukan Rakyat yang digelar Pemkot Surabaya. Foto: Humas Pemkot Surabaya.

Dalam upaya melestarikan budaya dan kesenian lokal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo), menggelar acara yang bertajuk Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura).

Acara yang dikemas dalam sebuah ajang pertunjukkan seni budaya ini, bertujuan untuk mencari bakat generasi muda dalam upaya melestarikan budaya dan kesenian lokal.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan bahwa saat ini eksistensi budaya lokal sudah semakin tergerus dan punah dengan datangnya budaya asing.

Maka dari itu, Pemkot Surabaya berupaya bagaimana agar budaya dan kesenian lokal tetap lestari. Salah satunya yakni melalui acara yang bertajuk Festival Pertunjukkan Rakyat.

“Melalui acara ini, kita ingin agar budaya kita tetap terus dilestarikan. Ini yang sebenarnya menjadi titik berat kami,” kata Agus, disela-sela acara Pertura yang bertempat di Balai RW II Kelurahan Medokan Semampir Surabaya, akhir pekan lalu.

Budaya asing secara tidak langsung akan mempengaruhi pola hidup maupun lifestyle masyarakat. Seperti yang dicontohkan Agus, saat ini anak-anak muda lebih cenderung meniru gaya Korea.

Mulai dari makanan hingga gaya berpakaian, pastinya hal ini akan berdampak juga pada perekonomian lokal. Karena anak-anak muda lebih cenderung untuk membeli produk ataupun makanan olahan dari luar.

“Maka dari itu, program Wali Kota Risma pada tahun 2016-2021 ingin bagaimana menguatkan karakter lokal Kota Surabaya,” imbuhnya.

Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini, menampilkan delapan kelompok seniman yang kemudian diadu dalam sebuah ajang pertunjukkan. Selain itu, berbagai dinas dan unit pelayanan di Surabaya juga tampak dihadirkan untuk memberikan pelayanan secara langsung kepada masyarakat.

Seperti pelayanan mobil keliling dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) yang memberikan pelayanan pengurusan KK maupun E-KTP. Hadir pula perpustakaan keliling dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya.

Disampaikan Agus, dengan turut serta dihadirkannya dinas terkait, Pemkot Surabaya ingin memberikan pelayanan jemput bola secara langsung kepada masyarakat. Disamping itu, cara ini dinilai cukup efektif dalam mengatasi berbagai problematika yang ada di sekitar masyarakat.

“Kita juga ingin berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melayani langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Acara yang berlangsung meriah tersebut, juga dihadiri Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan), warga sekitar, dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Surabaya larut melihat pertunjukan yang cukup menghibur ini.

Selain bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional, gelaran ini juga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian lokal dengan menghadirkan para pelaku UKM (Usaha Kecil Menegah).

Camat Sukolilo Surabaya Kanti Budiarti yang juga hadir ditengah-tengah masyarakat mengatakan selain pagelaran seni dan budaya, beberapa produk UKM turut pula dihadirkan dalam acara ini.

Sebanyak 20 UKM unggulan dari Kecamatan Sukolilo turut serta meramaikan event yang bertajuk Festival Pertunjukkan Rakyat ini.

“Selain beberapa produk UKM, kesenian jaranan dari warga asli Medokan Semampir juga turut kita kenalkan dan tampilkan disini,” kata dia.

Dengan adanya acara semacam ini, menurut Kanti, pastinya masyarakat sangat antusias untuk hadir. Secara tidak langsung dengan hadirnya para pelaku UKM, otomatis juga akan berdampak pada peningkatan omset penjualan produk mereka.

“Kalau ada festival semacam ini banyak dinikmati oleh warga. Tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak,” pungkas perempuan berkerudung ini. (ita)

Keindahan Budaya di ‘Blitar Goes to Los Angeles’

foto
Bupati Blitar Rijanto bersama Livi Zheng. Foto: Istimewa.

Blitar hanyalah salah satu kota kecil, yang terletak sekitar 167 kilometer barat daya Kota Surabaya, Jawa Timur di Indonesia. Namun, karena sejarahnya, potensi keindahan pariwisata, keragaman agama, dan budaya serta seninya, kabupaten ini dikenal hingga ke luar Indonesia. Bahkan, hingga Los Angeles, Amerika Serikat.

Melalui kemampuan sutradara berbakat Hollywood, Livi Zheng, yang berasal dari Blitar, sejarah, keindahan, keragaman agama, budaya dan seni kota yang dijuluki ‘1000 Candi’ itu, ditampilkan dalam sebuah karya film-nya berjudul ‘Blitar’.

Film yang mengangkat ‘Triangle Diamond’ atau tiga sudut pandang Berlian di kabupaten Blitar, yang terdiri dari Pantai Serang, Perkebunan Teh Sirah Kencong, juga Candi Penataran, premiernya ditayangkan di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (2/5) malam pukul 19.00 waktu setempat.

Tayangan film ‘Blitar’ ini seperti dilaporkan Balipost.com, melengkapi sebuah konser, pentas seni dan budaya dari tim kesenian Pemerintah Kabupaten Blitar, yang bertajuk ‘Amazing Blitar’.

Tim kesenian Pemkab Blitar ini tidak hanya mementaskan seni dan budaya masyarakat setempat, tetapi juga membawa pengunjung dan penonton di LA, AS, seolah ikut dan merasakan ritual, estetika dan keindahan panorama serta penghormatan sebuah bangsa atas sejarah kota yang pernah ditinggalkan oleh bangsa asing yang pernah menduduki Blitar.

Secara khusus, konser, pentas seni dan film premiere ‘Blitar’ memiliki nilai tersendiri karena langsung dihadiri oleh Bupati Blitar, Drs Rijanto yang membawa tim keseniannya sebanyak 17 orang. Mereka langsung membawa ‘oleh-oleh’ kisah dari tanah perjuangan, ritual, keindahan dan estetika serta keragaman kultur dan budaya Blitar yang menjadi ciri sebuah wilayah.

Salah satu seni budaya itu berupa sejumlah tarian di antaranya Tari Emprak, Tarian Remo dan Tari Jaranan di antara sejumlah tarian yang akan ditampilkan dalam Amazing Blitar. Tari Emprak yang dibawakan secara kolosal sebelumnya tercatat pernah dipentaskan di Eropa.

Sedangkan Tari Jaranan biasanya ditampilkan sebagai bagian dari kegiatan ritual atau upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat. Tarian ini melambangkan jiwa yang tangguh.

Tari ini dilaksanakan sampai para penari dalam keadaan ‘trance’, berjalan dan berguling di atas pecahan kaca tanpa terluka sedikit pun. Tarian Remo merupakan tarian selamat datang yang menyambut kedatangan para tamu di awal acara.

Uniknya, konser, pentas seni dan film premiere ‘Amazing Blitar’ dilaksanakan tepat pada tanggal 2 Mei lalu, yang di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pada tanggal tersebut, seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang terus berjuang dan memberdayakan bangsa Indonesia yang terbelakang akibat penjajahan kolonial untuk berpikir maju dan memiliki ilmu dan pengetahuan.

Kebetulan juga, Bupati Blitar Rijanto merupakan mantan Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten Blitar yang kemudian dipercaya menjadi Wakil Bupati, dan akhirnya menjadi Bupati Blitar.

Meskipun jauh dari Blitar, Livi dan Julia serta Bupati Rijanto ikut memberikan pendidikan mengenai sejarah dan seni mengenai sebuah kota bersejarah dan kaya dengan berbagai potensi alam, pariwisata dan seni budaya.

Kehadiran Bupati Blitar juga tak hanya sekadar menemani Tim Kesenian dan memimpin rombongan Pemkab Blitar ke LA, AS. Bupati Rijanto juga mendampingi Livi dan seorang bankir di AS, yang berasal dari Jawa Timur, Julia Gouw, menjadi dosen tamu di University of California Los Angeles (UCLA) bagian Asian Languages and Cultures.

Dalam kesempatan menjadi dosen mereka berbagi tentang keunggulan Blitar dan Indonesia, mulai dari potensi alam sampai potensi sumber daya manusianya.

Tak ketinggalan Livi Zheng juga menampilkan film garapannya yang berjudul ‘Blitar’. Mahasiswa yang diajarkannya itu berasal dari berbagai negara.

Saat sesi dialog, para mahasiswa sangat antusias mengetahui lebih jauh mengenai Blitar dan Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya berencana juga untuk berkunjung ke Blitar.

Selanjutnya, Bupati Rijanto dan Livi Zheng juga memenuhi undangan untuk menjadi narasumber di salah satu kelas musik ethnomusicology UCLA.

Topik pembahasan Livi dan Bupati adalah tentang kebudayaan dan kesenian Indonesia yang sebetulnya sudah mendunia. Contohnya, gamelan Indonesia sudah dipakai dalam film Star Trek, Avatar, dan Akira.

Konser, pentas seni dan film premiere Amazing Blitar juga semakin lengkap karena selain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, juga hadir di LA, AS, mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyo Dino Patti Djalal. Kedua tokoh ini bahkan mendukung Amazing Blitar dengan memberikan sambutan dan promosi.

Gubernur Anies yang pernah membuka premiere film Livi ‘Brush with Danger’ di Jakarta–film layar lebar Livi, yang masuk dalam seleksi nominasi Piala Oscar 2015– menyampaikan rasa bangganya atas karya tim kesenian Blitar.

Menurut Anies, pentas Amazing Blitar adalah salah satu upaya promosi budaya Indonesia di luar negeri yang sangat menakjubkan.

Ia berharap agar pentas dan premiere film ini bisa menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan AS. Adapun Dino Patti Djalal yang merupakan Founder Indonesian Congress of Diaspora menyatakan bahwa Livi Zheng adalah salah satu sutradara favoritnya dan yakin bahwa penonton akan menikmati acara ‘Amazing Blitar’, termasuk film ‘Blitar’-nya.

Lebih jauh, acara ‘Amazing Blitar’ selain diisi dengan sejumlah tarian nusantara, yang menunjukan kekayaan budaya Indonesia dan sekaligus menunjukan Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity, juga sambutan oleh Julia Gouw, selaku sponsor acara konser, pentas seni dan film premiere. Sambutan lainnya dilakukan oleh Konsul Jenderal RI di LA serta Bupati Rijanto. (balipost)

Hari Ini, Pesan Kebangsaan Guntur Soekarno Putra

foto
Puti Guntur Soekarno diapit ayah dan ibunya. Foto: Istimewa.

Sedikitnya 1.500 kalangan soekarnois, marhaenis dan nasionalis se-Jawa Timur bakal menegaskan dukungannya kepada pasangan Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno di Grand City Convention Centre Surabaya, Jumat (11/5).

Penegasan dukungan para pengagum Bung Karno itu disampaikan langsung di depan Guntur Soekarno Putra, yang juga ayahanda Puti Guntur Soekarno. Putra pertama Presiden pertama RI itu bakal hadir di acara Temu Kangen Barisan Soekarnois Jawa Timur bersama Guntur Soekarno Putra.

Informasi dari panitia, acara itu akan dihadiri 1.500-an tokoh dari eksponen barisan Soekarnois di Jawa Timur. Di antaranya dari elemen organisasi kaum nasionalis, budayawan, akademisi, elemen GMNI, dan kalangan relawan.

Ketua Tim Pemenangan Internal PDI Perjuangan untuk Gus Ipul-Mbak Puti, Ahmad Basarah, memastikan Guntur akan hadir di Grand City untuk bertemu dengan para pencinta Soekarno se-Jawa Timur.

“Sejak menghilang dari panggung politik nasional awal tahun 1970-an, baru kali ini Mas Tok (sapaan akrab Guntur) mau tampil lagi di hadapan publik,” kata Ahmad Basarah, Kamis (10/5) malam.

Politisi yang juga Wakil Ketua MPR RI itu menyebutkan, Guntur diagendakan akan menyampaikan pidato kebangsaan. Selain itu, Guntur juga bakal minta doa restu dan dukungan kepada masyarakat Jatim, khususnya kaum Soekarnois, atas pencalonan putri semata wayangnya, Puti di Pilkada Jatim 2018.

Sementara itu, Ketua Panitia Temu Kangen Barisan Soekarnois Jawa Timur Eddy Wahyudi mengungkapkan, pihaknya sudah mendapat kepastian antara 1.500 hingga 2.000 Kaum Soekarnois yang bakal hadir. Menurutnya, mereka terdiri dari 34 simpul organisasi yang berbasis nasionalis.

Mas Tok, jelas Eddy, ingin menyapa dan bertemu Barisan Soekarnois serta Front Marhaenis secara langsung. Gaya pidato Guntur yang mirip Bung Karno, sebut Eddy, akan mengobati rasa kangen kalangan nasionalis terhadap Bapak Pendiri Bangsa.

Sejak zaman orde baru, imbuh Eddy, Guntur jarang terlihat di muka umum. Padahal, imbuh Eddy, pria kelahiran Jakarta 3 November 1944 ini sempat diharapkan masyarakat bisa menggantikan Bung Karno sebagai pemimpin nasional. (sak)

Candi Badut ‘Lepas’ dari Pemkab Malang

foto
Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi, kewenangannya kini berada di Pemprov Jatim. Foto: Ist.

Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, secara resmi beralih status sejak dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Nomor 188/734/KPTS/013/2017 yang menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat provinsi.

Keputusan gubernur Jatim ini ditindaklanjuti dengan surat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim kepada bupati Malang tertanggal 11 April 2018.

Beralihnya status Candi Badut yang awalnya berada dalam pengelolaan Pemkab Malang melalui Perda No 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya tentu juga berdampak pada proses pengelolaannya sejak ada Keputusan Gubernur Jatim. Pengelolaan beralih dari tingkat pemerintah daerah ke pemerintah provinsi.

Dalam Perda No 11 Thn 2011 Pasal 75 dan 76 mengenai pendanaan dan pengawasan Candi Badut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah beralih ke pemerintah provinsi.

Seperti tercatat dalam Peraturan Gubernur Nomor 66 tahun 2015 tentang Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, khususnya di pasal 3 tentang tugas dan wewenang.

Salah satu poinnya menyatakan, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian cagar budaya. Serta, diikuti dengan frasa lain di poin (h) mengenai pengalokasian dana bagi kepentingan pelestarian cagar budaya.

Peralihan pengelolaan Candi Badut dari cagar budaya peringkat kabupaten menjadi provinsi diharapkan mampu menjadikan berbagai nilai yang terkandung menjadi semakin tersampaikan kepada khalayak umum secara utuh.

Baik mengenai sejarah, struktur candi yang diperkirakan ditemukan oleh pakar arkeologi tahun 1923 tersebut serta hal lainnya. Selain tentunya keberadaan fisik candi yang juga disebut Candi Liswa ini semakin terjaga.

“Untuk mencapai hal itu, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang benar memahami hal tersebut. Terutama di tataran juru kunci candi yang secara regenerasi belum terlihat ada pergerakan masif. Ini yang kita harapkan kepada pemerintah provinsi setelah Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi,” kata Made Arya Wedanthara, Kadisparbud Kabupaten Malang dikutip MalangTimes.com.

Made Arya melanjutkan, juru kunci candi memiliki peran vital dalam pelestarian cagar budaya, khususnya yang ada di Kabupaten Malang.

Dengan adanya peralihan status tersebut, pihaknya berharap banyak adanya berbagai program dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan SDM dan hal lainnya berkaitan dengan situs tersebut.

“Kita mengetahui juru kunci candi sudah sepuh-sepuh (tua, red). Sedangkan geliat pariwisata trennya semakin meningkat. Tentunya membutuhkan anak muda yang memahami dan mampu menyampaikan sejarah serta hal lainnya secara lengkap kepada masyarakat atau wisatawan nantinya,” ujarnya.

Candi Badut menempati luas lahan sekitar 52,4 x 52,4 meter. Ukuran bangunan panjang dan lebar 11 m dan tingginya 3,62 m. Untuk deskripsinya, Candi Badut terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman inti yang masuk sebagai tempat cagar budaya, serta halaman II dan III.

Berbahan dasar batu andesit dan menghadap ke barat yang ditandai dengan pintu masuk pada sisi barat bagian candi. Sedangkan untuk bagian tubuh candi terdapat relung-relung sebagai tempat arca yang kini hanya berisi arca Durga Mahasasuramardini di relung sebelah utara. Pada bilik candi terdapat lingga yang masih utuh, sedangkan yoni sudah rusak. (ist)

Mbak Puti Soal Rumah BK yang Tinggal Pondasi

foto
Puti Guntur Soekarno saat berada di pondasi rumah yang pernah ditempati Bung Karno. Foto: Istimewa.

Sebagai cucu Bung Karno, setiap kampanye ke berbagai daerah di Jawa Timur, Cawagub Puti Guntur Soekarno selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang terkait erat dengan eyangnya, Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.

Seperti saat ke Jombang pertengahan April lalu, Puti Guntur mendatangi rumah yang dulunya pernah ditempati Bung Karno saat masih muda. Rumah tersebut terletak di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso.

Tidak seperti bekas tempat tinggal Bung Karno muda di Ndalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri yang sekarang masih berdiri dan terawat dengan baik. Di Ploso Jombang, bekas rumah pendiri republik ini, sekarang tinggal pondasinya dan sudah ditumbuhi tanaman.

Kus Hartono, seorang sejarawan yang mendampingi Mbak Puti di Rejoagung mengatakan, dulunya Kusno (nama Bung Karno saat masih bocah) pindah dari Surabaya ke Jombang sekitar Desember 1901. “Kusno pindah ke Jombang karena ikut ayahnya, Raden Sukemi yang dipindahtugaskan mengajar ke Ploso sini,” jelas Kus Hartono.

Kusno sendiri tinggal di rumah tersebut sampai tahun 1905 dan sempat belajar mengaji kepada KH Abdul Mukti, pengasuh Ponpes Kedungturi. “Dari rumah ini juga penggantian nama Kusno ke Soekarno digagas walaupun resmi digantinya di kota lain,” tambah Kus.

Dia berharap, dengan kedatangan Mbak Puti di kemudian hari ada perhatian lebih kepada rumah tersebut. Misalnya dibuat monumen cagar budaya yang menunjukkan di tempat itu dulunya terjadi peristiwa penting.

Selain di Jombang, Kusno atau Bung Karno pernah tinggal di Ndalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri. Di sini, Bung Karno punya ayah angkat, namanya RM Soerati Soemosewojo.

Di masa muda Kusno sering sakit, sehingga ayah angkatnya mengganti namanya menjadi Soekarno. “Perubahan nama itu dilakukan di Ndalem Pojok,” ungkap kata Kus Hartono.

Sementara itu, Puti Guntur pun berharap bekas rumah Bung Karno di Ploso, Jombang, lebih diperhatikan. “Saya akan sampaikan ini ke Yayasan Bung Karno, karena mereka juga memperhatikan napak tilas dan peninggalan-peninggalan Bung Karno,” katanya. Selain itu Mbak Puti juga berharap Pemkab Jombang lebih memperhatikan rumah peninggalan Bung Karno tersebut. (ist)

Potensi Menakjubkan Geopark di Bojonegoro

foto
Potensi geopark Watu Gandul di Bojonegoro. Foto: Okezone/Avirista.

Selain Bukit Tono, Desa Sambongrejo yang terletak di lereng perbukitan Kendeng Selatan ini memiliki satu objek wisata lain yang juga unik. Objek wisata Watu Gandul namanya, berasal dari bahasa Jawa, ‘watu’ berarti batu, sedangkan ‘gandul’ berarti menggantung.

Ya, objek wisata Watu Gandul ini memang terletak seolah-olah menggantung dari daratan. Meski demikian, tak berarti menggantung sepenuhnya namun batu tersebut menggantung di bagian bukit tanpa menyentuh batu di bagian bawahnya.

“Watu Gandul ditetapkan sebagai geopark oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro melalui surat keputusan,” ungkap Kepala Desa Sambongrejo, Eko Prasetiono saat ditemui di Bojonegoro, baru-baru ini.

Terletak di Dusun Kaliasin, Desa Sambongrejo, batu jenis andesit yang terletak di perbukitan Desa Sambongrejo ini menampilkan pemandangan yang eksotis. Deretan perbukitan dengan batuan andesit terhampar berpadu dengan deretan hutan dan persawahan nan hijau.

Tentu yang menarik dari tata letak watu gandul ini yakni batu di atas yang terletak di atas batu besar. Batu tersebut seolah tertata menyerupai sebuah gapura menyambut pengunjung yang datang.

Perpaduan warna batu dengan akar-akaran pohon yang menjulur panjang dan pepohonan hijau di sekitar batuan membuat spot yang diciptakan Tuhan ini sangat kece dan terlihat menakjubkan.

Namun disarankan bila ke sini, saat memasuki musim kemarau, mengingat saat musim hujan medan menuju ‘Watu Gandul’ ini didominasi tanah dan jalanan terjal berbatuan.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Watu Gandul pun tak perlu mengeluarkan biaya tiket masuk karena oleh pihak désa selaku pengelola belum ada tarif resmi yang diberlakukan kepada wisatawan.

“Kita belum pasang tarif tiket. Ini masih proses pengembangan sejak dikenalkan tiga tahun lalu,” tambah Eko.

Ia menambahkan pengembangan ini masih perlu dilakukan terutama untuk menyediakan akses jalan yang layak dan pengelolaan yang lebih profesional. Ia juga mengimbau warga terutama pemuda desa untuk lebih menjaga anugerah Tuhan yang diberikan ke Desa Sambongrejo ini.

Mengingat selama ini kesadaran dari masyarakat untuk menjaga masih kurang. “Kendalanya masyarakat terutama pemuda sulit diajak maju karena terkendala SDM. Padahal Pokdarwisnya (Kelompok Sadar Wisata) sudah dibentuk. Tapi pengelolaannya belum maksimal,” keluhnya.

Meski demikian dengan potensi yang ada bukan tak mungkin Watu Gandul yang telah ditetapkan sebagai geopark bisa menjadi wisata andalan Gondang dan Bojonegoro.

Jika Anda tertarik menjelajah potensi Desa Sambongrejo, Anda dapat menuju arah Jalan Raya Bojonegoro-Nganjuk melalui rimbunnya hutan jati di kawasan Temayang dan Gondang. Sesampainya di pertigaan terminal Gondang anda dapat mengambil jalan lurus menuju pusat kecamatan Gondang.

Dari pertigaan tersebut jarak Desa Sambongrejo dapat ditempuh dengan jarak 6 km atau dengan waktu tempuh 15 menit. Jadi tak ada salahnya kalau berada di Bojonegoro menikmati petualang di wilayah selatan. Selain potensi alamnya yang eksotis, Anda akan disuguhi keramahan masyarakat dan eksotisme budaya. (ist)

Mbok Temu Misti, Sang Maestro Tari Gandrung

foto
Maestro tari, Temu Misti di kediamannya Desa Kemiren, Banyuwangi, Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.

Temu Misti (65), warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah maestro tari Gandrung yang tetap melestarikan tari Gandrung selama 50 tahun lebih. Perempuan sederhana tersebut sudah menjadi Gandrung sejak tahun 1968 ketika berusia 15 tahun.

Kepada Kompas.com, Jumat (21/4/2018), perempuan yang terkenal dengan panggilan Gandrung Temu tersebut bercerita jika dia terlahir dengan nama Misti dan dibesarkan oleh Khatijah, bibinya yang tidak memiliki anak.

Saat usianya 1 tahun, Misti menderita sakit panas dan dibawa ke rumah seorang dukun untuk disembuhkan. Sepulang dari dukun, Misti kecil dan ibu angkatnya mampir ke rumah Mak Tiah, seorang juragan Gandrung dan saat itu memberi makan Misti dengan nasi panas.

“Saat itu Mak Tiah bilang kalau saya sembuh harus diganti nama dengan Temu dan jika besar akan jadi penari Gandrung. Karena sembuh, akhirnya nama saya menjadi Temu Misti. Saat saya kelas 5 SD, Mak Tiah datang ke rumah untuk meminta saya menjadi penari Gandrung. Tapi ibu menolak karena saya masih kecil,” kata Gandrung Temu.

Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut pertama kali tampil sebagai Gandrung ketika Sutris, seorang juragan Gandrung memintanya untuk bergabung.

Temu pun akhirnya luluh setelah dibujuk oleh Mak Tijah, kakak ipar ibunya yang juga tukang rias Gandrung. Temu yang selama ini belajar secara otodidak dengan memperhatikan penari Gandrung di dekat rumahnya akhirnya tampil di hadapan penonton sebagai Gandrung profesional untuk pertama kalinya. “Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu,” ceritanya sambil tertawa.

Pada tahun 1970-an, menurut Gandrung Temu, adalah puncak kejayaan kesenian Gandrung. Hampir tiap malam, dia selalu tampil untuk menghibur para penonton.

Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya dia tidak pulang dan berkeliling menari bersama grup Gandrung-nya. Bukan hanya di sekitar rumahnya, bahkan hingga ke wilayah Banyuwangi Selatan dan luar kota Banyuwangi. Dalam satu bulan, jadwal menari Gandrung Temu minimal 20 malam.

“Waktu itu dikenal dengan grup Gandrung Temu. Ya itu namanya. Belum ada nama kayak sekarang. Saya pernah tampil sampai ke selatan sana. Jalan kaki terus naik perahu. Ya alat-alatnya dibawa. Dulu kan masih sederhana alatnya dan nggak banyak kayak sekarang,” ceritanya.

Bahkan pada zaman dulu, Gandrung Temu saat menyanyi tidak menggunakan pengeras suara, hingga dia memaksimalkan suaranya. Bahkan untuk melatih napas, dia berendam dan tenggelamkan kepala dalam beberapa menit.

“Jika nggak dilatih gitu, suara saya ya kalah sama panjak atau pemain musik dan penontonnya nggak akan dengar. Pertama nyanyi, besoknya suaranya habis,” kenangnya sambil tertawa.

Pada tahun 1980-an, suara emas Gandrung Temu direkam oleh Smithsonian Folkways, Amerika Serikat dan album “Song before Dawn” yang berisi suara Gandrung Temu dirilis pada tahun 1991. Penari Gandrung asal Jakarta, Bali dan Semarang saat acara meras gandrung di Desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurutnya, ada 11 lagu Gandrung yang saat itu direkam antara lain Delimoan, Chandra Dewi dan Seblang Lukinto. Dia mengaku hanya dibayar Rp 250.000 tanpa ada kontrak kerja sama. Selain itu, dia hanya mendapatkan sampul album Songs Before Dawn yang di pigura dan sempat dipajang di dinding rumahnya.

Selama bertahun-tahun, dia tidak mengetahui jika suara emasnya dijual di sejumlah situs bisnis di Amerika dan Eropa.

“Saya nggak mau bahas itu. Biar saja. Dulu janjiannya direkam untuk kegiatan penelitian tapi saya sempat dengan katanya dijual. Yang penting saya bisa menghibur banyak orang. Saya nggak masalah nggak dapat apa-apa. Tuhan tidak tidur,” jelasnya.

Gandrung Temu sempat berhenti menjadi Gandrung ketika dia menikah di usia 18 tahun. Namun pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. Dia kembali menikah pada tahun 1977 namun kembali lagi bercerai karena suami keduanya cemburu dan suka memukul.

Suaminya yang ketiga bernama Adis dan mereka menikah pada tahun 2014. Mbok Temu sendiri tidak memiliki anak, namun dia mengasuh keponakannya yang saat ini duduk di SMA Luar Biasa Banyuwangi.

“Tidak semua orang bisa punya anak tapi saya seneng bisa ngangkat anak dan menyekolahkan hingga SMA. Dia tuna wicara, tapi saya pernah menganggap dia anak angkat,” katanya.

Pada tahun 1982 dia membuka toko kelontong kecil di depan rumahnya dan akhirnya tutup pada tahun 2006 karena penghasilannya sebagai Gandrung berkurang dan modal tidak berputar. Masa kejayaannya meredup awal tahun 2000-an.

Semakin lama, panggilan tanggapan untuk menari semakin sepi karena kalah dengan dangdut electone. Bahkan Gandrung Temu pernah tidak mendapatkan job sama sekali dalam sebulan. Ia kemudian banting setir mengurusi sawah dan memelihara ayam di belakang rumahnya yang sederhana untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Ayam-ayam peliharaannya tersebut dijual jika ada warga yang akan membuat pecel pitik untuk selamatan. Namun saat ini ayam kampung peliharaannya tinggal 25 ekor karena banyak yang mati karena diserang penyakit.

“Kalau dulu kan buat pecel pitik hanya selamatan atau lebaran sekarang hampir tiap hari ada yang buat karena banyak wisatawan yang datang. Jadi belinya ke saya. Walaupun nggak banyak ya disyukuri saja,” ceritanya.

Selain itu, dia juga mengajari anak-anak menari Gandrung di halaman rumahnya setiap hari Minggu. Bahkan dia juga telah melatih dan mencetak para penari Gandrung profesional seperti dirinya.

Pada tahun 2015, Gandrung Temu sempat menari dan tampil di Jerman mewakili budaya Banyuwangi dan sempat beberapa kali tampil di Jakarta untuk misi kebudayaan.

“Menjadi Gandrung itu nggak gampang. Kita harus bisa jaga diri karena tampil di hadapan orang. Kalau dulu jarak penari dengan penonton bisa satu meter bukan kayak sekarang yang deket-deketan malah kadang saya risih melihatnya,” katanya.

Pada tahun 2015, rumah Gandrung Temu juga menjadi jujugan 15 pelajar dari seluruh Indonesia belajar tari Gandrung pada maestro. Mereka mendaftar secara online pada Kegiatan Belajar bersama Maestro di Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Selain Gandrung Temu, ada 10 maestro tari di Indonesia yang menjadi tempat belajar para pelajar. Penari nasional Didik Nini Thowok juga pernah belajar menari Gandrung ke Mbok Temu, maestro tari Gandrung asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Didik berkunjung ke rumah Mbok Temu yang berada di Desa Kemiren, Desa Glagah, Banyuwangi pada Mei 2017. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, Gandrung Temu masih tetap menerima orderan untuk tampil sebagai Gandrung dan telah memiliki grup Gandrung dengan nama “Sopo Ngiro”.

Namun dia tidak menari sendiri tapi mengajak minimal dua orang Gandrung muda untuk tampil dengannya.

“Gandrung itu bukan hanya bisa menari tapi juga harus bisa bernyanyi serta menghibur penonton semalam suntuk tanpa harus merendahkan diri kita sendiri. Kalau ditanya sampai kapan saya jadi Gandrung ya sampai saya nggak kuat lagi. Menjadi Gandrung itu sudah takdir dan saya nggak mau nanti Gandrung hilang dari Banyuwangi. Semampu saya akan terus saya ajarkan Gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” katanya. (ist)